
Sudah sehari semalam Kian ditugaskan untuk mencari bahan-bahan untuk membuat narkoba, namun, tidak juga ditemukannya.
Kian sudah mencoba mencari ke penjuru ibu kita, ke pasar, ke ahli kimia, namun, tidak juga mendapatkan barang yang ia inginkan: tanaman Macadonia.
Setibanya pria itu di kantor pusat, Lucy mulai mencecarnya dengan beragam pertanyaan yang mencekat.
Namun, tentu saja, ia hanya bisa menjawab dengan satu kata, "belum."
Lucy semakin sakit kepala, ditenggaknya pil penghilang pusing yang ia simpan di laci meja. Kepalanya berdenyut, hatinya menciut.
Tidak pernah dibayangkan olehnya, bahwa, membuat narkoba akan sesulit ini.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menemukan bahan-bahannya? Akh! Sial!" teriak Lucy sambil menjambak rambutnya.
"Lalu, bagaimana dengan ta--wanan kita?" tanya Kian gemetar, mengingat, Emma masih terduduk lemas di ruangan yang mereka kunci dari luar.
"Hih! Biarkan saja wanita itu! Aku harus fokus menyelamatkan cintaku!" sungut Lucy, tanpa mau peduli.
Kian menelan ludah, namun, ia tidak membantah.
Ajudan itu kini pamit undur diri, agar tidak semakin gelisah.
Siapa suruh bisnis narkoba, padahal, dengan bisnis minyak goreng saja, seharusnya bisa membuat kaya raya.
Di negara wakanda seperti ini, banyak sekali penikmat gorengan, sehingga pasti banyak yang beli.
Lucy ditinggal sendiri, dengan kecemasan yang masih melanda hati.
Toh, Kian juga tidak punya solusi. Ia tidak tahu, bagaimana lagi harus menghadapi sang bos yang memiliki banyak intrik tadi.
***
"Madam! Bebaskan kekasihku! Aku... akan menyerahkan rumah bordil itu!" ucap Lucy tegas, sambil meremas batang ponsel yang sedang ia gunakan.
Perasaan kesal bercampur amarah sedang merajai hatinya. Lucy mungkin tidak memiliki kesempatan lagi untuk membawa pulang cintanya, jika tidak berkorban harta.
"Cuih! Rumah bordil? Aku sudah punya banyak!" tolak Madam keras. Wanita asing itu tidak tampak tertarik dengan penawaran tak jelas dari pihak lawan.
Entah bagaimana, aliansi mereka mendadak berubah.
Kawan yang seharusnya saling membantu, kini menjadi lawan. Lucy sampai bingung dengan kelakuan sang nyonya bule tersebut.
"K--kau!"
"Sudah! Cepat cari penggantinya! Pokoknya, aku mau produksi narkoba!"
Madam memutuskan sambungan secara sepihak, dan tidak menggubris permintaan Lucy sama sekali.
__ADS_1
Wanita berhati es itu sungguh tidak akan segan menghabisi siapapun yang menghadap jalannya yang lapang.
***
Madam Linn, sosok mafia Kanada yang dingin dan kejam, kembali memasuki sel isolasi yang terletak di ujung lorong bangunan.
Lukas, yang konon adalah kekasih Lucy, sedang pingsan dan terikat di dalam sana.
Madam benar-benar tidak bisa memikirkan, bagaimana wanita cerdas seperti Lucy bisa mendadak bodoh dan seakan melepaskan segala hasrat duniawinya demi seorang pria.
Padahal, dia bahkan membunuh suami tuanya sendiri, ketika masih beristrikan mafia Kanada--yang merupakan rekan Madam Linn--dan berambisi menguasai bisnis di Indonesia dengan segala warisannya.
Sungguh, Madam Linn benar-benar tidak mengira.
"Cinta memang membuat bodoh, ya..." gumamnya, sambil melihat Lukas yang terkulai lemah dengan ekor matanya.
Kursi kayu yang rekat mendekap Lukas, seakan menjadi saksi biksu segala penganiayaan yang dilakukan oleh anak buah Madam.
Pria itu kini tampak tak sadarkan diri, dengan banyak luka di dahi.
Dengan perasaan dendam yang tak terukur, Madam Lin benar-benar ingin membuat perhitungan dengan Lucy yang kian melantur.
Lampu-lampu yang berada di ruangan itu tampak redup, sehingga, membuat siapapun yang berada di sana, seharusnya menjadi gugup.
Lukas yang terkunci dalam pandangan tajam Madam Linn, mencoba meronta, ketika kesadarannya telah tiba.
"Kau tidak akan bisa lari!" ucap Madam Linn sambil tersenyum sinis.
Gerak tubuhnya menandakan bahwa dia adalah penguasa yang sebenarnya di sini.
Wanita kejam itu kemudian menunjukkan kunci yang seakan menjadi benda pembebas dari segala rasa sakit yang Lukas alami: kunci ruang siksaan ini.
"Ambillah, jika kau ingin bebas dari sini," tukasnya dengan cemoohan yang tampak dari seluruh wajah dan gerakannya.
Lukas menggeram, ia sadar telah diterkam tanpa daya oleh seorang wanita yang tidak dikenalnya.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mencari masalah denganku?!"
"Aku? Hm... aku orang yang merugi di bisnis ini. Dan kau adalah salah satu penyebabnya," sahut Madam Linn dingin.
Lukas mengeraskan rahang, tidak merasa mengerti dengan segala omong kosong yang dilontarkan oleh wanita itu.
"Kau salah mencari lawan. Aku tidak akan tinggal diam!"
"Ya... ya... mengocehlah terus. Aku tidak peduli."
Lukas menatap Madam Linn dengan penuh rasa benci. Ia benar-benar akan membuat perhitungan dengan wanita antah-berantah itu.
__ADS_1
Madam Linn tertawa ringan, seakan merespon intimidasi sia-sia dari tawanannya.
Lukas kembali meronta, mencoba mencari cara untuk membebaskan dirinya, namun lagi-lagi, ikatan dari tali yang membelitnya terlalu kuat.
Ia bahkan tidak bisa menggerakkan ruang di antara tangannya. Lukas mulai berkeringat dingin, merasa bahwa semua usahanya bisa sia-sia.
Ia harus mulai merencanakan pelarian yang dapat membebaskan dirinya, tapi apa? Lukas sedang berpikir dengan otaknya.
"Bagaimana? Kau mau kunci ini?" Madam terus saja memprovokasinya. Namun, Lukas tampak tidak terlalu menggubrisnya.
Pikiran pria itu sedang berputar cepat dalam mencari jalan keluar dari situasi ini. Lukas harus bertindak taktis, agar, pelariannya menjadi praktis.
Madam Linn tampak semakin mendekat, mencoba bermain-main dengan mangsa yang telah diterkamnya.
Segurat kebanggaan menyeruak dari dalam dadanya, karena telah berhasil menculik Lukas, yang terkenal sebagai mafia.
Mafia apa? Anak kecil seperti ini hanyalah mangsa tanpa daya untuknya. Jam terbang Madam lebih tinggi daripada anak ingusan sepertinya.
"Haha! Haha! Haha!" Madam tiba-tiba tertawa, kala mengingat bagaimana manusia buruannya ini berhasil ada di tangannya.
"Jika kau pintar sedikit, seharusnya, pengawal pribadimu itu tidak melepaskan diri darimu," ejek Madam dengan angkuhnya, merujuk pada Askara yang tidak berada pada tempatnya.
Seandainya saja, Askara tidak terjebak dalam muslihat Lucy, sudah pasti, Madam akan gagal dalam menjalankan penculikan ini.
Askara, tidak bisa dianggap sebagai pengawal biasa.
"Kau terlalu cerewet!" maki Lukas, dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.
Pria itu tampak tenang, setelah mendapat kelonggaran pada tali yang mengikatnya. Kali ini, Lukas akan dapat membebaskan dirinya.
"Kau!"
"Berhentilah mengoceh!" hardik Lukas, yang kali ini telah berdiri dari tempatnya.
Tubuhnya yang tadinya ringkih tanpa daya, kini tegap menjulang, dengan aura intimadasi yang mencekam.
"Apa!" Madam Linn terkesiap, tatkala Pria itu telah dapat membebaskan dirinya.
Dengan segera, Lukas menyerang titik vital yang ada pada leher Madam Linn, dan membuat wanita itu kehilangan kesadarannya dengan segera.
"A--akh..." erang Madam Linn tiba-tiba, ketika Lukas telah menyergapnya.
"Mafia kok bacot!" makinya lagi, kemudian menyeret tubuh gempal itu mulai dari kaki.
Lukas kemudian membuka sendiri kunci ruang siksaan, seperti yang telah diperintahkan oleh Madam, sebelumnya.
Benar katanya, keluar dari ruangan ini, memang sangat mudah.
__ADS_1