
Siang hari di Pluit begitu terik dan menggelora. Emma sedang terdiam di sudut kamar Vita, setelah menghabiskan es teh, gelas keduanya.
Emma tampak merenung dan mencoret-coret kertas yang dimintanya pada Vita. Sudah beberapa waktu ini, Emma mengkhatamkan beberapa drama korea, seperti saran Cici. Ia jadi mengerti cara bersiasat dan menghadapi orang jahat tak tahu malu seperti Pak Toni.
"OKEH! Vit! Ayo kita ke Pak RT!" ajak Emma tiba-tiba setelah berhasil menyatukan garis-garis yang dibuatnya sendiri di kertas gambar tersebut.
Vita terkejut, karena baru saja ia hendak menarik guling yang agak jauh dari jangkauannya. Vita sudah bersiap untuk merem tapi gagal.
"Ngapain ke Pak RT?" tanyanya lagi.
"Udah, nanti juga tahu," seloroh Emma sembari mengepak barang-barangnya kembali ke tasnya. Ia juga sudah mengerti kasus yang terjadi antara K-Group dengan warga, dari berita di koran hari ini yang tadi diberi oleh Cici.
......................
"Assalamu'alaikum, Pak,"
"Waalaikumsalam, Mbak Vita? Ada perlu apa? Waduch... Baru juga saya mau boci, Mbak... " jawab Pak RT dengan raut wajah yang kesal.
"Yha, sama sih, Pak. Saya juga berencana begitu. Tapi, takdir berkata lain," tukas Vita tanpa senyuman. Ia menarik Emma yang sedang berdiri di belakangnya agar mendekat ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum, Pak. Kenalkan saya Emma. Teman kuliah Vita," sapa Emma ramah.
"Waduchhh... Siang-siang gini ada bidadari??? Mari-mari masuk!"
Mereka bertiga kemudian masuk ke rumah Pak RT dan membicarakan persoalan 'posko advokasi warga pura-pura' tersebut.
"Jadi gimana sih, Pak? Kok tidak ada tindakan dari pemimpin seperti bapak?" tanya Emma menuduh. Pak RT tampak jengkel dibuatnya.
"Ya, bukan ndak ada tindakan, Mbak! Tapi... Tapi... Kalah power," ujarnya tertunduk lesu.
"Power gimana?"
"Lohalah, Mbak... Jadi pemimpin itu tidak semudah itu, Ferguso! Kami diintimidasi preman-preman suruhan Pak Toni. Dia itu rentenir juga mbak, anak buahnya banyak. Jadi wakil RW juga hasil beli jabatan," ucap Pak RT sambil berbisik, takut ada tembok yang mendengar.
Emma terdiam sesaat. Vita tampak sibuk mengunyah kacang suguhan. Ternyata memang ada intimidasi yang terjadi baik di dalam maupun di luar warga Pluit, yang tentu tak diketahui oleh K-Group. Beruntung, Emma secara tak sengaja mampir ke rumah Vita, sehingga, sedikit-banyak, ia bisa menjadi mata-mata suaminya.
"Pak, mau saya bantu? Kebetulan saya ini selebgram dadakan. Saya mau bikin siaran langsung. Gimana?" ucap Emma sambil menunjukkan jumlah pengikut di sosial medianya yang ada di angka 500k.
__ADS_1
Emma menjadi selebgram dadakan setelah berbelanja di butik Gucih dan mengunggah foto bertagar #ootd #gucih #GetReadyWithMe dan #EmmaInAction. Gadis itu menjadi terkenal dan tergabung di geng sosialita insta. Tentu saja ini adalah ide Cici agar semua orang mengetahui pesona nyonya rumah mereka.
"Terus? Setelah siaran?"
"Yah, nanti orang akan menilai, apakah warga di posko warga asli sini atau bukan? Kita bongkar siasat Pak Toni yang mau menang sendiri! Sudah lah, Pak. Orang kayak Pak Toni, kalau dapat maunya, pasti uangnya disimpan sendiri. Percaya deh, Pak. Di kampung saya juga begitu,"
Pak RT mencoba menelaah situasi dan berpikir untung-rugi.
JEBRET!
Emma mengeluarkan segepok uang sebanyak 10 juta rupiah.
"A--apa ini, Mbak Emma?"
"Kalau Pak Toni bikin massa bayaran, kita juga bisa! Kumpulin anak muda karang taruna. Bayar pake ini," seloroh Emma yang membuat Pak RT dan Vita terperangah.
"Ba--baik, Mbak Emma. Ayo kita kesana satu jam lagi," Pak RT akhirnya membuat keputusan karena telah menerima cairan kehidupan.
Bu RT yang sedari tadi menguping dari balik dapur, buru-buru menyuguhkan es teh dan juga gorengan untuk menjamu tamu terhormat yang mendadak datang.
'Ya Allah, gajadi boci, malah ketiba rejeki, Alkhamdulilah.... ' batin pak RT dan bu RT hampir bersamaan, mereka saling melemparkan kode pandangan khas suami istri yang hanya diketahui oleh mereka. Alis naik-turun dengan hidung kembang-kempis dan arah tatapan ke segepok uang yang ada di meja.
"Di sono tuh, enak naspad-nya, murah, banyak pula porsinya," ujar Vita sambil mengeluarkan motornya dari garasi. Emma mengangguk dan mereka pun meluncur ke arah restoran yang ditunjukkan oleh Vita.
......................
"Bayar pake kartu bisa?" tanya Emma yang sudah kehabisan uang.
"Bisa mbak, cicilan juga boleh," ujar Uda Nino yang sedang girang karena mendapatkan pesanan 200 bungkus nasi padang, siang ini.
"Okay, tolong ya, Uda," Emma menyerahkan black card yang sudah berpindah kepemilikan. Jika dulu statusnya hanya dipinjamkan, kali ini, sudah dihibahkan. Emma akan menjalani hari-hari tanpa mengkhawatirkan uang.
"Nanti tolong diantar ke posko ya, Uda. Jam 3 sore," pesan Emma sambil menyerahkan nomor ponselnya.
"Baik, Mbak,"
"Vit, ayo, kita ke Pak RT lagi,"
__ADS_1
"Sip!"
Mereka pun meluncur kembali ke rumah Pak RT yang kali ini sudah dipasangi tikar dan juga tertumpuk banyak kardus air mineral. Aneka gorengan dan juga kacang-kacangan tampak terhidang di sana. Emma dan Vita saling pandang dengan rona gembira.
"Nah, ini! Kita sambit... Eh.. Sambut.. Mbak Emma... sponsor kita hari ini,"
PROK PROK PROK PROK!!!!
Emma melempar senyuman, dan langsung ditangkap dengan girang oleh para pemuda karang taruna. Namun, kegirangan itu sirna ketika Vita melotot di belakangnya sambil mengancam akan mencincang siapapun yang berani macam-macam dengan Emma.
"Nah, jadi begini. Nanti saya mau bikin panggung dadakan di deket posko. Trus, saya adain siaran langsung di insta. Temen-temen bertugas jadi massa yang pura-pura ikut kuis saya ya. Nanti saya bagikan duit beneran, sama nasi bungkus" ujar Emma memberikan pengarahan.
"Nah, nanti pas ke posko, saya akan lakukan hal yang sama, tapi tentu sambil wawancara. Nanti bakalan ketahuan kalau mereka bukan orang sini, kan? Pak RT jadi jurinya loh ya! Bapak yang paling tahu gimana tabiat orang sini," lanjutnya sambil memandang Pak RT dengan tatapan tajam. Awas saja kalau Pak RT tetap lembek seperti sebelum mendapatkan uang.
"Siap Mbak Emma. Gampang itu!" sahut Pak RT dengan tegas. Emma tersenyum lega.
"Yasudah. Tolong bikinkan panggung kecil aja di dekat posko. Ini, saya kasih 200 ribu per orang yang bikin panggung.
"Saya! Saya!"
"Ya, 4 orang aja. Sisanya, siap-siap jadi penonton ya!"
"Siap!!"
Setelah melakukan briefing dengan singkat. Emma dan Vita bersiap untuk merias wajah dan pakaian mereka. Selebgram dadakan akan beraksi untuk membongkar siasat Pak Toni yang menyusahkan semua warga.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
......
__ADS_1
......