Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 55 Penjara Rahasia


__ADS_3

Askara melaju dengan cepat menuju ke penjara rahasia milik keluarga Arthagraha, tanpa menunggu hari berganti. Ia memacu kendaraannya mendekati gorong-gorong kota di ujung barat Hains Tower, yang tidak terlalu jauh dari kafe tempatnya bertemu dengan Olivia. Sesuai saran wanita itu, menyusup dari luar gedung akan lebih efisien daripada membuat keributan di dalam.


Sekuat apapun fisik Askara, ia tentu akan tumbang juga jika kalah jumlah dan ditekan oleh pasukan bersenjata. Askara belum memiliki bala bantuan, dan misi ini juga tidak termasuk dalam kategori A1, sehingga, ia akan bergerak secara mandiri tanpa harus dibantu oleh rekan lain yang saat ini bersiaga di markas mereka.


Askara kemudian memarkir mobilnya di area supermarket agar tidak mencurigakan. Ia lantas berjalan perlahan, sambil memperhatikan denah yang digambarkan oleh Olivia. "Oh, rupanya penjara itu tersembunyi di bawah rubahan Hains Tower," gumam Askara pelan. Dengan hati-hati, ia melintasi akses gorong-gorong yang menghubungkan lorong tersebut dengan pintu masuk rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang Arthagraha.


Setelah melewati lorong sempit dan gelap, Askara tiba di sebuah pintu berat yang terkunci rapat. Ia menggunakan beberapa kunci dan besi untuk membuka paksa pintu tersebut tanpa menarik perhatian. Setelah pintu berhasil terbuka, sebuah koridor misterius tampak terbentang di depannya. Askara masuk ke dalam koridor dengan langkah cepat namun tetap tenang. Pencahayaan yang redup menciptakan suasana yang mencekam. Setelah melangkah sejauh kira-kira lima puluh meter, Askara melihat sejumlah sel yang berbaris di kedua sisi koridor. Setiap sel memiliki pintu besi yang kuat dan jendela kecil yang tertutup rapat.


Tak lama kemudian, Askara menemukan sebuah sel yang berbeda dari yang lainnya. Pintu besi sel itu terbuka, dan ruangan di dalamnya terlihat kosong. Namun, ada bekas-bekas rantai di dinding dan lantai yang mengindikasikan bahwa seseorang pernah terikat di sana. "Darahnya masih setengah basah. Apakah ada tahanan yang kabur?" tanyanya dalam hati. Askara lalu mengikuti jejak darah yang tampak membentuk garis lurus, tak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah beberapa saat, ia mendengar suara napas terengah dengan aroma asing yang menusuk hidungnya. Suara gemerincing rantai, membuat keberadaan tahanan itu menjadi tampak jelas.


"Kau! Berhenti!" hardik Askara, melihat tahanan tersebut kabur setelah menyadari kehadirannya. Ia berlari dengan cepat, seperti seekor rusa. Askara agak kewalahan dibuatnya, namun, dengan sigap, tangannya meraih rambut panjang sang tahanan yang berkibar, sehingga ia langsung terjatuh.


"Aduh! Tolong! Jangan bunuh saya!" teriaknya gemetar ketakutan. Askara langsung membekap mulut gadis tersebut agar tak menimbulkan kegaduhan. "Diamlah! Aku datang untuk menyelamatkanmu! Bukan membunuhmu!" ujarnya menenangkan Sarah yang sudah tidak lagi memberontak. Askara mengenali wajah Sarah, meski koridor itu hanya diterangi lampu yang temaram. "Benarkah?" bisiknya tak percaya. "Benar! Aku dikirim oleh Lukas, temanmu," ucap Askara mencoba meyakinkannya. Misi pencokokannya berubah menjadi misi penyelamatan, entah mengapa. Askara tak punya pilihan. "Ikut aku! Jangan berisik!" bisiknya pelan, karena mereka akan segera keluar dari penjara ini dengan cepat.


Sarah akhirnya mengikuti langkah Askara dengan patuh, tanpa perlawanan. Ia memang berencana untuk kabur, setelah berusaha membuka borgolnya dengan besi yang tak sengaja ditemukannya di dekat sel. Sarah kabur dari Askara karena mengira ia adalah penjaga penjara. "Cepatlah," bisik Askara agar Sarah mempercepat langkahnya.


Sinar matahari mulai memancar dari arah jalan keluar. Beberapa saat lagi, Askara dan Sarah akan mencapai mulut gorong-gorong yang sebelumnya merupakan pintu masuk rahasia. Namun, tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Dalam keadaan panik, Askara dan Sarah saling memandang, menyadari bahwa mereka harus segera mencari tempat persembunyian. Jangkauan pintu keluar masih agak jauh, jika mereka memaksa, maka pintu itu bisa saja diblokir oleh para penjaga. "Kita harus sembunyi dulu," bisik Askara pada Sarah. Gadis itu mengangguk paham, dan mengikuti langkah Askara dengan perlahan.


Krieeet....


Pintu utama terbuka dengan pelan, seorang penjaga tampak sedang memasuki koridor dengan penuh kecurigaan. Ia melangkah perlahan menyusuri sempitnya jalan antarsel itu dengan kewaspadaan. Matanya yang tajam memindai setiap sudut ruangan dengan teliti. Askara dan Sarah bersembunyi di balik salah satu pintu sel sambil menahan napas, berharap tidak terdeteksi oleh penjaga yang sedang berpatroli.

__ADS_1


Nahas, penjaga tersebut berhenti tepat di depan sel tempat mereka bersembunyi. Detak jantung Askara semakin kencang, begitu pula Sarah. Kesunyian koridor sangat mencekam, bahkan, Askara dan Sarah khawatir, degupan jantung mereka dapat terdengar oleh penjaga yang jaraknya hanya beberapa langkah saja. Sarah menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan suaranya yang hampir mengeluarkan jeritan.


Tak disangka, penjaga itu menoleh ke arah pintu sel. Mata mereka bertemu. "Sial!" pekiknya sambil meraih pistol yang belum terkokang. Dalam sekejap, situasi menjadi kacau. Penjaga itu langsung mengarahkan senjatanya dan menembak ke arah mereka.


DOR!


Sebuah peluru menembus celah pintu besi yang sedari tadi menjadi tempat persembunyian mereka.


"Cepat! Lari!" seru Askara. Beruntung, peluru menyasar ke pintu besi, dan bukan tubuh mereka. Dengan cekatan, Askara segera merebut senjata penjaga itu dan memukulnya dengan telak. Sarah memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari keluar dari sel dan berlindung di balik tembok.


Kegaduhan yang baru saja terjadi itu mengundang suara sirine yang meraung-raung, menyiarkan keadaan darurat, sehingga tampak rombongan penjaga lain berderap merangsek masuk ke pintu utama koridor. "Cari dan bunuh penyusup itu!" perintah kepala keamanan pada anak buahnya yang terus bertambah.


Askara tentu saja tidak ingin mati konyol dan langsung berlari menjauh dari lokasi. Sarah sudah memimpin di depan, Askara segera mengejar ketertinggalan.


Seorang penjaga berhasil menarik kerah Askara sehingga membuatnya terjungkal. "Sial!" desisnya. Perkelahian pun tak terhindarkan. Askara dan sang penjaga saling serang tanpa senjata, gerakan mereka begitu cepat dan tangkas.


BUGH!!!


BUGHH!!


PRAKK!!

__ADS_1


PRANGGG!!!


Askara menghalau satu per satu penjaga yang berdatangan ke arahnya dengan pukulan mematikan. Tak lupa, ia merampas beberapa senjata yang tak sempat mereka gunakan.


"Kejar!" seru seorang penjaga yang terkapar, pada rekan-rekannya. Askara tidak membuang waktu. Ia segera melaju keluar penjara dan tidak berniat untuk melumpuhkan musuh-musuhnya dalam serangan jarak dekat. "Cepat!" seru Askara pada Sarah agar terus berlari. Mereka terus berlari dan berlari, hingga sampai ke mulut gorong-gorong. Ketika keadaan sudah dianggap aman, dan pengejaran dari penjaga masih terus berlanjut, Askara terpaksa melakukan serangan darurat.


"Maaf, dan terima kasih," ucapnya sambil melempar sebuah bom asap. Sebetulnya, ia ingin melempar granat, namun, hati nuraninya terketuk dan menolak untuk melakukan aksi pengecut tersebut. Bom hanya digunakan oleh orang lemah yang tak memiliki kesempatan menang dalam pertarungan.


"UHUK.. UHUK.. AWAS! GRANAT!" Seru seorang penjaga yang berada di area depan agar rekan-rekannya mundur. Beruntung, ia telah salah mengira, karena itu hanyalah bom asap yang tidak mematikan. Namun, tidak masalah, Askara dan Sarah sudah berada jauh dari jangkauan mereka.


......................


"Terima kasih, Tuan, karena telah menyelamatkanku. Sekarang, Kau akan membawaku kemana?" tanya Sarah, setelah berhasil naik ke mobil jeep milik Askara.


Pria itu tidak menjawab, dan hanya tersenyum tipis saja, agar targetnya tidak kabur lagi.


'Tentu saja, aku akan membawamu ke penjara lainnya, gadis bodoh' batin Askara, sembari terus mengemudi, menyusuri jalanan macet Jakarta, menuju ke arah selatan ibu kota, ke tempat bosnya berada.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2