Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 68 Lawan Berkawan


__ADS_3

Siang itu, Emma merasa lega setelah menyelesaikan ujian akhirnya dengan baik, menurutnya. Selama ini, Emma telah berjuang keras untuk memberikan jawaban terbaiknya saat menghadapi ujian tertulis itu.


"Emma!" panggil Ryan tiba-tiba, dari lorong kantin yang tak jauh dari tempat Emma berada.


"Hai!" sambut Emma dengan senang, karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan Ryan setelah sekian lama. Sepertinya benar, waktu memang obat terbaik. Skandal heboh tentang Ryan menghilang seiring berjalannya waktu, dan ketika Ryan, yang telah berlibur selama tiga bulan di luar negeri, kembali ke Indonesia, semua orang sudah melupakan skandal tersebut. Mereka sudah tidak lagi mencari tahu identitas gadis yang ada di hotel bersama Ryan beberapa waktu yang lalu.


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Ryan berbasa-basi, kulitnya tampak menghitam karena sengatan matahari. Sepertinya, ia telah menghabiskan masa liburan di pulau tropis yang membuat kulit tubuhnya berubah menjadi gelap.


"Aku baik, dan kamu? Tampaknya, bersenang-senang ya?" goda Emma sambil menunjuk-nunjuk seluruh lengan dan punggung tangan Ryan yang menghitam.


"Haha.. Benar. Aku pergi ke Hawaii, Emma. Seru sekali loh disana, mau ke sana kapan-kapan?" ajak Ryan sambil mengerling. Emma langsung menggeleng. "Tidak, Ryan. Aku lelah berjalan-jalan dengan selebriti sepertimu. Sangat tidak memiliki privasi," tukas Emma merasa trauma atas kejadian beberapa waktu lalu.


"Haha.. Iya, Maaf. Eh, bagaimana kabar Om Lukas? Kalian juga sepertinya belum mengumumkan pernikahan kalian ke publik ya? Nggak takut kalo si Lukas punya selingkuhan?" tanya Ryan mencoba menggoda Emma. Meski ia tahu, Lukas tidak mungkin melakukannya. Lukas lebih memilih olahraga dan uang, daripada bersenang-senang dengan wanita, begitulah menurut pengamatannya selama ini di lingkungan sosial elit mereka. Lukas terkenal ambisius dengan proyek dan tidak peduli dengan godaan para wanita. Ia seperti pangersn es yang tidak memiliki gairah pada godaan lawan jenis. Para gadis seakan menyerah untuk menarik perhatiannya.


"Eum. Memangnya penting? Apakah menikah saja tidak cukup?" tanya Emma polos. Bagi Emma, yang terpenting adalah kehalalan hubungan mereka, bukan perayaan ataupun pengakuan dari orang lain.


"Eiy... Penting sekali kalau suamimu itu Lukas! Kau harus menandainya sebagai milikmu. Biar orang lain tidak merebutnya," cetus Ryan sambil tersenyum.


"Orang kaya memang ribet ya.... " protes Emma seakan tidak mengerti dengan cara berpikir para konglomerat. "Baiklah, aku akan menanyakannya pada nenek," kata Emma kemudian.


"Nah, begitu. Nyonya Han ada di Indonesia? Kudengar, ia di Hawaii beberapa waktu lalu," tanya Ryan tampak terkejut.


"Iya, nenek baru pulang dari Amerika. Apakah kau bertemu dengannya?" tanya Emma penasaran.


"Iyalah. Aku bahkan memberinya surat kabar yang ada fotoku dan fotomu, Hahahah..... " ujar Ryan seakan memecahkan misteri yang selama ini menghantui Lukas dan Emma.


"Astaga!?? Jadi itu ulahmu! Ryan!??" pekik Emma merasa tak terima. "Dasar rubah licik!" hujatnya kemudian.

__ADS_1


"Eiy! Jangan begitu lah. Biar Om Lukas kena omel. Tidakkah itu ide yang bagus?" tanya Ryan masih terpingkal. Rupanya, rencananya berhasil dengan baik.


"Huh! Dasar kamu!" gerutu Emma sambil memonyongkan bibirnya. Namun, waktu bincang mereka terputus oleh panggilan darurat dari Roy, ajudan Lukas yang meminta Emma untuk segera menuju ke kediaman.


"Eh, Ryan. Aku pulang ya. Lukas mencariku. Kapan-kapan, kita makan bareng, okay? Tentu saja bersama suamiku," tutur Emma sambil melambaikan tangannya.


"Baiklah," sahut Ryan membalas lambaian tangan Emma. "Adios, Mi Amor," gumamnya kemudian, sambil melangkahkan kaki ke kantin dan memesan secangkir kopi. Ryan merasa lega melihat perubahan ekspresi Emma. Meski gadis itu tidak membicarakan soal hubungan rumah tangganya, Ryan dapat menilai bahwa kali ini hubungan Emma dengan suaminya berjalan baik. Kini, saatnya Ryan menjauh dan mengucapkan selamat tinggal pada obsesi cintanya untuk Emma.


......................


"Roy!! Apa yang terjadi??" tanya Emma setengah terkejut, melihat Lukas terbaring lemah di ranjang mereka dengan tusukan infus yang menancap pada punggung tangannya.


"Nyonya, Tuan mengalami reaksi penolakan ramuan penawar," jelas Roy mendahului dokter yang sedang berada di sebelah Lukas.


"Benarkah begitu, Dokter?" tanya Emma ingin memastikan pendapat medis dari sang dokter.


"Benar, Nyonya. Kondisinys kritis," ucap sang dokter yang membuat Emma mulai gemetar. Ia berjalan perlahan menuju ke arah suaminya dengan langkah gontai. Bagaimana mungkin lelaki yang tadi pagi masih baik-baik saja, bisa tergeletak tanpa daya seperti ini?


"Maaf, Nyonya. Belum ada respon sejak tadi. Sebaiknya, kita tunggu saja dan biarkan tuan memulihkan diri terlebih dahulu," ucap sang dokter kemudian pamit untuk kembali ke rumah sakit.


Emma tertegun. Ia merasa menyesal telah meninggalkan suaminya untuk ujian, tadi pagi. Seharusnya Emma menemani Lukas ketika akan uji coba ramuan penawar dan memastikan bahwa hal itu baik-baik saja. Emma benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.


"Huu... Huu... Hu... Hiks..." Emma menangis melihat Lukas yang bahkan tidak mampu membuka matanya. "Sayang, jangan tinggalkan aku," pintanya dengan suara pilu.


Untungnya, Nyonya Han sedang menjalani perawatan kemoterapi di rumah sakit. Jika saja Nyonya Han melihat Lukas, yang biasanya tegar seperti beton tanpa cela, terbaring lemah seperti ini, pasti ia akan langsung pingsan.


Emma meraih tangan Lukas dengan penuh kekhawatiran. Hatinya penuh dengan penyesalan dan kegelisahan. Dia merasa sangat bersalah karena tidak ada di samping suaminya saat ia membutuhkannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Lukas. Aku seharusnya ada di sampingmu saat itu," bisik Emma dengan suara lembut, air mata masih mengalir di pipinya. "Aku menyesal telah meninggalkanmu sendirian," ucapnya dengan suara lirih.


Emma mengelus wajah Lukas dengan lembut, berharap ia bisa merasakan kehadirannya dan mendapatkan kekuatan darinya. Emma berjanji akan berada di samping Lukas setiap saat, untuk memberikan dukungan dan cinta tanpa syarat. Emma mendekatkan wajahnya ke arah Lukas dan mencium keningnya. Air mata tampak membasahi wajahnya, mengalir hingga mencapai wajah Lukas. Namun, pria itu tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tubuhnya masih tidak bisa merespons apapun.


Tiba-tiba, Roy muncul di ambang pintu dengan wajah khawatir. "Nyonya, Non Yuki ingin bertemu," ucapnya pelan. Emma mengangkat wajahnya sejenak, mencoba mengatasi kelelahan dan kesedihannya.


"Baiklah, aku akan segera kesana," jawab Emma dengan suara lemah, mencoba mengumpulkan kekuatan dalam dirinya. Dia berharap pertemuan dengan Yuki dapat menjelaskan situasi yang tadi dialami oleh suaminya.


......................


"Nyonya, Tuan Lukas mengalami reaksi penolakan terhadap ramuan yang saya buat tadi pagi. Hhhh... Saya minta maaf, seharusnya saya lebih teliti," ucap Yuki dengan nada formal, karena ia belum begitu mengenal Emma secara dekat.


"Bagaimana dia bisa siuman, Yuki? Apa ada yang bisa kita lakukan?" tanya Emma khawatir. Tidak biasanya Emma melihat suaminya terbaring lemah seperti ini. Emma merasa tidak siap jika Lukas tiba-tiba pergi meninggalkannya ke alam lain. Pikiran itu membuat hati Emma hancur.


"Saya perlu mengetahui campuran lain dalam teh tersebut untuk menentukan zat reaktan yang mempengaruhi ramuan penawar," jelas Yuki dengan tekad kuat. Dia ingin melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait komposisi teh dan mengidentifikasi zat-zat yang berperan dalam reaksi yang terjadi. Jika itu hanya tanaman Macadonia, seharusnya, ramuan penawar akan berhasil dengan baik. Sepertinya, ada zat kompleks yang mempengaruhi senyawa tersebut sehingga menimbulkan reaksi penolakan.


"Jika ada campuran lain, aku tidak tahu," sahut Emma dengan kegelisahan. Bukan dia yang membuat teh herbal itu, jadi tentu saja Emma tidak mengetahui apa pun perihal kandungannya.


Tiba-tiba, Roy menyela pembicaraan mereka. "Sepertinya saya bisa membantu," ucapnya dengan keyakinan.


Emma dan Yuki memandangi Roy dengan harapan. "Benarkah?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Ya, serahkan saja padaku," kata Roy dengan tenang. Ia kemudian beranjak dari mansion untuk menuju ke penjara rahasia, dan membawakan hasil dari pertanyaan Yuki dan Emma dengan segera.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2