
Lukas masih mencari sosok pria-pria yang dikenalnya, yang mungkin hanyut tak jauh dari lokasinya berada.
"Sial.....," rutuk Lukas karena tak kunjung menemui sosok manusia lain yang terseret arus air. Apakah mereka semua telah tewas?
Lukas masih belum menemukan jawaban yang ia cari. Saat ini, yang bisa ia lakukan hanya menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu.
PIP!
Jam tangan pintar yang menyambungkannya dengan markas rahasia telah hidup kembali, setelah mati sejenak akibat galat yang masih menjadi misteri. Seharusnya, jam pintarnya tahan banting, tahan air dan dapat selalu memancarkan sinyal karena jam itu memang dirakit khusus sebagai alat pelacak sehingga tim penyelamat dapat segera datang, kapanpun dan dimanapun Lukas berada.
......................
...[Markas Rahasia]...
"Tsk! Seharusnya kuganti baterai jam tangan si bos!" gerutu Askara setelah mendapat laporan dari Roy, bahwa Lukas tidak dapat dicari keberadaannya. Askara memang menyetel kuat sinyal pemancar pada alat pelacak Lukas, sehingga, kemungkinan, usia baterai perangkat tergerus karenanya. Ia memang harus senantiasa memperbaharui baterai di alat tersebut di setiap periode tertentu.
PIP!
Askara mulai menerima sinyal pemancar dari alat pelacak yang ada pada bosnya.
"Ketemu!" ujarnya gembira. Ia lantas mengabari Roy supaya dapat memberikan ketenangan pada sang nyonya.
"Roy. Aku sudah menerima sinyal dari Bos. Tim akan segera melakukan penyelamatan," lapor Askara pada Roy melalui sambungan telepon.
"Baiklah! Kerja bagus!" puji Roy dengan bangga. Ia lantas mengabarkan hal itu pada sang nyonya yang saat ini sedang berada di kantor pusat K-Group bersamanya.
"Bagaimana, Roy? Apakah ada kabar dari suamiku?" tanya Emma dengan nada cemas.
"Ya, Nyonya. Tenanglah, lokasi bos telah ditemukan. Tim penyelamat akan segeta ke sana," sahut Roy dengan keyakinan penuh.
Emma menjadi lega, namun, ia belum sepenuhnya tenang, karena masih belum bertemu secara langsung dengan suaminya, Lukas.
"Roy, apakah kita bisa ikut ke sana?" tanya Emma mencoba peruntungan.
__ADS_1
"Nyonya, situasi di luar sangat berbahaya. Badai masih berlangsung, lebih baik, kita tunggu di sini saja," saran Roy, tidak ingin membuat nasibnya lagi-lagi di ujung tanduk. Bisa-bisa, keadaan menjadi berbalik, ketika Bos Lukas ketemu, bisa jadi, Sang Nyonya malah hilang ditelan arus banjir. Membayangkan hal itu saja, Roy sudah merinding. Ia benar-benar tidak ingin mempersingkat nyawanya sendiri dengan keputusan bodoh yang dibuatnya tanpa perhitungan.
......................
"Dimana lokasinya?" tanya Lucy yang sedang berkonsentrasi mengendarai motor air-nya. Kian masih mencoba melacak keberadaan Anthony dengan alat yang baru saja diraihnya dari saku kemeja.
"Sebentar lagi kita sampai, Nona Presdir," ucapnya yakin. Titik merah tebal terlihat berdenyut-denyut tak jauh dari mereka, sepertinya, dalam jarak kurang dari 1 kilometer, mereka akan sampai di tempat Anthony berada.
"Belok kiri di perempatan, Nona!" ucap Kian, menavigasi presdirnya.
"Okay.... " jawab Lucy singkat. Ia meneruskan laju motornya, hingga ke lokasi yang diarahkan oleh Kian.
Di sepanjang perjalanan, Lucy melihat banyak korban kebanjiran yang terlihat putus asa dan membutuhkan pertolongan. Mereka berusaha memanggilnya dengan suara lirih, "Mbak... Mbak... Tolong...."
Namun Lucy tidak menggubrisnya. Kian yang sadar bahwa bosnya adalah seorang psikopat, tidak menunjukkan keterkejutannya. Namun, sikap Lucy terasa berbeda saat melihat seorang nenek yang sangat membutuhkan bantuannya. Nenek itu memelas dengan suara lemah, "Cu... Cu... Tolong Nenek, Cu...".
Lucy memutuskan untuk memperlambat laju jetski-nya, menunjukkan kepedulian dan perhatiannya terhadap nenek tersebut. Kian tampak terkejut, tidak biasanya Nona Presdir menunjukkan kepedulian seperti itu. " No--nona," panggil Kian lirih, merasa terharu dengan perbuatan bosnya itu.
Lucy tidak menghiraukan panggilan Kian, ia memacu laju motornya hingga mendekat ke arah sang nenek. Ketika motor air itu hampir berada di sisi nenek tersebut, tiba-tiba saja....
Lucy mencipratkan sebagian besar air bah padanya.
"Hahahahahahahah!!!!!!" Lucy tertawa terbahak-bahak. Ia tidak menyangka, bahwa, berkendara di atas air pada tengah malam seperti ini, sangatlah menyenangkan.
"No--nona," kali ini Kian tidak bisa berkata-kata. Ia merasa malu karena telah berpikiran positif pada bosnya yang tidak punya perasaan itu.
"Hahaha.. Kian.. Kau lihat wajahnya? Hahahaha....," Lucy masih tergelak, ketika mengingat ekspresi sang nenek yang tampak terkejut dan marah karena telah dikelabui.
"Nona, di depan!" Kian berteriak. Menunjukkan lokasi presisi Anthony yang tertangkap radarnya.
Lucy memacu motornya dengan lebih kencang, sehingga ia akan segera tiba di lokasi tempat Anthony berada.
Namun, siapa yang menyangka, ketika mereka tiba di lokasi yang ditunjukkan oleh radar, Lucy dan Kian terperanjat. Mereka menemukan Anthony dan Jaka dalam keadaan tewas, wajah mereka tidak dapat dikenali karena terkena siraman air keras.
__ADS_1
"Si--al!" Lucy gemetar, mendapati Anthony telah meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan.
"No-- nona, mungkinkah?" Kian mencoba menerka situasi.
"Ya, benar, Kian. Ini ulah mafia gila itu," tukas Lucy dengan nada yang dingin. "Kita harus pergi, tinggalkan mayat mereka, atau, kita yang akan disalahkan," lanjutnya, kemudian memacu jetski-nya meninggalkan area kejadian.
......................
Gelap malam menyelimuti hanggar helikopter milik Lukas, setelah badai yang dahsyat melanda. Kapten Vera Thompson, seorang pilot helikopter berpengalaman, berdiri di dekat helikopter yang telah selesai diperiksa. First Officer Askara, kopilot yang memandu Kapten Vera dalam penerbangan kali ini, berdiri di sampingnya. Sesaat setelah badai mereda, mereka berdua bertemu di hanggar untuk memutuskan apakah akan mengambil keputusan untuk mengudara.
Kapten Vera melihat ke luar jendela, memeriksa langit yang perlahan mulai terang. Dia menyaksikan sisa-sisa awan hitam yang berarak di kejauhan. Angin masih sedikit kencang, tetapi tampaknya cuaca sudah membaik setelah badai.
Kapten Vera memeriksa data cuaca terkini di tablet elektroniknya. Ada peringatan tentang angin yang masih cukup kuat, namun tidak mencapai tingkat bahaya. Dia melirik Askara, memberi isyarat bahwa mereka harus membahas situasi ini.
"Dengan cuaca seperti ini, apa menurutmu kita bisa mengudara?" tanya Kapten Vera dengan nada yang serius.
Askara merenung sejenak, mengecek data yang ada, kemudian menimbang-nimbang pilihan mereka. Dia memandang helikopter yang terlihat siap untuk beraksi, tetapi tetap berhati-hati.
"Kita bisa mengudara, Kapten," kata Askara dengan hati-hati. "Angin masih sedikit kencang, tapi dalam batas yang bisa kita kendalikan. Landasan pendaratan tampaknya cukup aman, meski mungkin ada beberapa kerusakan akibat badai."
Kapten Vera mengangguk, menghargai pendapat Askara. Namun, dia tetap ingin memastikan segala kemungkinan sudah dipertimbangkan.
"Apakah ada kerusakan pada helikopter yang mungkin mempengaruhi kinerja kita?" tanya Kapten Vera dengan tegas.
Askara mengambil catatan pemeriksaan yang dilakukan sebelumnya dan memeriksanya dengan seksama. Dia merunut setiap item, memastikan tidak ada kerusakan yang signifikan.
"Sepertinya tidak ada kerusakan yang serius, Kapten," jawab Askara tegas. "Semua sistem terlihat normal dan siap untuk digunakan."
Kapten Vera mengambil napas dalam-dalam, menggenggam kemudi helikopter dengan erat. "Baiklah, mari kita lakukan. Bos Lukas sudah menunggu," ucap Kapten Vera dengan tekad. "Kita akan terbang dengan hati-hati dan tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Keselamatan penumpang dan diri kita adalah prioritas utama," lanjutnya kemudian.
Askara mengangguk, ia menyetel GPS pesawat agar dapat menjangkau posisi Bos Lukas saat ini, dan mulai mengudara. Mereka bertekad menghadapi tantangan pasca-badai ini dengan kehati-hatian dan segera membawa pulang Bos Lukas dengan selamat.
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...