
Lukas dan Emma menjadi pasangan suami-istri seutuhnya pada siang tadi, saat mereka mempertukarkan janji dengan ciuman yang seakan tak bertepi. Setibanya di mansion, mereka masih saling berbagi kehangatan dengan pelukan dan ciuman, meskipun tanpa perlu melakukan hubungan intim. Lukas dan Emma ingin menebus waktu yang terbuang selama ini akibat salah paham.
"Lukas, tidakkah kau lelah? Hah... hah..." ujar Emma terengah-engah, sambil mencoba menahan napas karena terus-menerus dicium oleh suaminya. Lukas tersenyum dan kemudian merebah di sisinya. "Baiklah, aku akan berhenti," bisiknya sambil mengelus wajah cantik Emma dengan lembut. "Istriku..." gumamnya dengan penuh makna. Emma terlihat malu, dan ia mendekat ke arah wajah suaminya dengan isyarat yang menggoda. "Ya, suamiku," sahutnya dengan senyuman manis. "Aku sangat beruntung menikahimu, meski semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Maafkan aku untuk perilaku sewenang-wenangku saat kita pertama kali bertemu," ucap Lukas penuh penyesalan, merujuk pada masa-masa awal hubungan mereka.
Emma hanya membalasnya dengan senyuman hangat. Ia bukanlah tipe orang yang pendendam. Bagi Emma, rasanya sudah cukup memuaskan bisa menjadi istri yang dicintai oleh suaminya, meskipun kadang mereka berselisih paham dan menjadi korban fitnah serta manipulasi dari beberapa pihak yang tak bertanggung-jawab.
"Lukas, jika kau benar-benar mencintaiku, bisakah kau memenuhi permintaanku?" pinta Emma yang ingin menguji cinta Lukas.
"Katakan saja, sayang. Jika aku bisa, pasti akan kulakukan," ucap Lukas dengan penuh keyakinan.
"Tolong berhenti mengunjungi Sarah untuk berobat. Aku akan mencarikanmu seorang terapis yang lebih kompeten,"
"Apakah ini karena kau cemburu?" tanya Lukas dengan nada setengah menggoda. Emma memalingkan wajahnya dan mengangguk tegas. "Baiklah, jika itulah yang diinginkan istriku, aku akan melakukannya," lanjut Lukas dengan tegas, sambil menciumi leher jenjang milik Emma dengan lembut. Suhu tubuh Emma naik secara tiba-tiba, membuat tengkuknya berubah rona menjadi merah muda.
"Euhmm... Jadi, apakah kita akan memiliki anak?" tanya Emma. "..... jika kau sudah sembuh," lanjutnya.
"Tentu saja. Aku ingin memiliki anak denganmu. Bantu aku untuk sembuh, ya?"
"Tentu saja, Sayang,"
Mereka saling berpelukan erat hingga akhirnya terlelap. Pertengkaran dan perselisihan yang terjadi selama ini seakan hanya menjadi bahan bakar bagi api cinta mereka. Kali ini, Lukas dan Emma tak akan menyerah begitu saja demi keutuhan rumah tangga mereka.
......................
...[Pavilun Barat, Mansion Lukas]...
__ADS_1
Keesokan paginya, ketika Sarah tiba di mansion setelah meninggalkan kliniknya, dia terkejut melihat para pengawal dan pelayan sedang mengeluarkan barang-barangnya secara paksa. Kemarahan membuncah dalam dirinya karena tidak terima dengan perlakuan tersebut.
Dengan suara keras, Sarah berteriak, "Apa-apaan ini???!!!" Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa barang-barangnya dibawa keluar begitu saja dari paviliun barat mansion Lukas.
"Pihak mansion telah memberikan perintah, Nona. Anda harus meninggalkan paviliun ini dengan segera," ucap salah seorang pengawal Lukas dengan nada yang tajam. Sarah merasa terkejut karena semua pengawal telah diganti. Dia tidak mengenal satu pun dari mereka karena penjagaan mansion diperketat setelah insiden Emma yang menghilang tiba-tiba semalam. Sarah bahkan tidak tahu bahwa Emma terlibat skandal dengan Ryan, karena itu memang dirahasiakan.
"Apa maksudmu? Di mana Lukas? Aku ingin bicara dengannya!" Sarah berteriak dengan amarah yang tak terbendung.
"Tuan Lukas sudah pergi bekerja. Nyonya Emma yang memberikan perintah kepada kami," jelas sang pengawal sambil terus menyeret koper-koper dan barang-barang Sarah ke luar.
Sarah merasa semakin marah dan tak terima dengan situasi ini. Dia segera mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Lukas, namun tidak ada respons. Kegelisahan dan kebingungan semakin memuncak dalam dirinya.
Tiba-tiba, Emma muncul dari arah rumah utama dengan sikap yang mengejutkan Sarah. "Mau apa lagi dengan suamiku? Belum cukupkah kau mempermainkannya? Sungguh menyedihkan!" tukas Emma dengan nada yang penuh kebencian.
Sarah berusaha menjelaskan dengan nada memelas, "Emma, apa yang terjadi? Mengapa kau bersikap seperti ini? Aku hanya terapisnya, Emma. Aku bukanlah orang jahat."
"Ta--tapi, Emma. Aku bisa menjelaskan," sahut Sarah masih mencoba membela diri. Sarah merasa terkejut mendengar bahwa Emma memiliki kecurigaan terhadap teh herbal yang diberikan pada Lukas setiap pagi. Namun, ia yakin, Emma tak mengetahui kandungan pasti teh tersebut. Hal itu karena senyawa rekayasa yang sedang dikembangkan oleh farmasi Lucy sangat kecil dan tidak terdeteksi.
"Sudah cukup! Mulai dari hari ini, kamu dipecat dan diusir dari kediaman Prasodjo. Silakan keluar dengan kakimu sendiri. Jika tidak mampu, aku yang akan menyeretmu keluar dengan tanganku sendiri," ancam Emma dengan suara tegas dan penuh determinasi.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingatlah, Emma, kau pasti akan mencariku lagi! Tunggulah!" Sarah balik mengancam sambil membawa pergi koper dan barang-barangnya ke dalam mobilnya. Walaupun terpojok, Sarah bertekad tidak akan melupakan kejadian memalukan ini.
Dengan suara mesin yang menderu, mobil Sarah menjauh dari mansion Lukas dan Emma untuk selamanya. Para pelayan yang sebelumnya mengeluhkan kehadirannya tampak bersorak dan bersuka-cita. Para pelayan merasa lega setelah melihat sosok Sarah akhirnya pergi dari mansion majikan mereka.
"Alhamdulillah, Nyonya! Akhirnya dia lenyap juga!" pekik Cici dengan penuh semangat. Emma hanya mengangguk sambil tersenyum. Emma merasa beban yang selama ini mengganggu kehidupannya akhirnya hilang. Dia merasa bersyukur bahwa Sarah akhirnya pergi dari mansion mereka.
"Iya, Ci. Lukas yang menyuruhku melakukan itu. Dia tidak tega mengusir Sarah secara langsung karena hubungan masa kecil mereka, jadi dia meminta bantuanku," kata Emma dengan suara pelan, membagikan rahasia tersebut kepada Cici.
__ADS_1
"Teman tapi menyusahkan! Itu bukanlah seorang teman, Nyah. Pokoknya syukurlah dia pergi. Kita tidak akan repot lagi," sahut Sri yang juga berada di paviliun.
"Sudahlah, biarkan saja. Ayo, mari kita kembali bekerja. Nyonya, Anda silakan beristirahat," ucap Rosa, mengakhiri percakapan para pelayan yang mulai melupakan tugas mereka.
"Baiklah, silakan kembali bekerja. Terima kasih, teman-teman," kata Emma sambil tersenyum. Dia merasakan kelegaan dalam hatinya, menikmati suasana harmonis yang akhirnya kembali tercipta di dalam mansion mereka.
Perlahan-lahan, kehidupan mereka mulai pulih dari kegoncangan yang disebabkan oleh Sarah. Emma dan Lukas kembali fokus membangun kebahagiaan rumah tangga mereka. Mereka saling mendukung dan berusaha memperbaiki segala kesalahan yang terjadi di masa lalu.
......................
Tuuuuuuuut.....
<"Halo?">
<"Nona, maaf, saya terusir dari mansion Lukas..">
<"Apa? Dasar bodoh! Kemari kau sekarang juga!">
Tut.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1