
Emma berjalan ke lantai selanjutnya, setelah berdandan di sebuah salon terkemuka. Cici sudah membungkus seperangkat alat make up beserta tutorial pemakaiannya langsung dari MUA-nya. Mereka juga mendapat akses khusus jika ingin dirias kapan pun mereka mau.
"Cici, sepertinya sudah cukup. Mari kita pulang," ucap Emma dengan menenteng belanjaan yang sangat banyak.
"Baiklah, Nona. Tunggu sebentar," ucap Cici yang sedang memeriksa ponselnya.
"Ada sms dari tuan. Nona, belilah ponsel. Tuan bilang begitu,"
"Ah, ya benar. Aku tak punya ponsel. Baiklah," Emma memangguk. Mereka lantas pergi ke pemberhentian terakhir di Plaza, ke konter ponsel. Tak sengaja, mereka bertemu dengan Sarah yang sedang menyervis ponselnya.
"Halo, Mbak," sapa Cici ramah, namun, menjaga Emma agar tak terlalu dekat dengannya.
"Kamu pelayan Lukas, ya?" tanya Sarah dengan ramah, meski sangat diskriminatif.
"Benar,";
"Siapa di sebelahmu? Teman sesama pelayan?" tanya Sarah pura-pura tak tahu. Cici jengkel dibuatnya. Ia lantas sesumbar.
"Bukan. Ini calon istri tuan besar," tukasnya cepat. Emma menarik baju Cici supaya tak menimbulkan keributan.
"Apa maksudmu?"
"Seperti yang Mbak dengar, Non Emma calon istri tuan besar,"
Sarah merasa kalah. Ia menggeretakkan giginya, namun tetap menjaga sikap.
__ADS_1
"Bu, ponselnya sudah selesai diperbaiki," ujar pelayan toko membuyarkan perang dingin mereka. Sarah telah menandai Cici, dan akan membalas perbuatannya nanti.
"Mas, tolong bungkuskan ponsel paling baru dan paling mahal di sini, sekarang," perintah Cici sengaja sedikit berteriak agar terdengar oleh Sarah yang meninggalkan mereka tiba-tiba. Benar saja, Sarah mendengarnya, dan ia lebih uring-uringan lagi. Ponsel retak yang baru saja ia perbaiki, kini pecah lagi karena dibanting dengan kekuatan tinggi. Kali ini, ponselnya hancur berkeping-keping.
......................
Tak terasa, malam hari tiba. Penghulu sudah di ada di ruang tamu mereka. Menyisakan kebahagiaan yang nampak pada penghuni rumah utama di mansion milik Lukas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Emmaliawati binti Muhammad Husen, alm. Dengan sebatang emas 24 karat seberat 1 kilogram, dibayar tunai," ucap Lukas dalam satu tarikan napas.
"Sah?" tanya penghulu pada tamu undangan.
"Sah?!!!" teriak mereka hampir bersamaan.
PROK PROK PROK PROK
"Kau harus perlakukan Emma dengan baik. Awas kalau tidak!" ancam Neneknya di hadapan semua orang agar mereka dapat menjadi saksi hidup dan melapor padanya ketika diminta.
"Baik, Nek," jawab Lukas sambil tersenyum kecut ke arah neneknya. Emma mengulum senyum menahan tawa. Ia merindukan keluarganya. Kehadiran nenek Lukas bagaikan oase di tengah penderitaan hidupnya. Emma sangat bersyukur dapat memiliki keluarga baru sepertinya.
"Kami pamit dulu, Pak, Bu. Selamat atas pernikahannya. Semoga barokah," ucap penghulu beserta staff KUA dan wali hakim yang mewakili Emma. Mereka bertolak dari rumah utama, menuju ke acara pernikahan berikutnya. Suasana di rumah utama penuh dengan gelak tawa bahagia. Pesta kecil sesuai syarat Lukas pada neneknya, terlaksana tanpa kendala. Hanya ada satu orang yang gusar seperti sedang menelan lava dan tampil tanpa senyuman, Sarah. Gadis itu cemburu buta karena pria incarannya telah jatuh di pelukan wanita lain. Namun, ia tak kurang akal. Sarah pasti akan merebutnya kembali, meski harus rela menyandang status hanya sebagai selir saja.
......................
Malam pertama pun tiba. Emma sangat gugup, begitu juga dengan Lukas, meski pria itu tak menunjukkannya.
__ADS_1
"Tanda tangan di sini," perintah Lukas dengan mengulurkan sebuah dokumen bernomor resmi sebagai perjanjian pranikah mereka.
Emma menurut, dan membubuhkan tanda tangannya. "Lalu, bagaimana kita harus tidur?" tanyanya kemudian. Lukas tersenyum sinis, seolah mengartikan sesuati yang lain dari pertanyaan Emma yang kini menjadi istrinya.
"Apa kau mau aku unboxing?" tanya Lukas dengan nada ejekan. Emma membulatkan matanya, tangannya menggenggam penuh amarah. "Apa kau sudah gila, tuan? Baca lagi lah perjanjian kita," jawabnya dengan tegas.
"Wah, sudah berani ya, sekarang," tukas Lukas kali ini mendekatkan tubuh Emma padanya dengan paksa. Ia mulai menarik dagu gadis itu dan seolah hendak menciumnya.
"Aku pun tak sudi mendekatimu lebih dari ini," ujarnya berbisik ke dalam daun telinga Emma. Menyisakan desiran hebat yang menggelorakan jiwa gadis muda itu. Emma terduduk dengan tangis tertahan. Ia bersumpah tak akan pernah meminta perhatian atau pun kasih sayang pada siapapun juga. Emma akan bertahan dengan tekadnya sendiri.
"Setidaknya, janganlah keluar kamar. Kau tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa. Ini adalah malam pertama kita, jangan membuat gaduh," ujar Emma dan bergegas memindahkan bantal dan selimut ke sofa yang ada di dekat ranjang mereka. Padahal, kamar pengantin sudah didekorasi begitu indah dan intim, siap untuk menjadi saksi bisu unboxing, namun, mereka malah tidur masing-masing.
Lukas tak menjawab, dan langsung meringkuk di ranjang. Ia lelah karena seharian bekerja, lalu menikah. Namun, Lukas puas, karena pernikahannya berlangsung singkat dan cepat, serta tidak ribet. Ia tak bisa membayangkan jika harus berdiri berjam-jam di hadapan tamu undangan, seperti ketika teman-temannya menggelar resepsi pernikahan.
Emma kesal karena kata-katanya tak digubris oleh Lukas. Ia memejamkan mata dengan hati dongkol dan penuh amarah. Namun, ada secercah harapan baru yang didapatkannya. Besok, dengan statusnya sebagai nyonya rumah, Emma bisa leluasa jalan-jalan. Pertama-tama, ia akan menghubungi ibunya kemudian pergi kuliah. Lukas telah mendaftarkannya ke kampus Adi Luhung yang terletak di seberang gedung K-Group. Dalam hati, Emma mensyukuri nasib barunya sebagai istri bos besar. Segala hal yang selama ini mustahil baginya, dapat ia lakukan seperti membalikkan telapak tangan. Asalkan, ia patuh dan menuruti syarat dari suaminya, Emma tentu tak akan kesulitan bertahan hidup di ibu kota.
"Ah, akhirnya.... Aku bisa meneruskan kuliah. Syukurlah. Nggak sabar besok bisa kuliah," gumamnya kemudian menutup mata.
Lukas, yang mendengarkan gumaman Emma dari balik selimut, ikut tersenyum juga. Ia hanya berpura-pura tidur karena desakan hasratnya yang tak tertahankan. Namun, Lukas teringat sebuah kelainan yang dideritanya. Ia tak bisa merasakan kebahagiaan berumah-tangga karenanya. Lukas tak ingin larut dalam ratapan. Ia adalah orang yang berdarah dingin dan memikirkan masa depan. Kelainan miliknya ini, suatu saat pasti bisa disembuhkan. Sarah pasti bisa membantunya. Karena alasan itulah, Sarah menjadi terapis pribadinya, dan bahkan diboyong ke paviliun milik Lukas, tak jauh dari rumah utama.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1