
Hari itu, ketika Lukas baru saja pulang ke mansion, ia dikejutkan oleh sebuah berita besar yang membuatnya kehilangan kendali. Setelah semalaman menjaga Sang Nenek yang mulai siuman, Lukas berencana untuk pulang sebentar, dan beristirahat.
Ia sangat mengharapkan waktu istirahat sebentar di rumah sebelum kembali ke rumah sakit pada malam harinya. Namun, alih-alih sambutan hangat dari Emma yang ia harapkan, Lukas malah mendapat kenyataan yang mengagetkan. Cici dan Rosa, dua pengurus rumah tangga mereka, buru-buru menghampirinya dengan gelagat cemas dan gelisah.
"Tuan... Maafkan kami... Kami tidak tahu apa yang terjadi... Nyonya... Nyonya..." ucap Cici dengan gemetar, tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Rosa, yang juga terlihat gugup, langsung menambahkan, "Maaf, tuan. Kami tidak menyangka ini bisa terjadi. Nyonya menghilang!"
Lukas, dengan rasa kebingungan yang meliputi dirinya, memandangi mereka berdua dengan ekspresi terkejut dan marah. Hatinya berdebar-debar, mencoba mencerna kenyataan bahwa Emma telah menghilang tanpa jejak.
Wajah Lukas memerah penuh amarah. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. "Apa maksud kalian? Segera jelaskan!" serunya, suara terdengar keras dan tegas.
"Kami tidak tahu apa-apa, Tuan," sahut Rosa gemetar.
"Sungguh... Sungguh kalian tidak tahu apa-apa? Bagaimana mungkin ini terjadi tanpa kalian tahu apa-apa?" pekik Lukas dengan suara yang bergetar oleh emosi yang tak terkendali.
Cici dan Rosa tampak ketakutan oleh reaksi Lukas yang begitu agresif. Mereka berusaha menjelaskan dengan tenang dan perlahan, supaya, Sang Tuan Rumah tidak semakin meledak-ledak.
"Tuan, kami tidak tahu persis apa yang terjadi. Kami menemukan surat itu setelah mencari-cari keberadaan Nyonya di seluruh mansion. Kami sungguh tidak tahu apa-apa, Tuan," ucap Rosa lirih.
Kedua pengurus rumah tangga tersebut saling pandang, tampak ketakutan dan kewalahan oleh reaksi Lukas. Cici, dengan gemetar, mencoba menjawab, "Tuan, kami... Kami menemukan surat ini di meja kamar Nyonya." Ia mengulurkan sebuah surat ke tangan Lukas. Sebuah amplop cokelat dan juga cincin nikah mereka yang sudah terlepas dari pemiliknya.
Lukas mengambil amplop tersebut dan membukanya. Ia terkejut setelah membaca isi dokumen di dalam amplop tersebut yang bertuliskan akta perceraian. "Gila!" rutuk Lukas sambil meremas akta itu dan membuangnya ke lantai. Rasa bingung dan amarah menjalari hatinya. Lukas tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini.
"Periksa CCTV dan selidiki aktivitas Emma sejak kemarin!" perintah Lukas, kemudian membuat sebuah panggilan telepon.
"Halo. Askara. Bangunlah. Aktifkan alat pelacak yang ada pada kalung Emma," perintahnya pada sang pelindung bayangan yang selalu bisa diandalkan.
"Baik, Bos!" ucap Askara tegas. Ia telah tertidur cukup lama, dan kali ini, Askara siap bertugas kembali bersama timnya.
Setelah beberapa saat melakukan pelacakan, akhirnya, Askara menemukan posisi terkini Sang Nyonya Rumah.
__ADS_1
"Nyonya ada di dermaga 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Bos!"
"Baik. Terima kasih," sahut Lukas, kemudian langsung menuju ke arah pelabuhan, diantar oleh Pak Hendro yang sudah bersiap di parkiran depan.
......................
Lukas merasa adrenalinnya menggelegak di dalam tubuhnya. Ia sangat kesal dan kecewa dengan akta perceraian yang diterimanya tadi. Lukas berusaha memahami apa yang telah terjadi pada istrinya yang tiba-tiba menuntut cerai dan menghilang begitu saja.
Tetapi, di balik kekacauan emosionalnya, ada keinginan yang kuat untuk menemukan Emma dan menyelidiki masalah ini secara cermat dan mendalam. Perubahan sikap Emma sejak kemarin telah membuat Lukas curiga. Ia tidak mengira, bahwa, Emma telah memutuskan sesuatu yang begitu penting seperti ini secara sepihak. Lukas benar-benar kecewa dan marah. Ia merasa telah dibuang begitu saja seperti sampah.
DRRRTT..
Ponsel Lukas bergetar. Sebuah panggilan dari mansion telah masuk ke salurannya.
"Tuan, saya baru menemukan jejak aktivitas Nyonya kemarin. Nyonya terlihat sedang bercengkrama dengan Nona Lucy kemarin. Itu saja yang saya tahu," ucap Rosa dari seberang telepon.
......................
Sesampainya di pelabuhan, Lukas tampak terkejut, tatkala melihat sesosok gadis dengan tudung hitam yang hendak menyebrang ke dalam kapal penumpang.
GREP!
Lukas segera menarik gadis itu, yang ia tahu itu adalah istrinya. Askara telah mengirimkan tautan lokasi terkini pada ponsel Lukas agar dapat melacak Emma secara real time. Tidak salah lagi, orang yang sedang menyeberang itu adalah Emma.
"MAU KEMANA KAMU?"
Lukas menariknya, hingga mungkin hampir terjatuh. Emma tampak terkejut dan tidak dapat menyeimbangkan badan.
PLUK!
__ADS_1
Lukas segera meraih Emma yang hampir saja terjatuh, dengan sekali tangkap. Ia lantas membopongnya dan menuruni tangga untuk kembali ke arah dermaga.
"Lu--Lukas? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Emma terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Lukas akan dengan mudah menemukannya seperti ini. Padahal, Emma sudah bersusah-payah untuk kabur dari penjagaan dan melarikan diri dengan seksama.
"Pertanyaan itu, tanyakan pada dirimu sendiri. Apa-apaan itu? Cerai? Jangan harap kau bisa. menceraikanku seperti itu!" hardik Lukas yang kini tak dapat menahan amarahnya.
Emma tampak terkejut dan takut dengan perubahan sikap Lukas yang tidak seperti biasanya. Namun, ia mencoba mengerti, karena, jika itu Emma, hatinya juga pasti akan hancur ketika menerima akta perceraian secara sepihak seperti itu.
"Ma--af," ucap Emma lirih, sambil mendekap erat lengan Lukas yang sedang menggendongnya.
"Maafmu tidak diterima sebelum memberi penjelasan!" tukas Lukas dingin. Ia benar-benar seperti dipermainkan. Lukas menjadi sangat sakit hati dengan gelagat Emma yang seperti itu. Ia merasa tidak dihargai sebagai pasangan. Emma mencoba mengerti, namun, hatinya terasa tersayat mendapati niat baiknya disalah-artikan seperti itu.
......................
"Aku....," Emma mulai berbicara, ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Pak Hendri keluar sebentar, karena Lukas dan Emma ingin berbicara empat mata secara rahasia.
"Katakan, Lucy bilang apa padamu? Kenapa kau sangat bodoh dan lebih mempercayai Lucy ketimbang suamimu sendiri?" tanya Lukas dengan geram.
Emma terlihat gemetar. Sudah lama ia tidak dibentak oleh Lukas seperti itu. Emma merasa telah kembali ke masa saat menjadi tahanan Lukas. Ia ketakutan dan tidak dapat berbicara dengan benar.
"Emma," Lukas tertegun melihat istrinya yang gemetar ketakutan. Ia kemudian memeluknya, dan menci-umi bibir Emma dengan perlahan. Kekesalan Lukas harus dibayar tuntas dengan pemenuhan has-ratnya sebagai pria. Emma harus mendapatkan hukuman.
"Aa... kh...," Emma terlena dalam permainan tipu daya sang suami, dan tidak akan pernah memenangi ronde kali ini.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1