Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 71 Sang Penjual Informasi


__ADS_3

Lucy merasa tidak ada yang istimewa pada hari ini. Semua tetap sama, penuh dengan kekacauan. Setelah beberapa waktu bergelut dengan urusan mayat tak dikenal di sekitar gedungnya, dia juga harus tetap waspada terhadap ancaman dari Madam Liz, sekutunya dari Kanada. "Orang gila itu benar-benar bermain sendiri. Aku harus berhati-hati!" gumamnya sambil menikmati pijatan spa yang telah dia tunggu-tunggu sebagai pereda kekacauan yang melanda.


Lucy akhirnya memiliki kesempatan untuk memanjakan dirinya setelah sibuk bolak-balik dari kantor polisi dan mengurus kontrak bisnis di luar kota yang belum menemui kesepakatan. Lucy benar-benar berada di ambang kelelahan. Jika ada orang yang mengganggunya pada waktu ini, maka nasibnya akan berakhir.


"Semoga hari Anda menyenangkan!" ucap kasir salon saat menerima pembayaran dari Lucy. Setelah menikmati pijatan selama 60 menit, Lucy kembali ke kantor dengan perasaan yang segar dan bugar. Relaksasi semacam ini hanya terjadi pada saat-saat langka ketika dia memiliki waktu luang. Lucy sangat sibuk, sampai-sampai dia bahkan tidak dapat melanjutkan pengejaran terhadap Sarah, tahanannya yang kabur tanpa jejak, beberapa waktu yang lalu.


"Halo?" Lucy berjalan menuju mobil penjemputannya ketika mendapat panggilan mendesak dari sekretarisnya. "Nona Presdir, seseorang tak dikenal sedang menunggu Anda di kantor pusat," ucapnya pelan.


"Apakah dia punya janji temu?" tanya Lucy ingin memastikan. Namun, Kian, sekretarisnya, tidak pernah mencatat reservasi pertemuan dengan tamu tak diundang tersebut. "Katakan saja bahwa aku sibuk!" tolak Lucy dengan tegas, tetapi penolakannya tidak berhasil saat tamu misterius itu menyebut nama Nyonya Han dan mengklaim memiliki rahasia yang akan diungkapkan tentang Lukas, Presdir K-Group.


"Baiklah, tunggu aku 30 menit lagi," kata Lucy dengan senyum asimetris. Dia tidak akan melewatkan informasi apa pun yang berkaitan dengan kekasihnya, Lukas. Kekasih yang hanya ada dalam hatinya dan selalu didambakannya.


................


Lucy menempuh perjalanan menuju kantor pusat dengan adrenalin yang memuncak. Pikirannya dipenuhi dengan rasa ingin tahu tentang rahasia yang akan diungkapkan oleh sang penjual informasi tersebut.


"Wah... Berita bagus!" desisnya gembira, sambil memutar-mutar spinner-nya dari dalam mobil. Sopir Lucy menyetir dengan kecepatan sedang, mengingat, pada waktu ini, kemacetan di ibu kota memang sedang berada pada puncaknya. "Agak cepat ya, Pak," pesan Lucy tanpa melihat ke arah sang sopir. "Baik, Bu Presdir," jawab Pak Ghiza patuh. Mobil melaju menembus kemacetan dengan rute baru. Kali ini, Pak Ghiza memilih melajukan mobilnya ke jalur lain yang memiliki kepadatan kendaraan yang rendah. Lucy tersenyum melihat ketangkasannya dalam memilih rute, tidak sia-sia ia membayar Pak Ghiza dua kali lipat Gaji UMR yang ada di Jakarta.


Selama di perjalanan, Lucy berusaha mengingat apakah ada hubungan antara Nyonya Han dan Lukas, kekasih dambaan hatinya?


"Dimana ya aku pernah mendengar nama itu?" Lucy masih tidak dapat menggali memorinya. Ia kemudian memencet-mencet tombol ponselnya untuk mencari tahu bisnis apa yang dikaitkan dengan Nyonya Han. Ada beberapa nama yang muncul, setelah Lucy mencari namanya di internet, dan pencarian yang cocok dengan keinginannya adalah Han Eun Sook, Nenek Lukas, yang merupakan pewaris generasi ketiga K-Group setelah suami dan anaknya meninggal.


"Ah, rupanya Nyonya Han yang itu," gumam Lucy dengan senyuman sinis, menyiratkan rencana buruk yang sedang ada dalam pikirannya. "Baiklah, mari kita cari tahu informasi apa yang akan dijual orang itu," lanjutnya masih bermonolog sambil memandangi kemacetan Jakarta.


................

__ADS_1


Sesampainya di kantor pusat, Lucy melangkah dengan hati-hati menuju tempat pertemuan dengan penjual informasi tersebut. Kian telah menyiapkan sebuah ruang rapat kosong di dalam gedung mereka, mengingat pembicaraan antara bosnya dan pria itu bisa jadi merupakan sebuah rahasia.


"Antarkan aku padanya," perintah Lucy pada sekretarisnya dengan angkuh.


"Baik, Nona Presdir," sahut Kian patuh. Ia memandu jalan untuk mengantarkan bosnya itu pada seorang pria bertopi yang tampak mencurigakan. Namun, entah kenapa, Presdirnya mau meladeninya dan malah menemuinya meski tanpa membuat janji temu terlebih dahulu.


"Silakan, Nona Presdir," ucap Kian sambil membukakan pintu untuknya.


"Kau boleh pergi," ucap Lucy, kemudian mulai melangkahkan kaki memasuki ruangan dingin tersebut.


Ruangan itu terasa gelap, dengan sedikit cahaya menyinari wajah pria itu. Dalam keadaan yang penuh teka-teki, pria itu menatap Lucy dengan tatapan tajam.


"Duduklah," ucap Lucy, ketika pria tersebut tiba-tiba berdiri menyambutnya.


Dengan langkah tegap, Lucy duduk dengan hati-hati, merasakan ketegangan yang mengisi ruangan.


"Nama saya tidak penting. Yang penting adalah informasi yang saya miliki," ucap pria tersebut dengan suara berbisik.


Lucy memandang pria tersebut dengan tatapan tajam. "Katakan, apa yang terjadi antara Nyonya Han dan Lukas?" tanyanya kemudian.


Pria itu tersenyum sinis. "Apakah kita sudah sepakat soal harganya?" tandasnya. Pria itu tidak ingin menukar informasi yang dimilikinya dengan kesia-siaan.


"Katakan, berapa yang kau inginkan?" tanya Lucy, mencoba bernegosiasi.


"Bagaimana dengan 30 juta rupiah? Saya akan memberi bonus berupa kelemahan Lukas lainnya," ucapnya tanpa ragu.

__ADS_1


"Aku akan memberimu 200 juta, jika kau juga menyerahkan istri, atau mungkin, pacar? Apakah kau punya?" tanya Lucy, mengkonfirmasi.


Pria itu terkejut. Ia tidak mengira Lucy akan mengajukan tawaran semacam itu. Namun, ia tidak ingin melewatkan kesempatan ini.


"Sepakat!" jawabnya tegas. Lucy tersenyum sinis dan merekam percakapan mereka.


"Baiklah, katakan apa rahasianya?"


"Nyonya, ini...." Pria itu memutar rekaman pada pena penyadap yang dimilikinya. Suara ramai terdengar perlahan, seperti rekaman di sebuah lokasi yang penuh keramaian, mungkin di sebuah kafe atau restoran. Dalam percakapan tersebut, Nyonya Han menjelaskan dengan detail kejadian pengusiran menantunya, ibu Lukas. Menantunya diusir begitu saja setelah mengalami plot fitnah keji yang dibuat oleh Nyonya Han. Lucy terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa ada rahasia semacam ini yang disembunyikan oleh Nenek Lukas. Nyonya Han meneruskan percakapannya hingga pada pencarian obat penawar atas Racun Makadonia yang baru-baru ini menyerang cucunya. Lucy merasa marah mendengarnya, karena rencananya telah berhasil digagalkan. Ia tidak menyangka bahwa teh herbal yang diselundupkan ke kediaman Lukas terdeteksi dan malah memiliki potensi untuk melumpuhkannya.


"Sial!" rutuk Lucy sambil menggenggam erat pena rekaman tersebut.


"Begitulah, Nyonya Presdir. Nyonya Han mengusir ibu Lukas, kemudian anaknya menjualnya, lalu Ibu Lukas meninggal dalam kondisi yang sangat mengerikan. Dan Lukas sama sekali tidak mengetahuinya," ringkas pria itu, kemudian mematikan rekaman dari penanya.


"Baiklah, kerja bagus. Ambil ini," Lucy menyodorkan sebuah cek senilai 200 juta rupiah sesuai dengan perjanjian awal. Ia menerima pena tersebut sebagai pertukaran, dan akan menanti serah-terima barang kedua, yakni istrinya, setelah cek tersebut dicairkan.


"Terima kasih, Nyonya. Senang berbisnis dengan Anda," ucap pria misterius itu, lalu berpamitan dan menghilang begitu saja.


Lucy merasa puas dengan informasi yang berhasil didapatkannya. Rencananya semakin kokoh, dan Lukas tak akan bisa menghindarinya. Dengan senyuman sinis di wajahnya, Lucy meninggalkan ruangan rapat dan kembali ke kantornya. Hatinya penuh dengan kepuasan dan kegembiraan akan rencana jahatnya yang semakin dekat untuk direalisasikan. "Tunggulah, Sayang. Kau akan segera bertekuk lutut padaku,"


...****************...


...Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2