
Adegan kejar-kejaran antara Emma dan Lukas masih berlanjut. Meski Lukas mencoba memanggil Emma, gadis itu tetap berlari tanpa menghiraukan suaranya. Langkah cepatnya membuatnya kehilangan keseimbangan, dan tiba-tiba saja, ia tergelincir karena menginjak genangan air.
"Auch!" desahnya kesakitan saat tubuhnya terhempas ke tanah. Lukas segera mendekatinya dengan cepat.
"Emma!" serunya khawatir, sambil segera membantu Emma berdiri. Lukas merasa jantungnya berdegup lebih kencang ketika melihat istrinya terluka.
Emma menggenggam erat lengan Lukas untuk bangkit dari posisinya. Ia lantas menyingkirkan tangannya dengan cepat setelah berhasil bangkit dengan aman. Wajah Emma tampak pucat, dan nafasnya semakin kembang-kempis menahan gejolak keterkejutan yang tiba-tiba menyeruak.
"Emma....." panggil Lukas kembali mendekatinya.
Sekali lagi, gadis itu menjauh seperti kutub magnet yang menolak untuk menyatu.
"Emma, tolong dengarkan aku," tutur Lukas dengan nada yang lembut, mencoba menarik simpati istrinya.
"Apa lagi yang harus didengarkan? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melewati batas?" tukas Emma dengan tegas. Lukas menghela napas dalam-dalam. Ia tidak mengerti dengan sikap Emma yang seperti mawar berduri, terlihat indah dan wangi, namun menyakiti.
"Emma! Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Ada hal-hal yang perlu kau ketahui sebelum membuat kesimpulan sendiri," ucap Lukas masih tak ingin melepaskan istrinya.
Emma menatap Lukas dengan tatapan penuh emosi. Hatinya masih sulit melepaskan diri dari perasaan kesal dan cemburu yang memenuhi dirinya. Namun, ketika melihat ekspresi sendu yang terpancar di wajah Lukas, Emma merasa iba. Ia memutuskan untuk mendengarkan penjelasan dari suaminya.
Perlahan, Emma melepaskan genggaman tangannya dari lengan Lukas dan memandanginya dengan hati-hati. Ia mengatur nafasnya, mencoba menenangkan diri agar dapat mendengarkan dengan bijak.
"Baiklah," Emma akhirnya mengalah dengan hati terbuka. Ia tidak ingin menjadi wanita picik yang enggan mendengarkan sisi kebenaran dari pihak lain yang mungkin membutuhkan konfirmasi.
"Sebelum aku memulai, sekarang ceritakan padaku. Apa yang kau lihat malam itu?" tanya Lukas dengan tatapan mendalam. Ia ingin memastikan bahwa pengobatan impotensinya tidak disalahartikan oleh Emma sebagai bentuk perselingkuhan.
"A--aku melihatmu ti--tidur dengan wanita itu!" ucap Emma gemetar. Suaranya menjadi parau karena bercampur dengan kemarahan dan kecemburuan yang mendalam.
"Tidur dengan wanita? Apa? Aku hanya tertidur karena pengaruh obat! Apa maksudmu aku tidur dengannya? Tidak, Emma. Aku bersumpah!" ucap Lukas kebingungan. Hal terakhir yang diingatnya adalah tertidur setelah dihipnotis oleh Sarah dan meminum obat penenang yang biasa disediakan untuknya. Lukas tidak mengingat kejadian setelahnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu Lukas? Kamu pikir aku berbohong?"
"Bukan begitu maksudku, Emma. Aku benar-benar tidak berselingkuh dengan Sarah. Dia hanyalah terapisku. Aku.. Aku.. Memiliki penyakit yang kurahasiakan darimu,"
Emma terkejut mendengar penuturan Lukas. Jika ini soal penyakit serangan panik yang dideritanya, ia sudah tahu. "Bukankah aku sudah mengetahui penyakit serangan panikmu? Apakah kau perlu bermalam dengan wanita itu hanya untuk berobat? Bahkan kau menghindariku selama ini! Aku terluka, Lukas! Kau sungguh jahat padaku!" teriak Emma dengan suara bergetar.
Meski lelah karena telah berteriak dan berkejar-kejaran, Emma merasa lega. Ia akhirnya dapat mengungkapkan luapan perasaan yang selama ini terpendam. Setelah dihindari oleh Lukas selama beberapa waktu, perasaan Emma menjadi kacau dan tertekan. Kebingungan dan kekecewaan, berubah menjadi kemarahan dan ketidakpercayaan pada suaminya. Emma jadi tidak ingin mengkonfrontasi apapun dan memilih membuat asumsi sendiri atas kejadian yang terlihat oleh mata kepalanya.
Lukas yang sedang mendengar curahan hati istrinya, tampak terdiam. Ia tidak ingin memotong pembicaraan, dan belajar untuk meredam emosi setiap kali perkataan yang menyudutkan dirinya terlontar dari sisi Emma. Ia akan mendengarkan dengan tuntas, kemudian memberikan penjelasan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Lukas penuh arti.
"Ya, sudah. Sekarang, giliranmu untuk menjelaskan," tukas Emma masih dengan nada yang tajam.
Lukas menarik nafas dalam-dalam, sebelum membuat sebuah pengakuan.
"Dengarkanlah, Emma. Aku sebenarnya...Hhhh...." potong Lukas, mencoba memberanikan diri untuk membuat sebuah pengakuan besar.
"Hhhh... Emma... Aku.... Sebenarnya.... menderita....impotensi," lanjutnya dengan suara bergetar. Lukas sedang berusaha untuk menahan perasaan takut dan malu yang menyergapnya.
Emma, yang tadinya bersikap marah dan menggebu-gebu, kini hanya terdiam tak percaya. Ia mulai menatap wajah suaminya dengan pandangan yang berbeda.
"Lukas....." panggilnya lembut. "Be--benarkah itu?" tanyanya kemudian, merasa tak percaya dengan pengakuan yang baru saja ia dengar. Lukas hanya mengangguk pilu, mencoba menyembunyikan perasaan inferiornya dari Emma. Ia tidak ingin dikasihani ataupun dianggap lemah.
Emma akhirnya mendekat ke arahnya dan menggenggam kedua tangan Lukas dengan perlahan. "Terima kasih telah berbagi padaku. Sekarang katakan, kenapa kau bermalam di tempat Sarah? Hm? Apakah dia memang selirmu?" tanya Emma, mengalihkan pembicaraan.
Ia tidak ingin Lukas merasa rendah diri karena telah mengakui kelemahannya yang fatal bagi seorang pria. Emma sedikit paham mengapa akhir-akhir ini Lukas seakan menghindarinya. Namun, hal itu juga bukan pembenaran baginya untuk menghabiskan malam bersama selirnya.
"Tidak, Emma. Aku tidak memiliki siapapun kecuali kamu. Aku mencintaimu, Emma..." tutur Lukas dengan suara bergetar. Baru kali ini ia mengutarakan perasaan dan cintanya untuk seorang wanita. Lukas merasa malu dan tak berdaya dibuatnya.
__ADS_1
Emma tersenyum mendengar pernyataan cinta dari Lukas. Ia lalu memeluknya dalam-dalam, "Maafkan aku, Lukas. Aku juga mencintaimu," sahut Emma dengan lembut.
"Be--benarkah?" tanya Lukas tak percaya.
Emma tidak menjawab pertanyaan Lukas dengan kata-kata, tapi dengan ciuman yang lembut dan dalam. Mereka kemudian tenggelam dalam manisnya ciuman yang menggetarkan hati keduanya. Dunia seakan berhenti berputar, dan waktu yang mereka alami berdua seakan membeku. Lukas dan Emma berbaikan lewat sentuhan kasih sayang yang berbeda dari sebelumnya. Mereka mulai mengatur ulang perasaan cinta yang tumbuh tanpa disadari meski berawal dari pernikahan yang tiba-tiba.
"Hmmmph... "
Emma masih ingin meneruskan pembicaraan, namun, sergapan bibir Lukas tampak me-lumatnya dalam-dalam. Pria itu seakan ingin menguasai dunia Emma tanpa gangguan. Para pengawal dan ajudannya terlihat menjauhkan diri sejenak dari pandangan majikannya.
"Lu--lukas. Hentikan. Mereka melihat kita," sergah Emma mencoba untuk melepaskan diri. "Biarkan saja," Lukas masih ingin meninggalkan jejak-jejak cinta di bibir dan leher istrinya yang sangat anggun dan cantik itu. Lukas dan Emma larut dalam momen hari jadi resmi cinta mereka.
Segera setelah luapan gairah cinta mereda, Emma tetap merasa ada sesuatu yang perlu diungkapkan.
"Lukas. Kau belum mengatakan, mengapa kau bercinta dengan Sarah!" Emma menepis bibir Lukas yang seakan tak kunjung puas me-***** bibirnya. Emma masih ingin meluruskan kesalah-pahaman yang terjadi di antara mereka.
"Aku tidak bercinta dengannya. Aku hanya minum obat lalu tertidur. Itu saja," pungkasnya. "Sekarang, boleh aku menciummu lagi?" tanya Lukas dengan polosnya. Emma mengangguk perlahan sambil tersenyum manis yang berlangsung hanya sedetik saja, karena bibirnya sudah terhi-sap kembali dan tak meninggalkan bentuk lengkung sempurna.
Dalam kehangatan cinta yang membara, Emma tidak dapat menghentikan pikirannya yang terus terpaku pada segala trik yang dilakukan Sarah pada suaminya.
'Tunggulah, Sarah. Aku akan membalas perlakuanmu,' batin Emma meski tanpa suara, karena bibirnya masih sibuk mencicip bibir suaminya. Emma secara diam-diam akan merencanakan strategi untuk mengungkap kejahatan Sarah dan menjaga hubungan pernikahannya supaya tetap bergelora.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1
......