
"Sudahlah, Em. Aku pulang dulu kalau gitu. Suamimu sudah disini. Istirahatlah," ujar Ryan lantas beranjak dari tempat duduknya. Ia telah menyadari kekalahannya. Kali ini, Ryan harus mengakui bahwa Lukas memang lebih tangkas darinya.
"Ryan, maafkan suamiku. Terima kasih telah menyelamatkanku," sahut Emma sambil menggenggam tangan Ryan sebagai salam perpisahan. Ryan terkejut, namun, ia sangat senang. Ia merasa masih diterima dalam kehidupan Emma, meski hubungan mereka mungkin hanya sebatas rekan kuliah saja.
"Ya, sama-sama," jawab Ryan kemudian. Mereka saling tersenyum dan berpamitan. Ryan lantas menggendong tas ranselnya dan melangkahkan kaki keluar dari ruangan.
Melihat pemandangan yang membuat sakit mata, Lukas terprovokasi kembali.
"Roy! Urus kepindahan Emma ke rumah sakit kita. Aku tak sudi dia dirawat di sini!" titah Lukas mendadak. Ryan yang baru saja menutup pintu ruangan, tiba-tiba kembali masuk dan menghujat nalar Lukas yang begitu pendek dan tak masuk akal.
"Lukas! Kalau kau memikirkan Emma, kau harus membiarkannya dirawat di sini sampai dokter memperbolehkannya pulang! Lihatlah keadaannya! Ia masih lemah!" bentak Ryan dengan nada yang tajam.
"Cih! Memang rumah sakitmu sebagus apa? Rumah sakitku jauh lebih bagus!" tukas Lukas tak mau kalah.
"Sudah hentikan! Lukas! Kalau mau bikin ribut lagi, mending pulang deh. Aku di sini saja. Aku lelah," sahut Emma kemudian berbaring dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Lukas menjadi bingung dan serba salah. Ryan tersenyum lega.
'Dasar istri yang menghancurkan mental suami' batinnya. Namun, pada akhirnya, Lukas mengalah. Ia merenungi kelakuannya yang tak masuk akal sejak tadi. Ia juga bingung dengan tingkahnya yang begitu memalukan dan memuakkan. Tanpa sadar, Lukas telah menjatuhkan harga dirinya sendiri ke dasar jurang.
"Yasudah. Aku pulang dulu. Awas saja kalau kau pindahkan Emma tanpa izin dokter Bagas!" ancam Ryan untuk terakhir kali.
Lukas hanya terdiam dan tak menjawab. Itu artinya, ia menuruti ancaman Ryan begitu saja. Emma sudah berbaring dan tak merespon apa-apa. Ia sangat lelah dan ingin beristirahat. Akhirnya, Ryan benar-benar pergi dari kamar Emma.
Saat ini, hanya tersisa Roy, yang sedari tadi ketar-ketir di pojok ruangan. Ia khawatir harus begadang dan menjadi target amukan dua singa yang sedang perang dingin ini.
"Lukas! Kau kenapa? Kok aneh gitu! Jangan bertingkah kayak suami sungg----" Emma tak jadi meneruskan kalimatnya, karena ia lupa, Pak Roy masih ada di sana.
"Roy, keluar lah," perintah Lukas.
"Baik, Bos,"
__ADS_1
Roy pun keluar ruangan. Ia sangat gembira karena mengetahui, tidak perlu pusing dalam melerai pertengkaran yang mungkin terjadi di dalam sana. Roy pun pergi ke mesin penjual otomatis yang ada di lantai dasar, untuk menenggak sekaleng minuman bersoda. Rasanya, hati dan tubuhnya telah terbakar api tak kasat mata yang membuatnya lelah dimana-mana.
......................
"Emma, maafkan aku,"
"Sudahlah! Nggak usah sok kayak suami sungguhan. Aku tidak suka. Biarlah kita hidup masing-masing tanpa saling mengganggu. Aku sudah tau posisiku ada di mana," cetus Emma dengan air mata tertahan. Hatinya hancur mengetahui suaminya tampak biasa saja dengan ketidakhadirannya. Sampai-sampai, orang lain yang harus menyelamatkan dirinya. Emma akhirnya menyadari sesuatu, bahwa, ia memang bukan prioritas suaminya. Harusnya Emma paham, bahwa, pernikahan mereka memang pura-pura. Mulai saat ini, Emma tak akan menaruh harapan pada Lukas. Ia tak ingin kecewa.
'Emma, seandainya kau tau, aku sudah menggila karena mencarimu, maafkan aku' batin Lukas tanpa menjawab cacian Emma. Ia pantas dibenci oleh istrinya, karena menjadi suami yang tak bertanggung-jawab. Lukas kini merasa muak pada dirinya sendiri.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1