
Emma tak menyangka jika Lukas datang sambil mengetuk pintunya, biasanya ia akan main buka saja dengan kasar.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Apa kau sudah tidur?" tanya Lukas berbasa-basi. Emma semakin menaruh curiga pada sikapnya.
"Sudah tadi, saya baru saja terbangun, Pak. Silakan bicara, biar saya bisa tidur lagi," tukas Emma yang tak ingin membuang waktu.
"Hei, jaga bicaramu," ujar Lukas dengan mata yang tajam. Emma mengulum bibirnya, tak ingin merespon ucapannya.
Lukas lalu duduk di ranjang Emma. Gadis itu tampak menjauh dari benturan lutut Lukas yang hampir menyentuh pahanya. Lukas tak merasa risih karena berada di ranjang seorang gadis, berbeda dengan Emma yang bahkan belum sempat menjalani malam pertama akibat gangguan Lukas yang telah menculiknya.
"Gini, soal urusan utang suamimu----"
"Saya udah gapunya suami,"
"Hhhh... Baiklah. Soal urusan utang Jaka. Katakan. Kau dapat berapa? Jujur saja, pasti kumaafkan," ucap Lukas tanpa nada ancaman.
"Sebentar... Jadi, Bapak pikir saya dapat uang dari Mas Jaka? Tidak, Pak! Saya malah dijual sama temen ke dia, dan kalau saya menolak menikahinya, saya harus bayar denda 500 juta!" jelas Emma dengan wajah penuh amarah. Ia tak menyangka bahwa selama ini Lukas telah salah paham kepadanya dan mengira bahwa Emma adalah kaki-tangan Jaka.
"Kau serius?"
"Sumpah demi Allah, Pak!"
"Baiklah. Kalau kau ketahuan menipuku, tamat riwayatmu!" ancam Lukas sambil merengkuh dagu Emma yang mungil dengan satu tangannya.
"Sekarang, katakan, apa mau, Anda? Kalau saya bisa membalas budi, tolong kembalikan saya ke tempat asal saya, Pak," pinta Emma memelas.
Lukas masih memerhatikan wajah Emma yang nampak cantik dan menawan dalam pantulan sinar rembulan yang menyusup dari jendela. Meski lampu kamar remang, namun, kecantikan Emma tetap bersinar. Lukas merasakan desiran asing yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia menjadi berhasrat untuk memiliki Emma dan membuatnya bertekuk lutut kepadanya.
"Aku akan membayar keperawanan yang kau jual kemarin,"
"TIDAK! Saya tidak akan mau menyerahkan satu-satunya harta saya!" jawab Emma tegas.
"Bukan itu maksudnya. Mari kita berhitung. Mantan suamimu punya hutang 500 juta. Meski kau bukan kaki-tangannya, aku tak bisa percaya begitu saja. Kau harus membayar kembali padaku!"
"Bagaimana caranya?? Saya tidak punya uang! Jahat sekali anda. Mengapa saya harus membayar hutang yang bukan milik saya?"
"Terserah! Pokoknya harus dibayar!"
Perdebatan makin memanas. Emma tak bisa berkata-kata. Ia hanya menahan tangisnya dalam diam. Lukas mengembuskan napasnya dengan kasar, dan ingin segera mengakhiri pertengkaran.
"1 milyar dikurangi 500 juta, berapa?"
__ADS_1
"Bapak bodoh? Nggak bisa matematika?"
"Jaga mulutmu! Cepat katakan! Berapa?"
"500 juta,"
"Aku beri kau 500 juta. Jadilah istriku,"
Emma yang sibuk mendongak agar air matanya tidak tumpah, kali ini tercengang sambil melihat ke arah Lukas.
"Ya? Permainan apa lagi ini?"
"Aku butuh pengantin. Sudah tak ada waktu!"
"Maksudnya apa? Bukannya anda punya kekasih?"
"Maksudmu Sarah? Dia hanya terapisku. Dia mantan adik kelas di panti asuhan dulu, panjang ceritanya. Katakan! Kau mau tidak?" tanya Lukas, kali ini dengan memegang kedua lengan Emma yang tampak putih dan mulus, meski kurang terawat.
"Bapak bercanda?"
"Tidak! Cepat! Buat keputusan!"
"Katakanlah, apa jawabanmu?"
"Ba--baiklah, Pak. Saya menyetujuinya," ucap Emma lirih dengan kepala menunduk.
"Bagus! Besok kita tanda tangan kontrak. Hanya setahun, lalu aku akan menceraikanmu. Bayaranmu 500 juta, bagaimana?"
Emma menelan ludah. Kapan lagi dia akan mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan jika bekerja sebagai bos, mungkin gaji tahunan tak akan sebesar itu.
'Ya Allah, maafkan hamba yang menjual diri demi uang. Tapi, hamba tak ada pilihan untuk bertahan hidup. Kalau menolak, pasti hamba juga dijadikan daging cincang' batin Emma bergejolak.
"Baiklah, Pak. Tapi, ada dua syarat yang harus bapak penuhi,"
"Katakan cepat. Aku ingin segera istirahat,"
Emma mulai jengah dengan sikap Lukas yang selalu memerintah dan memaksanya. Bagaimana ia akan bertahan hidup dengan model suami seperti itu? Emma harus membuat rencana demi dirinya sendiri. Ia akan mulai bersikap mirip seperti Lukas. Namun, entahlah, apakah Emma bisa?
"Hhhh..... " Emma kembali merenung dan menimbang-nimbang keputusannya. Menikah adalah keputusan sekali seumur hidup baginya, atau mungkin, tidak? Ia juga sudah pernah menikah dengan Jaka. Lalu, apa bedanya? Takdir cintanya rupanya harus bersaing dengan keberlangsungan hidupnya.
"Baiklah, Pak. Aku akan menjadi istrimu, dengan dua syarat. Jangan sentuh aku! Aku akan tetap jadi perawan! Lalu, daftarkan aku kuliah. Aku ingin menjadi sarjana," ujar Emma dengan mantap.
__ADS_1
"Baiklah, lakukan seperti itu. Aku juga tak sudi menyentuhmu! Ingat, pernikahan ini biar orang rumah dan keluarga saja yang tahu. Jangan harap kau bisa bermanja-manja seperti istri sungguhan padaku," ucap Lukas dengan angkuhnya.
Emma menggenggam jemarinya kuat-kuat. Ia harus terbiasa dengan sikap Lukas yang seperti preman itu. Emma bisa bertahan. Emma harus bertahan. Ini semua demi uang 500 juta dan masa depannya yang cerah.
"Baiklah, Pak. Saya paham,"
"Oke. Besok kita tanda tangani perjanjian di depan notaris. Lusa akad. Dan..... "
Lukas memindai tubuh calon istrinya yang berantakan dan sangat kampungan itu.
"Pergi belanja bersama Cici. Kau harus tampak seperti nyonya keluarga K-Group. Dandananmu saat ini sungguh menjijikkan," tukas Lukas sambil menyodorkan black card yang merupakan kartu kredit tanpa limit pada Emma.
"Ya, Pak. Saya akan melakukannya,"
"Kau bukan pembantu. Berhenti memanggilku seperti itu. Latihan. Panggil aku seperti suamimu,"
"Ehhm.... Mas?"
"Kau membuatku jadi kayak tukang kebon!"
"Baiklah, sayang? Gimana?"
"Hhmmm... Boleh juga. Baiklah. Itu saja. Jangan berbicara formal padaku. Ingat! Lakukan tugasmu dengan baik. Kita harus tampak seperti pasangan suami istri sungguhan, atau, kau harus bayar denda 2x lipat!"
"Baik, Pak. Eh, Oke, sa--yang.... " ucap Emma lirih sambil menolehkan pandangannya. Lukas yang belum pernah dipanggil seperti itu, juga ikut merona. Ia jadi salah tingkah.
"Ehem. Yasudah. Sampai jumpa besok, calon istri,"
BRAK!
Pintu ditutup dengan keras setelah Lukas keluar dari kamar Emma.
"Ya, begitu baru benar!" dengus Emma kesal karena Lukas kembali kasar, persis seperti saat pertama kali bertemu.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1