
Kehadiran polisi di klinik "Keponakan Mak Perot" membuat kerumunan massa semakin ramai. Orang-orang yang sebelumnya penasaran dengan klinik tersebut, sekarang menjadi saksi langsung penangkapan Kang Dadang dan Teh Lilis yang membuat gempar kampung Cihempas. Berbagai komentar dan spekulasi pun bermunculan di antara warga, sehingga membuat situasi semakin panas.
Lukas dan Emma yang menyaksikan penggerebekan tersebut, tampak resah dan cemas. Di satu sisi, mereka lega karena kejahatan Kang Dadang dan Teh Lilis terbongkar. Namun, di sisi lain, mereka sedih karena harapan terakhir untuk mendapatkan obat penawar, pupus sudah.
"Sialan! Semua usaha kita sia-sia!" gerutu Lukas dengan rasa frustasi. Emma mencoba menenangkan suaminya dengan kata-kata penghiburan, namun tidak cukup membuat hati Lukas lepas dari ketegangan.
Emma akhirnya mengajak Lukas untuk pulang saja dan memikirkan hal lain saat hati mereka sudah tenang. Lukas tidak tampak keberatan dan mereka pun akhirnya berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Ketika kaki mereka hendak beranjak dari lokasi kejadian, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari dalam klinik. Seorang wanita tua memanggil nama mereka dengan penuh kejutan.
"Lukas! Emma!"
Lukas dan Emma menoleh hampir bersamaan. Mereka terkejut melihat nyonya Han sedang berada di dalam klinik bersama sopir dan seseeorang yang tak dikenal.
"Nenek?" serentak mereka bertanya-tanya dengan kemunculan nyonya Han yang tidak pernah diduga sebelumnya.
......................
Lukas, Emma, Nyonya Han, Roy, dan Pak Kardi akhirnya tiba di rumah petak milik Pak Ujang setelah perjalanan singkat dari klinik bermasalah yang membuat mereka pusing kepala. Beruntung, Nyonya Han berhasil mendapatkan kembali uang 10 juta rupiah yang sebelumnya diberikan sebagai pembayaran atas obat penawar palsu, berkat kegigihan Pak Ujang.
Polisi tidak sempat mengambil uang tersebut sebagai barang bukti karena Pak Ujang dengan cepat menendang koper Nyonya Han ke ujung dapur. Keberhasilan ini membuat Pak Ujang mendapatkan bonus sebesar satu juta rupiah, meskipun awalnya ditolak, namun akhirnya diterima sebagai bentuk ucapan terima kasih. Nyonya Han akhirnya bisa meneruskan perjalanan pulang tanpa masalah.
Namun, saat Nyonya Han hendak melangkah keluar, ia melihat sekelebat bayangan yang sangat dikenalnya.
"Lukas! Emma!" seru Nyonya Han setelah memastikan bahwa mereka adalah cucu-cucunya. Setelah pertemuan itu, akhirnya, para warga ibu kota tadi tidak jadi pulang ke Jakarta. Mereka memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di pusat kota, setelah memastikan sesuatu.
......................
.
"Nenek, kok sampai ke sini sih? Kirain cuma kongkow ama temen di kafe?!" tanya Lukas setengah marah, karena Nyonya Han terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Hmm... ceritanya panjang, Bocah. Kalian sendiri apa urusannya ke sini?" tanya Nyonya Han dengan nada yang tidak kalah tajam. Ia juga ingin mencari-cari kesalahan Lukas.
"Nenek, kami datang ke sini karena direkomendasikan oleh Dokter Freddy, mengenai hal yang kemarin," kata Emma sambil merahasiakan beberapa detail pembicaraan mereka, karena ada beberapa orang asing yang mendengar.
Nyonya Han mengangguk sambil merenung dalam hati. Ternyata tidak hanya Liem yang merekomendasikan Mak Perot, bahkan seorang dokter medis pun mengakui kehebatannya.
"Silakan, tehnya," ucap Euis yang baru saja menyeduh teh di dapur. Meskipun rumah petak mereka sebenarnya cukup luss, namun kali ini terasa sempit karena kedatangan tamu dari luar kota yang tiba-tiba muncul sejak sore tadi. Setelah kedatangan Lukas dan Emma, beberapa tetangga tampak berdesakan, mencuri-curi pandang melalui celah-celah jendela untuk melihat tamu-tamu Euis dan Ujang yang tampak rupawan seperti artis Korea.
Kegiatan curi-curi pandang itu berhenti ketika Euis menutup gorden dan pintu rumah mereka dengan tegas. Para tetangga yang sebelumnya berkumpul seperti lebah, akhirnya mundur teratur dan pergi ke rumah masing-masing dengan tekukan wajah. Beberapa di antara mereka bahkan mengejek dengan mengatakan "Pelit!" saat berlalu melintasi rumah Euis dan Ujang.
Euis melirik Lukas dan Emma dengan wajah agak kesal. "Maafkan mereka, Akang, Teteh. Tetangga di sini memang suka kepo dengan urusan orang," ucap Euis merasa sungkan terhadap kelakuan tetangga yang membuat tamunya mungkin tidak nyaman.
Lukas dan Emma tersenyum tipis, tidak merasa keberatan. Nyonya Han juga tidak merasa hal itu perlu dipermasalahkan.
"Jadi, rencana kita tinggal itu ya," tutur Nyonya Han kepada Pak Ujang, merujuk pada pencarian cucu terakhir Mak Perot yang berada di ibu kota.
"Nenek, apa ada alternatif?" tanya Emma penasaran sekaligus gembira, rupanya perjalanan mereka ke Sukabumi tidak sia-sia.
"Sebentar, apa ada yang tidak kita tahu?" tanya Lukas, merasa tertinggal.
"Udah, Bocah. Diem bae sih! Lagi diusahain ini!" hardik neneknya yang tidak ingin diinterupsi.
Emma tertawa dalam hati melihat Nenek dan Lukas yang kembali terlibat dalam pertengkaran. "Nenek, Lukas, tolong bersabar. Ini bukan tempat yang tepat untuk bertengkar," sergah Emma dengan suara pelan, mengingat mereka sedang berada di rumah orang lain. Emma merasa seperti induk ayam yang sedang melerai pertengkaran anak-anaknya.
"Oke... Oke..." sahut Nyonya Han mengalah. Lukas juga mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.
"Pak Ujang, tolong ceritakan tentang cucu kandung Mak Perot. Mungkin kami bisa mengerahkan tenaga untuk mencarinya," tutur Nyonya Han, mencoba mencari peruntungan lain.
__ADS_1
"Oh, Mak Perot punya cucu kandung ya? Seperti apa dia?" tanya Lukas penasaran.
"Iya, betul. Cucu kandungnya itu menjalankan klinik seperti Mak Perot. Awalnya memang lancar... Tapi, beberapa tahun kemudian, ketenarannya hancur karena pergaulan yang buruk. Memang masih muda sih, jadi ketika dihadapkan dengan urusan asmara, begitulah..." tutur Pak Ujang meringkas kisah cucu Mak Perot. Tentu saja Nyonya Han sudah mengetahui hal itu, namun berbeda dengan Lukas dan Emma yang baru mendengar tentang cucu Mak Perot. Harapan yang semula pudar kembali menjadi jelas.
"Apa Bapak punya fotonya?" tanya Lukas.
"Hm... Foto... Bentar," Pak Ujang tampak beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju bilik tidurnya. "Ambu, majalah yang waktu itu, ditaruh dimana?" tanya Pak Ujang sambil mencari-cari sebuah majalah lama yang pernah membahas tentang klinik pengobatan Mak Perot.
"Majalah Grubus? Ada, di atas lemari. Jangan dibuat bakar-bakar, ada foto si Aa di situ, meski kecil," ucap Euis dari balik dapur, sedang menggoreng pisang untuk suguhan tamu-tamunya. Majalah Grubus tiga tahun lalu masih tersimpan rapi di atas lemari tua mereka. Hal ini terjadi karena, tanpa sengaja, anak pertama mereka terpotret ketika wartawan sedang mewawancarai Yuki, sang cucu yang merupakan penerus klinik Mak Perot.
"Ah, iya, ketemu," ucap Pak Ujang sambil membawa sebuah majalah tua yang masih terawat dengan baik. Ia kemudian kembali ke ruang tamu untuk menunjukkan foto Yuki, cucu Mak Erot yang sedang mereka cari.
Pak Ujang meletakkan majalah tersebut di atas meja. Lukas, Emma, dan Nyonya Han dengan penuh antusias melihat foto-foto yang ada di dalamnya. Mereka mencari-cari foto cucu Mak Perot, berharap dapat mengenali wajahnya. Emma menggeser halaman majalah secara perlahan dengan jari-jarinya.
"Halaman 80!" seru Euis yang masih sibuk menggoreng pisang di dapur.
"Daebak! Apal banget," gumam Emma, langsung membuka halaman yang disebutkan.
"Ini dia!" seru Emma, sambil menunjukkan sebuah potret seorang gadis yang sedang tersenyum, dengan rambut hitam pendek dan juga mata sipit serta kulit putih, khas orang sunda. Ada tulisan nama berikut profesinya: Yuki Ayumi Perot, Herbalis Milenial.
"Cantik," puji nyonya Han kagum.
"Iya, betul," sahut Emma setuju.
"Eh? E---eh????? Itu cucunya???" Hanya Lukas yang memberikan respon berbeda.
Ia terbelalak tak percaya dengan foto yang dimaksud. "YUKI AYUMI????" ulangnya dengan teriakan. Yuki? Bukankah, dia itu tahanan yang sedang disekapnya di penjara bawah tanah?
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...
...****************...