Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 32 Syukuran Warga


__ADS_3

Tak terasa, sudah hampir satu minggu sejak divisi legal K-Group membayarkan ganti rugi secara berkala, sehingga saat ini, sudah terealisasi sekitar 80%. Para warga begitu gembira karena telah menerima pembayaran ganti rugi atas bangunan mereka. Beberapa warga sudah tampak pindah dan meninggalkan kampung dengan hati senang.


Emma yang hanya rehat selama tiga hari di rumah sakit, juga sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala. Hanya saja, ada peraturan baru yang wajib ditaati ketika keluar rumah, yakni, memberi laporan secara berkala. Lukas kali ini mengontrol Emma secara ketat karena tak ingin kecolongan seperti sebelumnya. Emma tak punya pilihan selain mematuhi suaminya. Rosa dan Cici juga selalu menangis ketika nyonya mereka tak pulang selama tiga hari berturut-turut. Para pelayan menjadi over-protektif juga padanya.


Vita, yang mengira Emma masih diculik para preman, tentu saja tak bisa menahan tangis keharuan kala melihat Emma tampak baik-baik saja. Saat ini, Emma sedang berada di depan rumah Vita. Ia sengaja mampir ke kampung untuk melihat perkembangan dari aksi heboh mereka.


"Emma.. Hiks.. Hiks... Syukurlah," desis Vita yang mendapati temannya sedang berdiri di depan pintunya dalam keadaan sehat wal afiat. "I--ni, hapemu, hiks... hiks... " lanjutnya sambil menyerahkan ponsel Emma yang disimpannya sejak mereka terpisah.


"Eh, kok foto itu sampe ke-upload sih?" tanya Emma sambil tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Hiks.. I--iya. Itu gue geregetan. Pas lapor polisi, katanya suruh nunggu 24 jam. Kalo lo keburu mati, gimana? Akhirnya gue suruh si Valdo buat ngirimin foto itu ke pemegang saham utama grup MNGTV , buat ngancem... Eh ternyata, dia sendiri yang upload skandal itu. Bukan kita, Em. Beneran," jelas Vita masih sambil menangis.


Emma menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mengelus-elus punggung sahabatnya itu supaya tenang. Vita masih merasa bersalah atas kejadian tempo hari yang membuat Emma terluka. Padahal, Emma bukanlah warga kampung yang harus menderita sepertinya.


"Makasih, Em. Lo emang sahabat sejati,"


"Sama-sama, Vit. Gue juga happy kok bisa bantu sedikit-sedikit,"


Mereka pun berbincang lama, dan bertukar cerita tentang kejadian yang dialami masing-masing. Vita sangat terkejut namun juga tampak lega, setelah mengetahui bahwa Ryan rupanya telah menyelamatkan Emma. "Jadian aja, sih... " selorohnya. Emma hanya tersenyum simpul. Ia masih belum membongkar identitasnya sebagai istri presdir K-Group agar Vita tak kecewa. Mungkin, awalnya, Emma melakukan siasat itu untuk membantu suaminya. Namun, pada akhirnya, Emma bersyukur, para warga juga mendapat ganti rugi yang setimpal tanpa kesulitan. Mereka akhirnya dapat menyongsong hidup baru, dengan uang pembayaran yang didapat sebagai penggantian bangunan.


......................

__ADS_1


Ketika Emma hendak berpamitan untuk pulang, Vita tampak menahannya. Ia baru saja di-sms Pak RT agar mengajak Emma ikut syukuran pelepasan warga desa, di depan pos ronda.


"Yuk, ikut Em! Pahlawan kita harus hadir!' ujar Vita menyemangati. Emma tampak ragu, karena, ia hanya meminta izin pada Lukas untuk pergi selama beberapa jam saja. Sepertinya, jam keluarnya akan habis, dan Pak Hendro akan menjemputnya dengan segera.


"Aku kuatir ga diizinin.... Ehm... "


"Sebentar aja, please... "


"Hmmm.. Ya sudah, sebentar aja ya?"


"Yeay! Ayo kita ke pos ronda!"


"Neng!! Alhamdulillah, sehat??" tanya bu RT dengan wajah berseri. Emma mengangguk pelan, meski terkadang masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.


"Neng!! Makasih banyak ya. Meski bapak bonyok gini, tapi alhamdulillah, dapet 1,5M! Hore!" seloroh pak RT yang masih bermuka lebam akibat tawuran beberapa waktu lalu.


Emma tergelak melihat tingkah laku warga kampung Sinar Bersemi. Ia tak mengira, kedatangannya di ibu kota rupanya dapat menciptakan keluarga baru secara tiba-tiba. Emma bersyukur dan bahagia, karena, ia kini tak merasa sendiri lagi.


"Nah, Pak. Ayo dipotong tumpengnya!" ucap Vita yang sudah sangat lapar. Ia tak tahan melihat nasi tumpeng yang dipajang cantik di depannya.


"Oh, iya, ya.. Ayo, Buk... Sini semua,"

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim.... "


Pucuk tumpeng telah terpotong dengan sempurna. Pak RT kemudian memberikan potongan pertama pada penyelamat kampung mereka, Neng Emma.


"Makasih semua, saya terima ya," ucap Emma terharu.


PROK PROK PROK PROK


Suara tepuk tangan warga bergemuruh seperti gerombolan gajah yang lewat di jalanan desa. Mereka semua bersuka-ria menikmati kebersamaan terakhir di kampung Sinar Bersemi. Setelah hari ini, mereka sudah mulai berkemas untuk meninggalkan kampung beserta banyak kenangan yang telah terpatri di sini.


...Selamat tinggal kampung Sinar Bersemi....


...Percayalah, kenangan tentangmu akan selalu ada di hati kami....


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2