Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 7 'Refund Barang'


__ADS_3

Malam hilang, pagi pun datang. Emma membuka kedua matanya, lagi-lagi dalam keterkejutan.


"Pak Lukas?!" gumamnya setengah berteriak.


Emma tak mengira akan bertemu kembali dengan pria yang telah menjualnya secara COD seperti keset bekas. Mungkin inilah yang diibaratkan pepatah sebagai 'buah simalakama', Emma merasa lega dapat kembali melihat wajah Lukas, meski di saat yang bersamaan, ia juga merasa muak.


"Pak Lukas, apa yang terjadi?" tanya Emma setelah menyingkirkan dirinya sendiri dari atas lengan Lukas yang melingkar semalaman.


Lukas membuka kedua matanya, karena sedang ditanya oleh Emma. Ia terkejut, dan langsung menjauh dari gadis yang sedang bingung itu.


"Kau... Sudah bangun?" tanyanya kikuk.


Emma mengangguk pelan. Akhir-akhir ini, Emma terbiasa bangun dengan perasaan bingung dan sakit kepala, akibat obat bius yang seringkali dihirupkan secara paksa padanya.


"Ehm... Terima kasih," desis Emma lirih. Ia merasa aneh berterima kasih kepada pria yang telah menjualnya, namun, di saat yang bersamaan, pria itu juga yang telah menyelamatkannya. Emma benar-benar tak mengerti dengan situasi yang sedang dilaluinya ini.


Emma mulai memindai dirinya sendiri dari atas hingga ujung kaki. Lengkap. Pakaiannya tak terlepas barang seinci-pun. Tapi, mengapa mereka terbangun di atas ranjang yang sama? Apakah Lukas telah memperkosanya?


Tatapan Emma bertanya-tanya ke arah Lukas yang terbangun dalam keadaan segar bugar seperti habis berolahraga.


Lukas yang merasakan hujaman bisu dari arah sebelah, menengok ke arah Emma. Gadis itu tampak menutup kedua dadanya dengan tangan, seakan melarang siapapun untuk mendekati mereka.


"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak menyentuhmu!" tukas Lukas dengan pandangan enggan. Emma tak percaya.


"Mengapa Bapak ada di sebelah saya dan memeluk saya? Apakah bapak terbiasa melakukannya tanpa ikatan pernikahan?" cecar Emma mendadak jadi polisi moral.


"Aku tidak menyentuhmu sama sekali! Tidak sudi!" teriak Lukas sambil bangkit dari ranjang.


Mendengar pertengkaran dari arah kamar, Roy segera masuk, setelah pura-pura bersikap sopan dengan mengetuk pintu tiga kali.


"Bos. Gawat!"


"Ada apa??"


"Ada dua kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu? Yang 'buruk aja', apa yang 'buruk banget'?"

__ADS_1


"YANG MANA AJA TERSERAH!"


"Bos, calon pengantinnya kabur.... " ujar Roy dengan perlahan.


Lukas membulatkan kedua matanya. "Apa?? Lalu???"


"Nyonya besar masuk IGD,"


"Astaga!? Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit dulu!" titah Lukas kemudian beranjak ke kamar mandi dengan kepala berdenyut.


Emma ditinggalkan begitu saja, tanpa penjelasan yang berarti. Roy tersenyum ke arahnya, setelah memastikan dengan pandangan, bahwa Emma baik-baik saja. Ia segera pergi mengikuti tuannya untuk menengok nyonya besar yang kemarin malam dilarikan ke rumah sakit.


Setelah tak ada siapapun di kamar Emma, tampak seseorang yang ia kenal mulai menampakan wajahnya.


"Nona!" Cici menghambur masuk ke kamar Emma setelah mengetahui bahwa Emma kembali pulang ke mansion tuannya dengan selamat.


Emma merasa asing dengan kehangatan para pelayan dan dinginnya sikap tuan mereka padanya. Emma telah menurunkan kewaspadaannya terhadap para pelayan, karena, bagaimanapun sikap tuan mereka, para pelayan tetap memperlakukan Emma dengan baik.


Tanpa terasa, Emma memeluk Cici yang tampak mencemaskan keadannya. Ia pun menangis tersedu-sedu dalan pelukan pelayan pribadinya itu.


"Nona, tenanglah. Nona aman sekarang," ucapnya lembut sambil membelai rambut Emma yang sedang menangis di pelukan Cici.


"Sekarang, nona harus makan yang benar, ya? Biar saya bantu bicara sama tuan. Maafkan tuan, Nona. Ia kadang tak bisa mengendalikan amarahnya," tutur Rosa lembut.


Emma yang mendengar penuturan lembut Rosa, mengangguk paham. Kali ini, ia akan mulai makan dengan benar. Emma sudah mulai percaya pada Cici dan Rosa. Mereka berdua tampak seperti bude dan sepupunya, usia mereka sepertinya juga serupa. Oh. Emma tiba-tiba merindukan ibunya. Entah, bagaimana kabarnya sekarang. Ponsel Emma juga tidak ada padanya.


......................


"Fuuuuuuhh.... "


Asap putih menyembul dari mulut Sarah. Ia telah begadang semalaman, dan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.


"Sialan kau Lukas! Awas. Tunggu pembalasanku," decak Sarah kesal. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, dan menatap nanar ke arah kediaman utama dari arah balkon kamarnya.


TOK TOK

__ADS_1


Mengetahui ada yang datang, Sarah dengan sigap mematikan rokoknya.


"Masuk," ujarnya pelan sambil mengusir asap yang lambat hilang.


"Nona, sarapannya," ucap Lilly sambil mengantarkan makanan padanya.


Wajah murka dan penuh amarah yang baru saja nampak pada Sarah, berubah menjadi senyuman manis dan ramah, seakan tak ada masalah.


"Terima kasih Lilly," ucap Sarah dengan sopan.


"Oya, boleh nanya nggak?"


"Silakan, Non,"


"Cewe yang semalam, pergi kemana ya?"


"Oh, Non Emma? Sudah pulang, Non. Kemarin malah tidur ditemani tuan Lukas. Upss... Maaf, Non. Keceplosan. Jangan bilang Bu Rosa ya, nanti saya dimarahi," jawab Lilly dengan jujur dan tanpa terlewat informasi sekecil apapun. Sarah tersenyum sinis. Ia lantas mengambil uang tunai dari dompetnya.


"Nih, buat jajan. Makasi ya informasinya. Kalau kapan-kapan nanya lagi, nggak papa kan?" tanya Sarah memancing reaksi Lilly.


"Wah! Nggak papa, Non. Dengan senang hati!"


"Okay. Saling jaga rahasia ya. Jangan bilang kalo saya nanya-nanya,"


"Siap, Non!"


"Yasudah, saya makan dulu ya, makasih Lilly,"


Lilly pamit dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan. Sarah juga puas, karena baru saja mendapatkan mata-mata yang bisa memberinya informasi dari rumah utama. Sarah memakan sarapannya dengan rakus, lalu membanting piringnya dengan gusar. Ia lalu melaporkan ke Rosa bahwa piringnya tergelincir karena tangannya licin. Sarah selalu menghancurkan barang jika ada suatu kejadian yang membuatnya kesal. Setelah puas melampiaskan amarah, ia memacu mobilnya ke arah Jakarta Barat, ke klinik kecil miliknya untuk mulai bekerja.


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1



__ADS_2