Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 23 Siaran Insta


__ADS_3

Sore hari di Pluit, masih panas. Hanya saja, suhunya berkurang 2 derajat, tapi tetap saja, es teh masih menjadi menu yang dinantikan oleh penghuni kampung 'Sinar Bersemi' yang sedang mengalami krisis penggusuran nanggung. Digusur kagak, kagak digusur iya. Mereka jadi sangat bingung dengan keadaan yang terjadi. Hari ini adalah titik balik perlawanan mereka.


Walikota dan Gubernur bahkan tak bisa membuat keputusan karena belum ada gugatan resmi yang masuk. Kubu K-Group dengan kubu warga masih bersaing dalam senyap demi citra mereka masing-masing. Di sinilah peran Emma yang akan memperjelas status keduanya.


......................


"SHIAAAP SEMUAAAA???" teriak Emma dari atas panggung dadakan yang baru saja dipasang dari meja-meja sekolah dasar. Pak RT meminjam properti desa untuk keperluan bersama. Selama tidak merusak dan mengubah bentuk meja menjadi serpihan kayu, kepala sekolah SD tentu saja memperbolehkannya.


Acara kuis dadakan yang disiarkan langsung di insta, tentu saja menyedot perhatian warga. Awalnya, para penonton hanya massa bayaran kubu Emma, namun, lambat laun, menjadi banyak. Para bocil juga ibu-ibu rempong ikut hadir supaya dapat membawa pulang segenggam uang yang ditumpuk di depan meja panitia.


"Siapa yang nemuin lampu pijar pertama kali?" tanya Emma serius. Ia mengedarkan pandangan ke arah para penonton. Tampak banyak yang ingin menjawab, namun, Emma akan menunjuk seseorang yang cukup senior sehingga bisa senam otak dengan pertanyaan yang dilontarkan.


"Yak, ibu yang pake roll rambut di sana itu. Panitia, kasih mik ke ibu itu,"


Seorang panitia berjalan ke arah ibu tersebut, dan memberikan mik supaya jawabannya tersiar ke seluruh warga.


"Ehem.. Ehem... Penemu lampu ye... Anu... Tadi, lakik gue, Mbak!!! Tadi die nemu lampu, tuh... Bener kagak jawabnnye?"


Emma melongo, tak menyangka bahwa pertanyaan serius akan dijawab ngawur oleh para peserta. Menyiasati hal itu, Emma segera mengganti genre kuisnya. Kuis cerdas-cermat menjadi kuis tidak cerdas dan tidak cermat.


"MBAK... JADI PEGIMANE, Jawabannya bener kagak??" tanya Bu Atik--wanita ber-roll rambut tadi dengan gigi yang menjulang. Rahang bawahnya tampak lebih maju daripada rahang bagian depan. Namun, itu membuat pesonanya semakin signifikan. Suaminya menjadi tergila-gila pada keunikan wajahnya. Begitu menurut penuturan Pak RT, selaku ketua warga setempat.


"YAK! BETOL! 100ribu buat Bu Atik!" teriak MC Emma yang membuat sorak-sorai para warga. Salah seorang panitia segera menghampiri Bu Atik dan memberi selembar uang hadiah yang dibungkus amplop berpita.


"Nah, pertanyaan kedua.... Siap-siap. Ehem. Gimana cara menggoreng ikan paus?" MC kembali melempar pertanyaan.

__ADS_1


Kali ini, karena sudah ganti genre, Emma jadi asal bicara. Yang penting acara kuis berlangsung seru dan ramai, sambil memancing perhatian para aktivis posko agar mau mendekat dan ikut menjadi peserta.


Tampak seorang bapak-bapak berpeci dengan singlet menggantung dan sarung tergulung, mengangkat tangannya.


"Yak! Bapak yang di sono-noh. Kasih mik, Gaes!"


"Ehem... Cara nggorengnya ya? Dipotong-potong, dilabur tepung, goreng garing. Uwenak.... " sahutnya simpel.


"Yak! Betol!!! Seratus ribu buat bapak!"


Panitia segera memberikan selembar uang hadiah yang dibungkus amplop berpita pada Pak Jaenal. Pria itu melonjak senang dan melambai-lambaikan uang hasil pemikiran mendalamnya ke arah warga lainnya.


"Pertanyaan terakhir buat sesi ini... Apa nama ikan yang bisa nyanyi?" tanya Emma sejurus kemudian.


Semua orang tampak berpikir. Namun, ada satu bocil yang mengangkat tangannya dengan tegas dan lugas. Panitia pun memberikan mik kepadanya.


"Ayo, cil! Jawab!! Buat belanja emak!" teriak salah seorang wanita yang mengaku Emaknya dengan penuh semangat.


"Ikan... Ikan.. Lelena Gomes!" jawabnya dengan tangan gemetar.


Emma tertawa terpingkal-pingkal. Para warga tampak marah dan bersungut-sungut setelah mendengar jawaban yang tak masuk akal. Emak si bocil ikut cemberut dan merasa gagal dalam mendidik anak yang katanya masa depan bangsa.


"Yak!! Betol!! Seratus ribu buat kamu!" seloroh Emma yang kemudian disambut oleh tepuk tangan panitia dan omelan para warga.


Selembar uang hadiah yang dibungkus amplop berpita telah sampai pada bocil itu, dan langsung berpindah tangan pada emaknya.

__ADS_1


"Kita istirahat dulu ya, sambil makan, mari dengarkan lantunan lagu dari Pak RT dan istrinya,"


PROK PROK PROK PROK!!!!!


Massa bergemuruh senang, ketika Uda Nino datang berkendara tossa lalu membagikan ratusan nasi bungkus yang sudah dipesan oleh Emma. Warga jejadian yang ada di posko, kali ini, tak bisa menolak rayuan panggung gembira. Nasi padang tentu saja menggugah selera, para aktivis pun meninggalkan posko, dan ikut nimbrung ke arah tossa.


"Bagus!" pekik Emma sambil melempar pandang ke arah Vita. Meski sedang mengantuk, Vita tetap semangat merekam siaran langsung kuis mereka. Rombongan aktivis bergabung dan ikut menikmati pembagian nasi bungkus yang masih hangat.


Pak RT dan bu RT tampak menyanyikan lagu nasional dengan gagah dan riang. Mereka memang sepasang warga yang hobi karaoke dan bertemu di pusat hiburan, lalu jatuh cinta. Tak ayal, mereka selalu didapuk menjadi pengisi acara panggung gembira, ketika event agustusan tiba.


"Vit. Geledah posko, cari barang bukti apapun yang menunjukkan mereka bukan warga sini. Biar gue yang menghibur penonton," seloroh Emma sambil menikmati nasi padang berlauk rendang itu dengan tajam.


Vita mengangguk, lantas mengoper ponsel Emma pada Jaya. Ia akan menunda makan sore demi keberhasilan misi mereka. Jaya akan menggantikannya merekam siaran kuis di insta.


...****************...


...Bersambung...


...****************...



......


__ADS_1


......


__ADS_2