Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 3 Pernikahan Mendadak #1


__ADS_3

Hidup Emma yang datar dan membosankan berubah 180° sejak keinginannya untuk bekerja menyeruak. Harapannya agar dapat meringankan beban keluarga, malah berakhir menambah beban dirinya sendiri.


"Mbak, senyum dong," ujar Galih yang berada di sisi Emma. Gadis yang sedang mengenakan kebaya pengantin itu tak menampakkan senyum bahagia seperti para pengantin pada umumnya. Jack menyikut Emma yang bersikap mencurigakan. Emma terkesiap, dan mengedarkan senyumnya ke seluruh tamu undangan.


"Alhamdulillah, Nduk. Ternyata ada hasilnya ya, kamu ngotot bekerja. Dirabi bos ngene kae, ibuk seneng banget, Nduk," ujar Bu Lika sambil memeluk putrinya.


Emma tersenyum, pura-pura bahagia. Ia tentu tak tega jika harus mengatakan kebenaran pada ibunya. Dani, si biang onar, sudah pindah ke luar pulau. Emma tak bisa melacak keberadaannya untuk membuat perhitungan.


"Malam ini, kita langsung ke Jakarta," bisik Jaka pada istrinya.


"Mendadak banget?"


"Iya, aku pengen unboxing kamu di hotel paling mahal di Indonesia," goda Jaka sambil menjilat telinga istrinya, ketika mereka sedang istirahat sejenak dari hadapan tamu undangan.


"Baiklah," jawab Emma datar. Ia tak merasakan apapun. Hatinya telah dimatikan. Emma tak ingin batinnya bergejolak dan merusak rencana mereka berdua.


"Eh, Emma. Selamat ya! Kok kamu duluan sih! Ih nggak asyik!" protes Sari sambil menggenggam kedua tangan Emma. Ia tampak masuk ke dalam ruang istirahat pengantin, karena ingin bertemu dengan Emma.

__ADS_1


"Maaf, Sar. Udah kebelet," jawab Emma mencoba normal.


Emma memerhatikan cincin yang ada di jari manis Sari dengan tatapan iri. Sebuah cincin emas beraksen bintang. Emma membatin, tentu Sari bahagia sekali karena dilamar seorang pria dengan normal, tidak seperti dirinya yang sebenarnya merupakan barang dagangan.


"Suami kamu guanteng! Tajir melintir pula, crazy rich! Kamu beruntung banget, Em!" ujar Sari dengan heboh, membuat Teja salah tingkah. Teja hanyalah buruh pabrik, tentu tak bisa disandingkan dengan Jaka yang merupakan seorang pebisnis.


"Harusnya kamu ngundang orkes Valava, pesta geden, tujuh hari tujuh malam. Lha kok cuma akad? Piye, tho?" sindir Indira dari balik punggung Teja.


Sepupunya itu mendadak muncul dan menghujat Emma dengan entengnya. Sari tampak menggandeng lengan Emma dan mencebik ke arahnya. "Iri bilang, Bos!"


Emma hanya tertawa. Kali ini, tawanya tulus. Emma akan merindukan Sari dan Indira ketika sudah menjadi warga ibu kota. Tidak dapat dipungkiri, kontras sekali klaim Jaka sebagai pebisnis sukses dengan dekorasi hari pernikahan Emma yang digelar sederhana di rumah mereka.


......................


"Buk, maaf. Emma harus pamit ikut Mas Jack ke Jakarta. Ada urusan bisnis di sana," ucap Emma pada ibunya sambil mencium tangan.


"Iya, Nduk. Mau bagaimana lagi. Kamu sudah jadi istrinya sekarang. Yasudah, hati-hati ya. Kabari ibuk kalau sudah sampai sana," sahut ibunya dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Bu Lika mbrebes mili melihat anak gadisnya mentas-- sudah diperistri orang. Sebagai seorang janda, tentu ia merasa ada beban berat yang terangkat dari dadanya. Beban untuk menyandingkan putrinya dengan pria terbaik, tentu saja, bukan beban untuk menafkahi anak-anaknya.


Galih, yang sedari tadi duduk diam, tampak memeluk kakaknya.


"Hati-hati, Mbak. Kabari Galih ya kalau sudah sampai di Jakarta,"


"Iya, Dek. Tolong jaga ibu,"


Mereka pun beranjak ke Bandara Juanda, Surabaya, dengan mengendarai mobil. Jaka sudah tak sabar untuk menjamah istrinya, namun, ia tak ingin momen malam pertamanya standar-standar saja. Jaka akan berpesta bersama Emma semalam suntuk di Hotel Halton yang terkenal mahal itu dan menikmati malam pertama dengan penuh kenangan.


Namun, siapa sangka?


Kedatangannya ke Hotel Halton malah berubah menjadi neraka dunia, dan acara unboxing jelas tak akan terlaksana sesuai rencananya.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2