Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 42 Hancur Hatiku


__ADS_3

Emma tampak muram, padahal, baru saja ia merasakan ketenangan setelah berbicara dari hati ke hati bersama Vita. Anehnya, ketika jam perkuliahan telah selesai, Emma kembali murung. Hal ini membuat Vita menjadi bingung.


"Emma, kok murung lagi, kenapa?" tanya Vita ketika selesai membereskan buku-buku dan alat tulis yang baru saja digunakan untuk mencatat materi dari bu Vira, dosen sosiologi. Emma hanya menggelengkan kepalanya, dan mencoba untuk tersenyum. "Nggak papa, kok," sahutnya lesu, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke luar kelas.


"We--wei.. Tunggu!" ucap Vita sambil menyeret tas bahunya yang masih tertinggal di lantai.


Emma berjalan perlahan tanpa semangat, menuju ke lobi kampus untuk menunggu jemputan dari Pak Hendro. Vita tampak tergopoh-gopoh menyusulnya sambil membawa banyak buku karena baru saja meminjamnya dari perpustakaan.


Ketika Vita hendak memanggil Emma supaya memperlambat langkahnya, Ryan tampak berjalan beriringan di sisinya. Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Vita, seakan memberi kode padanya untuk menjauh. Vita yang peka, mengangguk perlahan, dan memutar badannya 180 derajat, lantas melangkahkan kaki ke arah kantin. "Bye, Emma," desis Vita pelan, kemudian berjalan menjauhi mereka berdua.


Ryan masih melanjutkan langkahnya untuk mengiring gadis cantik yang tampak murung itu. Ia tak patah semangat, meski tak disadari oleh Emma. Gadis itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, dan kedua matanya fokus mengidentifikasi sebuah mobil yang ditugaskan untuk menjemputnya.


Emma lalu duduk di kursi lobi, mengeluarkan ponselnya dan mencari keberadaan Pak Hendro yang tak terlihat. Tanpa diduga, Ryan juga ikut duduk dengan santai di sampingnya, sambil menyodorkan sebuah coklat batang yang terlihat lezat.


"Ryan?" Emma terkejut dan baru menyadari keberadaan Ryan yang sedari tadi mengiringinya. "Kok di sini? Sejak kapan?" tanyanya kemudian.


"Sejak tadi dong. Nggak sadar? Nih buatmu, senyum dong," ujar Ryan dengan senyuman menggoda.


Emma tersenyum malu-malu, menerima cokelat itu dengan perlahan. "Terima kasih," ucapnya senang. Ia membuka bungkusan cokelat tersebut dan mulai memakannya, mencoba melupakan kekacauan yang sedang terjadi dalam hidupnya. "Enak!" seru Emma. Gadis itu mulai tersenyum kembal dengan ceria.


Ryan ikut gembira ketika suasana hati Emma mulai membaik. "Eh, Om Lukas, apa kabar?" tanya Ryan mencoba berbasa-basi. Emma hampir tersedak karena mendengar kata 'om' yang disematkan pada nama Lukas.


"Ba--baik," jawabnya singkat.


"Hm... Sepertinya ada yang nggak beres. Kenapa? Ada masalah? Kamu boleh cerita kalau mau," tutur Ryan dengan lembut. Ryan termasuk pria yang peka terhadap suasan hati seorang wanita.


Emma akhirnya menghela nafas dalam-dalam, lalu mencoba untuk menata kata yang ingin diungkapkannya. "Yah, benar. Kami sedang bertengkar, rasanya, aku perlu sesuatu untuk menjernihkan pikiran."

__ADS_1


Ryan mengangguk memahami. "Yah, memang begitulah berumah-tangga, ada saja masalahnya. Tapi, jangan murung dong. Hm...Gimana kalau kita pergi nonton bioskop? Ada film lucu yang baru tayang, loh!" ajak Ryan tiba-tiba.


Emma tersenyum lebar. Ajakan Ryan terdengar menarik. "Memangnya, boleh aku pergi ke bioskop bersamamu? A--apakah tidak membuat Lukas cemburu?" tanya Emma gamang.


"Eiyyy.... Memangnya kita sedang selingkuh? Kan enggak. Cuma teman nonton kok! Yuk!" Ryan meyakinkannya. Emma menganggukkan kepala dan beranjak dari kursinya. Ia lantas memberitahukan pada Pak Hendro supaya pulang duluan tanpanya.


Ryan lalu mengambil mobil sedannya yang terparkir tak jauh dari lobi utama.


TIIIN!


Mobil Ryan telah sampai di area penjemputan. Emma bergegas menuju ke arahnya sambil tersenyum gembira. Ia merasa hatinya menjadi lebih ringan, setidaknya untuk sementara. Dalam perjalanan menuju bioskop, mereka berbincang dan tertawa, saling bercerita tentang apapun. Entah kenapa, Emma merasa memiliki kesamaan dengan Ryan yang usianya tak jauh berbeda.


......................


...[Di Gerbang Mansion Lukas]...


"Tentu saja, Tuan Putri. Silakan masuk dan beristirahatlah," sahut Ryan dengan ramah. Jangankan pertolongan, melihat kebahagiaan Emma saja sudah cukup memuaskan hati Ryan. Ia tak bisa membayangkan betapa bahagianya jika setiap hari bisa bangun di sisi gadis cantik itu. Ryan tentu takkan pernah membiarkan air mata kesedihan mengalir di wajah Emma, barang sedetikpun.


Emma tampak melangkah menjauh, menuju ke arah pintu gerbang mansion, sementara Ryan masih memantau pergerakannya dari dalam mobil. Setelah dirasa aman, dan Emma sudah masuk ke dalam gerbang, Ryan memacu mobilnya untuk kembali ke apartemennya.


Ryan merasa senang dapat membantu Emma dalam kesulitan ini, tetapi juga merasakan kegelisahan di dalam hati. Perasaannya untuk Emma semakin kuat dan sulit untuk diabaikan. Meskipun dia sadar bahwa Emma sudah bersuami, cinta tidak mengenal batasan. Ryan tak bisa memungkiri keterikatan batin yang terjalin sejak awal pertemuan mereka.


......................


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun, tidak ada tanda-tanda suaminya sudah pulang ke rumah. Emma tidak terlalu memikirkannya. Ia segera naik ke atas dan mandi, lalu beristirahat, sesuai saran yang diucapkan oleh Ryan tadi.


"Fyuh, segarnya," desis Emma setelah mandi dan merebahkan diri ke kasur. Hanya perlu beberapa detik saja, sebelum ia tertidur. Emma tidak lagi menunggu Lukas agar bisa terlelap. Ia akan hidup dalam rutinitasnya sendiri dan mencoba kembali pada masa sebelum perasaannya tumbuh kuat pada suami kontraknya.

__ADS_1


Tiba-tiba, di dalam nyenyak tidurnya, Emma merasa haus. Ia membuka kedua matanya, dan memandang ke arah nakas. Botol minumnya tidak ada. Emma lupa meletakkannya dimana. Ia pun turun ke dapur untuk mencari air minum yang ada di sana. Samar-samar, Emma mendengar suara gemuruh dari arah luar. Ia tak bisa memungkiri rasa penasaran yang menyeruak di dalam batinnya.


"Suara apa ya itu? Seperti orang lagi kepedesan...." Emma melangkahkan kakinya ke luar melalui pintu samping dapur dan berjalan menuju ke arah paviliun barat.


"Hah... Hah... Hah.... "


Suaranya terdengar semakin jelas. Emma lantas mendekatkan dirinya lagi, agar dapat melihat dengan seksama.


"Haaaahh??!!" Emma terkesiap melihat suaminya sedang bercinta dengan Sarah yang dirumorkan sebagai selirnya. Tak terasa, air matanya tumpah tanpa diberi aba-aba. Emma berjalan mundur, dengan langkah teratur, tak ingin menciptakan kegaduhan atas perzinahan yang sedang mereka lakukan.


Emma benar-benar merasa hancur dan kecewa. Ia lantas berlari sekuat tenaga, meninggalkan mansion dan kenangan buruk yang ada di sana. Emma bahkan berlari tanpa alas kaki dan hanya memakai piyama saja. Ia benar-benar kalut dan tak tahu harus berbuat apa.


Tak terasa, langkah kakinya berhenti di sebuah kios sepi yang lampu-lampunya sudah padam. Emma terduduk kelelahan, dan bersandar pada dinding kios yang telah lapuk termakan cuaca.


"Ibuuuuk... Huhu... Hiks.. Hikss... Kenapa nasibku begini..... " rintih Emma dengan hati yang terluka. Seandainya saja, ia tak memberi ruang untuk cinta, tentu perasaannya akan baik-baik saja. Pernikahan kontrak ini memang seharusnya mengesampingkan cinta, dan hanya fokus pada tujuan bersama. Emma sadar dirinya telah bermain api sendiri. Sekarang, apinya telah membakar dirinya dimana-mana.


Di tengah kekalutan yang dirasakannya, sebuah langkah berat berderap tak jauh dari tempat duduk Emma. Gadis itu terkesiap. Ia tak menyangka ada seseorang yang saat ini sudah ada di hadapannya. Emma mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata, dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Hey, kenapa kamu menangis?"


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2