
Malam yang mendebarkan telah berlalu, dan akhirnya Lukas dan Emma telah sampai di kediaman mereka. Mereka segera merebahkan diri di atas kasur, setelah memberi tahu Rosa bahwa mereka berdua dalam keadaan sehat. Lukas dan Emma akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman setelah peristiwa yang mengkhawatirkan sepanjang hari ini. Rosa, Cici, dan seluruh pegawai Mansion merasakan kecemasan yang mendalam, sementara Sang Nyonya rumah panik karena suaminya tidak kunjung datang.
Beruntungnya, tidak terjadi apa-apa. Lukas dan Emma akhirnya bisa kembali ke kediaman mereka dengan selamat.
......................
"Huah... Leganya... Akhirnya, bisa istirahat," ucap Emma sambil tersenyum, diikuti oleh Lukas.
"Tidurlah, Sayang... Pasti kamu lelah," Lukas dengan lembut membelai wajah lelah Emma. Dia tahu Emma tidak bisa tidur dengan tenang karena selalu khawatir tentang dirinya.
"Maaf," lanjutnya lagi, sambil mencium lembut kening Emma.
"Jangan ulangi lagi ya, Sayang. Aku khawatir terus," ucap Emma sambil merajuk.
Lukas tersenyum tipis, sambil memandangi wajah Emma yang terlihat letih. Dia tidak pernah menyangka bahwa wanita ini akan menjadi tempat perlindungan hatinya.
"Kenapa sih kamu melihatku begitu?" Emma menyipitkan matanya. Mereka berdua sedang berada di atas ranjang, setelah melewati waktu yang penuh tantangan. Mereka hanya butuh sejenak untuk istirahat, tetapi malah saling memandang.
"Kamu cantik," ujar Lukas sambil menciumi rambut panjang Emma yang menyentuh wajahnya.
Emma dan Lukas terbaring di atas ranjang, dalam suasana yang penuh keintiman. Lukas dengan lembut mengelus rambut Emma, sementara Emma memandangi matanya dengan penuh cinta.
"Malam ini begitu indah," bisik Emma dengan suara lembut, menyampaikan perasaannya yang dalam. "Apakah kamu menyadarinya, Sayang?" tanyanya mencoba menarik respon Lukas.
"Hhhh.. Maaf, Sayang. Tidak. Ada apakah? Ada yang sedang kulewatkan?" tanya Lukas merasa bersalah. Wajahnya berubah menjadi serius, padahal, ia sudah ingin merebah.
"Hihi.... Malam ini, malam sewaktu kamu menculik aku. Nggak ingat ya?" tanya Emma kemudian, mencoba menggali memori Lukas yang telah dipenuhi beragam kejadian. Emma juga hanya iseng bertanya, tanpa maksud lain. Namun, jika Lukas paham dan mengerti kode yang disampaikan, jelas saja Emma akan lebih bahagia.
"Berarti? Besok adalah peringatan satu tahun pernikahan kita? Benar begitu?" tanya Lukas sedetik kemudian, setelah mencoba mencerna makna senyum yang tersungging di bibir istrinya.
"Sayang.. Aku bangga pada ingatanmu," sahut Emma yang kali ini mulai mendekat ke dalam dekapan suaminya.
Lukas tersenyum dan memegang tangan Emma erat. "Kamu adalah bagian terindah dalam hidupku, Emma. Aku sangat tidak menyesal telah menculikmu waktu itu," tutur Lukas sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
"Ih! Dasar kamu!" Emma memukul gemas dada bidang Sang Suami tanpa maksud melukai. Tiba-tiba saja, ia teringat Jaka, mantan suami kontraknya juga, sama seperti Lukas. "Apa kabar Jaka ya, Sayang? Kamu pernah melihatnya?" tanya Emma secara mendadak.
DEG!
Lukas merasa tersentak. Ia kemudian menghela napas panjang, dan memijit pelan pelipisnya. "Ti--dak, Sayang," jawabnya berbohong. Hati nuraninya merasa tersakiti kala mengingat bahwa Jaka telah menghilang ditelan arus banjir. Lukas belum mengetahui bahwa Jaka dan Anthony telah tewas ditembak oleh pembunuh bayaran Madam Liz yang sedang bersiap dengan serangan lain yang lebih membahayakan.
"Hhhh..... Kalau ketemu dia, aku tidak jadi marah. Aku malah bersyukur, karena bisa ketemu kamu,"
Kata-kata Emma membuat Lukas merasa terharu. Ia juga merasakan hal yang sama. Lukas sangat beruntung bisa bertemu dengan Emma, dalam segala suka-duka hubungan mereka.
"Aku sayang kamu," ucap Lukas sambil mengecup kening Emma.
Emma merasa hatinya meleleh mendengar kata-kata Lukas. Ia merasakan kehangatan dan kasih sayang yang begitu besar di antara mereka. Dalam keheningan malam, cinta mereka menjadi semakin nyata dan kuat.
Mereka saling mendekat, merasakan kehadiran satu sama lain dengan intensitas yang tak terungkapkan. Di dalam kebersamaan mereka, mereka melupakan segala beban dan kekhawatiran, hanya ada cinta yang mengalir di antara mereka.
Dengan perlahan, mereka saling menci-um, menyatukan bibir mereka dalam kelembutan dan kehangatan. Setiap sentuhan, setiap ci-uman, membawa mereka ke dunia yang hanya mereka berdua yang menghuni.
"Aaakh... "
"Saa--yang," panggil Emma lirih. Lukas tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Ia mulai melakukan aksinya di atas ranjang mereka. Entah angin apa yang membuatnya seperti itu, namun, Lukas benar-benar merasakan, ada yang berbeda pada tubuhnya.
"Sayang.. Aku.. Sudah.. Mulai merasakannya," ucap Emma lirih sambil mendekatkan tubuhnya pada Sang Suami.
Lukas mengerti maksud Emma. Ia semakin melancarkan aksinya, me nin dih tubuh po los Emma dengan penuh keperkasaan, dan mulai melepaskan jerat belenggu yang selama ini mempermainkannya.
Malam itu, di dalam kehangatan ranjang, cinta mereka berkembang dan mekar dengan penuh gairah. Mereka menjadi satu, saling melengkapi dan menjadi pasangan suami istri yang sejati.
Pengobatan yang selama ini dilakukan oleh Lukas telah membuahkan hasil. Racun Makadonia telah menghilang sepenuhnya. Lukas, malam ini, telah bertransformasi menjadi lelaki perkasa, sesuai dengan fungsinya sebagai suami tercinta Emma.
"Aku sayang kamu,"
Bisikan mesra dan hangat dari Lukas, menjadi kunci akhir yang menjadi saksi dari hubungan mereka, yang semakin mengalir indah dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Meskipun, pernikahan mereka tidaklah dimulai secara mudah, namun, siapa yang mengira? Bahwa, ikatan itu dapat berkembang hingga menjadi sebuah dongeng yang seakan menyatu dalam keabadian.
Emma si yatim, akhirnya dapat merasakan menjadi seorang ratu agung K-Group, yang merupakan impian setiap gadis yang ada di Nusantara.
Posisi itu secara de facto dan de jure, menjadi milik Emma sepenuhnya. Lukas benar-benar seorang Raja tunggal yang tidak ingin membagikan hatinya pada siapapun, kecuali, Emma.
Malam tetap berlalu dalam keheningan dan peluh penuh dari kedua insan yang telah bermain cinta. Lukas dan Emma tertidur sambil berpelukan, merasakan kebersamaan yang tak ternilai dan tak dapat didapatkan, dalam setahun hubungan sah mereka.
Namun, mereka tak mengetahui, bahwa, malam pertama itu, adalah malam terakhir yang didapatkan dari perjalanan cinta yang penuh liku ini.
......................
Keesokan harinya, ketika Lukas sedang keluar sebentar untuk bertemu dengan kenalan, Emma masih berada di atas ranjang, mengumpulkan segenap kekuatan yang telah dikuras habis semalam.
...Kian'Maaf, aku ada urusan sebentar. Nanti kita makan siang bareng. Love you'...
Pesan memo Lukas tersemat di atas nakas ranjang mereka. Emma hanya tersenyum simpul ketika membacanya. "Wah, lihatlah Tuan Muda ini. Setelah menjamah semalaman, kini malah menghilang," gerutu Emma berpura-pura marah. Namun, ia menyadari bahwa, pekerjaan suaminya masih cukup banyak. Ia bahkan melewatkan waktu istirahat, dan masih harus berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya.
Tok Tok
"Silakan masuk," sahut Emma setelah berpakaian dengan benar.
"Nyo--nyonya....," Cici tampak takut untuk mengutarakan pesan yang ingin disampaikan.
"Ada apa, Cici?" tanya Emma penasaran. Ia melihat Cici yang tampak pucat dengan tangan gemetar. "Ada kabar apa?" Emma mulai menyelidik. Sepertinya, firasatnya kembali memburuk.
"Nyonya besar!! Nyonya besar kritis!" ucap Cici dengan bibir bergetar.
"Apa???!!!" Emma terperanjat dan melupakan segala hal. "Antarkan aku ke sana!" perintahnya tegas. Emma langsung bergegas ke rumah sakit milik mereka, yang ada di pusat kota Jakarta, untuk segera menemui neneknya.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1