
Emma hanya meratapi nasibnya dengan pilu di dalam kamar. Emma tak mau makan, dan hanya bertahan dengan air putih dan biskuit kering agar tak meninggal. Itu juga hanya dimakan sedikit demi sedikit saja.
"Makanlah lagi, Nona. Anda bisa sakit," ucap Cici yang khawatir melihat tamu tuannya yang rapuh dan selalu murung. Rosa, sang kepala pelayan, juga ikut bingung. Ia tak ingin ada kasus kematian mendadak yang terjadi di mansion ini. Sarah, terapis yang dibawa ke rumah oleh Lukas, masih belum mengetahui bahwa ada gadis lain yang tinggal di rumah utama selain dirinya. Bahkan, Sarah hanya ditempatkan di paviliun.
Tidak hal baik yang terjadi pada Emma. Ia merasa ketidakadilan yang dialaminya merupakan karma karena dulu pernah ngotot untuk bekerja. Ia selalu merenungi kesalahannya pada hari itu. Jika saja Emma mau bersabar dan bertahan hidup dalam keterbatasan, tentu saja nasibnya akan baik-baik saja seperti hari biasanya.
......................
"Nona, mari mandi. Tuan meminta anda untuk bersiap," ujar Cici ketika malam telah tiba. Roy tergopoh-gopoh naik ke lantai dua, untuk menjemput Emma.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Roy telah diinstruksikan oleh bosnya untuk menyiapkan Emma sebelum janji temu dilangsungkan. Waktu yang disepakati oleh pembeli sudah terjadwal, pukul 12 malam, dengan pembayaran COD 1 Milyar rupiah.
"Apakah ini adalah hari penjualan diriku? Dasar setan kalian semua!" bentak Emma murka. Ia tak ingin mandi dan berdandan, malah bagus begini, kusut, jelek dan berantakan. Semoga saja dirinya tidak laku.
"Apa? Nona mau dijual?" tanya Cici panik. Ia tak mengira nona yang cantik itu bukanlah tamu, melainkan wanita penghibur.
"Begitulah, tuanmu sangat jahat," cetus Emma lalu kembali meringkuk di atas ranjang.
"Nona, bersiaplah, saya mohon. Sebelum tuan sendiri yang kemari," ujar Roy sedikit memaksa. Emma tidak mendengarkan ucapan Roy. Dan itu sangat disesalkan olehnya
BRAK!
"Lama sekali! Cepatlah! Pembeli sudah menunggu!" tukas Lukas sambil menyingkap kasar selimut yang membalut tubuh Emma.
"Lepaskan!"
"Cepat!!"
Lukas menariknya keluar dari ranjang, dan membopongnya dengan satu tangan.
"Lepaskan!! Lepaskan!!!" teriak Emma menjadi-jadi. Seluruh mansion menjadi sangat heboh dan berisik. Rosa menghambur ke ruang tamu, setelah mendengar teriakan Emma yang menggelegar, Cici turut mengekor di belakangnya. Beberapa pelayan lain juga tampak mengintip dari balik dapur dan kamar lainnya.
"Lepas!! Setan!! Iblis!!"
"Diam!! Roy! Siapkan bius!"
Roy dengan cekatan mengeluarkan cairan dari sakunya bersamaan dengan sapu tangan. Kemudian menghirupkannya pada Emma. Gadis itu awalnya meronta, namun, kemudian terkulai lemas tak berdaya.
"Tu--tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" Rosa mencoba melerai pertikaian yang tak seimbang antara Emma dan tuannya. Rosa merasa kasihan melihat Emma yang diperlakukan kasar, bahkan oleh tuannya sendiri. Rosa sudah seperti pengganti ibu bagi Lukas. Ia sedikit paham, mengapa sikap tuannya begitu. Pasti Emma merupakan tawanan dari kejanggalan bisnis yang sedang diurusnya. Bukan hanya sekali dua kali ada wanita yang menjadi penjamin pinjaman. Hal inilah yang membuat Lukas murka, karena, teringat insiden yang menjerat ibunya. Masa kecil Lukas penuh dengan luka, dan itu mempengaruhi kepribadiannya hingga dewasa.
"Tenanglah, Rosa. Gadis ini hanyalah budak pendosa," jawab Lukas sekenanya.
__ADS_1
Tak disangka, Sarah muncul di ambang pintu utama. Ia tampak terheran dengan kejadian yang menghebohkan rumah utama pada tengah malam yang biasanya tenang-tenang saja.
"Lukas, ada apa ini?"
"Sarah. Kembalilah ke kamarmu, nanti aku akan menyusul,"
"Ehm... Baiklah,"
Sarah mematuhi ucapan Lukas dan bergegas kembali ke paviliun. Selain menjadi terapis pribadi, banyak rumor yang mengatakan bahwa sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih. Namun, tak ada yang berani menanyakan kebenarannya pada tuan mereka. Kehadiran Sarah dianggap seperti angin karena tak memiliki kedudukan resmi sebagai nyonya rumah. Meski pelayan memperlakukannya dengan hormat dan sopan, namun, Sarah tak bisa menyuruh-nyuruh mereka dengan leluasa. Sarah bukanlah istri dari tuan mereka.
......................
"Wah, cantik sekali. Cocok!" ucap pria paruh baya bercerutu yang mengintip sosok Emma dari jendela mobil. Emma sedang dibopong oleh Lukas untuk ditunjukkan pada Bos Vano, pria berusia 55 tahun yang merupakan penggila gadis perawan.
"Uangnya?"
"Gus! Bawa kemari kopernya! COD kan?"
"Ya... "
Agus-- asisten Bos Vano tampak sedang membawa tiga buah koper besar, dengan uang dollar senilai 1 milyar rupiah, jika dikurskan. Uang Dolllar Amerika lebih ringkas dan sedikit, daripada harus membawa uang dalam bentuk rupiah.
Lukas menerima uang itu dengan pertukaran Emma. Bos Vano tak sabar ingin segera unboxing Emma di kamarnya, sebentar lagi.
"Akh! Lepaskan aku!!" Emma meronta dengan sekuat tenaga. Bos Vano tampak memandanginya dengan tatapan penuh gairah.
"Yah.... Yah! Begitu!! Ah, cantiknya!!" ujarnya sambil menenggelamkan wajahnya pada leher Emma. Gadis itu berteriak dan menangis dalam ketakutan. Bos Vano segera saja membawa Emma untuk masuk ke dalam Limousin-nya.
"Pak Lukas! Tolong, tolong jangan jual saya! Tolong! Saya akan melakukan apapun. Tolong!!" teriak Emma sambil meronta di atas gendongan pengawal Bos Vano.
Lukas memijit pelipisnya dengan gusar.
"Tsk!" decaknya kesal. Lukas masih tak bisa menerima perlakuan Jaka padanya. Ia berpikir, Emma pasti juga telah menerima uang dari Jaka, dan itu adalah uangnya. Mana mungkin gadis secantik Emma mau menikahi pria miskin seperti Jaka? Emma juga pasti seorang pendosa seperti suaminya.
"Hhhh.... " Lukas mengembuskan napas dengan kasar.
"Pak Lukas!! Tolong!! To---,"
BUG!
"Brisik!"
__ADS_1
Bos Vano memukul leher Emma sehingga gadis itu pingsan. Lukas naik pitam melihat pemandangan yang tak mengenakan itu. Ia lantas berlari ke arah Bos Vano dan merebut Emma kembali.
"Roy! Kembalikan uangnya!" tukas Lukas sambil membawa pulang kembali Emma yang tak sadarkan diri.
Hati kecil Lukas tak bisa menerima perlakuan Bos Vano yang kasar pada Emma. Ia merasa ada sesuatu yang menyakiti hatinya ketika melihat Emma dikasari oleh orang lain selain dirinya.
Perasaan itu sedikit asing untuknya. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti itu sejak ibunya meninggal dunia. Lukas tak pernah peduli pada wanita manapun. Ia juga tampak menyesali perbuatannya yang telah menjual Emma di situs gelap vandex.
"Loh! Loh! Tidak bisa begitu! Barangnya gabisa diminta balik! Sini! Kemarikan Emma!" teriak Bos Vano yang menghalangi jalan Lukas. Ia kemudian menyodorkan kembali tiga koper uang yang dikembalikan oleh Lukas.
"Saya berubah pikiran, maaf," ujar Lukas tegas dengan tatapan yang tajam. Ia tak suka diperintah.
"Tidak bisa! Saya udah kepalang tanggung pengen unboxing! Kemarikan Emma! Agus!! Hajar!!!"
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
Perkelahian tak terelakkan.
Kemampuan bertarung anak buah Bos Vano sungguh mengecewakan. Lukas berhasil memukul mundur 5 anak buah Bos Vano seorang diri.
"Ka--kamu! Tunggu pembalasanku!!" sumbar Bos Vano dengan kaki gemetar. Ia langsung meluncur membelah lengangnya Jakarta dengan Limousin-nya, tanpa Emma.
"Antar pulang gadis itu ke mansion," perintah Lukas yang sedang membersihkan diri dan mencuci luka bekas bertarungnya tadi.
"Bos.. Anda memang selalu baik hati," puji Roy sambil menepuk punggung bosnya, dan mengoleskan salep antiseptik di sekitar luka yang ada pada tangan dan siku Lukas.
"Hhhh..... Entahlah!" dengus Lukas sambil menahan perih. Ia juga tak tahu, mengapa bersikap labil seperti ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat perhitungan lain pada Jaka dan Emma.
Mereka pun kembali pulang ke mansion dengan formasi lengkap, seperti saat pergi tadi. Lukas juga melupakan janjinya untuk pergi ke kamar Sarah yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia malah bermalam di kamar Emma dan menunggu gadis itu bangun untuk memberi pelajaran lain, selain menjual keperawanannya.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1