Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 38 Dua Buronan


__ADS_3

"Bodoh! Kenapa tadi kau marah begitu?" hardik Askara yang memprotes kelakuan Roy.


"Aku gak ngerti cara main poker. Wanita itu juga sangat menyebalkan! Malas lah main terus," gerutu Roy dengan bersungut-sungut.


Roy adalah pemain nomor tiga yang melakukan fold dan pergi meninggalkan meja judi dengan wajah muram. Askara tentu saja sangat kesal dengan kelakuannya, untung saja penyamaran mereka tak terbongkar.


Roy dan Askara sedang berada dalam misi penyamaran untuk mencokok debitur buron yang berlokasi di Pulau Perawan, Kepulauan Seribu. Buronan itu siapa lagi kalau bukan Jaka alias Jack, mantan suami Emma? Ia masih belum melunasi hutang 500 juta rupiah dan malah menyodorkan istrinya.


"Sepertinya tadi dia keluar dari sini, ayo kita ikuti!" ucap Roy yang baru saja mengembalikan properti topeng ke resepsionis dan mengambil kembali mantel tebalnya.


"Roger," sahut Askara singkat.


Meski saat ini Emma sudah berganti suami karena diceraikan secara sepihak oleh Jaka, namun, Lukas tetap menaruh dendam padanya. Lukas tak akan melepaskan kasus ini begitu saja. Sejak beberapa hari yang lalu, Roy dan Askara ditugaskan untuk mencokok Jaka dan membawanya kembali ke ibu kota. Lukas akan memulai berhitung-hitung dengannya.


......................


"LEPASKAN!! LEPAS!!" teriak wanita bergaun merah yang sedang dikunci oleh seorang pria kekar dalam rengkuhannya.


"Serahkan kresek itu!" titah seorang pria ceking yang tak lain adalah bos para preman tersebut.


Wanita bergaun merah itu mendekap kantong plastik hitamnya dengan kuat dan erat. "Tidak mau!! Enak aja!!" tolaknya.


Amarah pria ceking itu semakin memuncak. "Rebut!!" perintahnya pada dua pria kekar yang saat ini sedang menjadi pengawal bayarannya.


Pria-pria itu lantas merebut kantong plastik yang berisikan chip judi yang sangat banyak. Wanita itu belum menukarkan chip ke dalam bentuk uang karena masih ingin ber-selfie dan mengenang malam panasnya bersama chip-chip berkilat yang menawan tersebut.


"Aaakh! Tolong!! Tolong!" teriak wanita itu memelas sambil mencoba mencari pertolongan. Ia sangat berharap akan ada mobil patroli yang lewat, atau orang baik yang bisa menyelamatkannya.


Siapa sangka, doa wanita itu langsung terjawab.


BUGH!!!


Sebuah tinju melayang ke wajah pria kekar yang sedang mengunci wanita tersebut.


"Aaakhh!!" teriaknya dengan mulut penuh darah. Pria kekar tadi terjengkang dan kesulitan untuk berdiri.


"A--apa-apaan ini????" protes pria ceking yang sedang menanti hasil rampokan dengan penuh harapan.

__ADS_1


"Lepaskan gadis itu!" perintah lawannya.


"Enak saja! Kau juga mau merampoknya? Yaudah, kalau gitu, kita bagi dua aja gimana?" ujarnya dengan penawaran yang tak bisa ditolak.


"Kelakuanmu itu sama saja ya? Jack?" ucap Roy, memecah kericuhan yang sedang terjadi.


"A--apa? Darimana kalian tahu namaku?" tanya Jaka dengan gugup. Dua pria kekar yang menjadi pengawalnya, tampak saling memandang.


"Bos, kita apakan mereka?"


"Kok masih nanya?? Hajar?!!"


Dengan sigap, dua pria kekar itu melayangkan tinju ke arah Askara, namun, segera ditepis olehnya. Askara kemudian memukul balik mereka dalam satu serangan.


BUGH!


BUGH!


JAB!


JAB!


Roy dan wanita bergaun merah tampak mundur beberapa langkah dan menyemangati Askara yang sedang bertarung sendirian.


"Hajar!! Hajar!!"


"Jangan sampai kalah, Tuan!"


Mereka tak ubahnya penonton sabung ayam yang hanya menyaksikan jagoannya saling serang di area pertarungan.


BUGH!


BUGH!


DUGG!


DUGG!

__ADS_1


BRUUUUKKK...


Tak butuh waktu lama, Askara akhirnya berhasil menumbangkan kedua lawannya dan memenangkan pertarungan. Dua pria kekar itu tampak babak belur dan tergeletak tak berdaya di jalanan lengang yang tak jauh dari Kasino "Royal Masks".


Jaka yang mengetahui para pengawalnya sekarat, tentu saja mengambil langkah seribu dan berlari meninggalkan area dengan tergesa. Namun, sayangnya, kecepatannya masih kalah dengan ayunan kaki Askara yang tak ubahnya seperti cheetah.


'GREEEP!'


"To--tolong.. Jangan sakiti aku!" pinta Jaka memelas. Ia kini tak lagi berteriak dengan angkuh dan hanya bisa meringkuk seperti ayam yang baru saja kehujanan.


"Ikut kami ke bos Lukas, dan bayar dosa-dosamu!" titah Askara sambil mengikat pergelangan tangan Jaka dengan tali tampar yang kuat dan erat. Ia lantas menggelandangnya menuju ke mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana.


Mendengar kata 'Lukas' wanita bergaun merah tadi langsung menciut. Niat hati ingin mengucapkan terima kasih dan rasa syukur, berubah menjadi naluri untuk kabur.


'GREEEP!'


"Eh, mau kemana, nona?" tanya Roy berbasa-basi sambil mencengkeram gaun merahnya yang menyala terang.


"To--tolong, jangan sakiti aku," pintanya memelas. Gadis itu kini tak lagi menari-nari dengan girang dan hanya bisa meringkuk seperti ayam yang baru saja kehujanan. Kedua tangannya juga telah terikat tali tampar yang kuat dan erat, sehingga ia tak bisa melarikan diri lagi seperti sebelumnya.


<"Bos, mission accomplished. Kami berhasil melempar dua burung dengan satu batu">


Lapor Askara pada bos Lukas yang sejak beberapa hari yang lalu sudah menunggu hasil operasi senyap mereka.


<"Kerja bagus! Aku akan mengirim armada jemputan"> sahut Lukas dari seberang sana dengan senyum kepuasan.


Askara dan Roy akan mendapatkan bonus yang besar karena bisa menangkap dua buronan yang diincar oleh Lukas secara bersamaan. Buronan pertama yang berhasil ditangkap adalah Jaka yang merupakan debitur buron dan telah menggelapkan uang 500 juta rupiah. Kemudian, buronan kedua adalah Yuki Ayumi, pengantin bayaran yang telah membawa pergi down payment atas pekerjaan yang tak diselesaikannya sebesar 100 juta rupiah. Akibat ulahnya, Lukas menjadi pusing dan harus menikahi Emma secara tiba-tiba.


...****************...


...Bersambung...


...****************...



......

__ADS_1


__ADS_2