Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 39 Dihindari Lukas


__ADS_3

Beberapa hari setelah insiden ciuman tanggung antara Lukas dan Emma, hubungan keduanya kembali memburuk. Sudah beberapa waktu ini, Emma merasa dihindari oleh Lukas. Tidak biasanya Lukas pergi ke kantor saat pagi buta, bahkan seakan sedang berlomba dengan kokok si jago yang sering hampir disembelih oleh Sarah karena selalu mengganggu tidurnya.


"Ci, Lukas udah jalan?" tanya Emma ketika baru beranjak dari ranjangnya. Cici mengangguk dengan wajah muram, seakan mengetahui bahwa nyonya dan tuannya sedang berseteru.


"Nyonya, yang sabar ya," ujarnya, sambil terus mengepel lantai tiga sejak tadi. Emma hanya menghela napas dengan berat dan mencoba mengerti. 'Huv, mungkin memang benar, aku sudah kelewat batas' batinnya. Emma kembali murung, namun tetap bersikap profesional dan bersiap untuk pergi ke kampus, karena hari liburnya telah berakhir.


......................


...[Di Kampus]...


Suasana di Universitas Adi Luhung tampak seperti biasanya. Dengan hingar-bingar rutinitas civitas akademika yang saling bersinggungan dan membuat atmosfer edukatif yang khas di sana.


Emma berjalan dengan langkah perlahan, menuju ke kelasnya yang terletak di bagian utara kampus, tepat di bangunan utama. Meski hatinya murung, Emma tetap tegar dalam menuntut ilmu, mempertahankan janji yang pernah ia berikan pada dirinya sendiri saat menyetujui pinangan untuk menjadi istri kontrak Lukas, beberapa waktu yang lalu.


"Dor!" Suara menggelegar dari Vita mengejutkan Emma yang sedang larut dslam kekacauan pikirannya.


"Astaghfirullah! Kaget aku!" Emma terlonjak dan hampir terjatuh akibat kejutan mendadak dari Vita.


"Ngelamun aja, Neng? Mikirin Ryan ya?" goda Vita dengan nada asal-asalan.


"Husssh! Udah dibilang bukan, ih..." sahut Emma dengan gusar. Ia terlihat menyimpan suatu perasaan yang mengganjal dan ingin segera diungkapkan, namun, ia bingung bagaimana cara melakukannya.


"Hm... Apakah anda sedang galau?" tanya Vita menebak dengan sok formal, dan ternyata, tebakannya memang benar.


"Huvvv.. Entahlah, gue boleh curhat nggak?" tanya Emma memelas, Vita tentu saja mengangguk keras. Ia sangat gembira bisa mendengarkan curahan hati sahabatnya. "Ayo kita ke kantin!" ajaknya sambil menyeret Emma yang tampak lesu.


"Okay," sahut Emma setuju. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin kampus yang terletak di lantai dua. Masih tersisa sekitar 30 menit sebelum perkuliahan pertama dimulai. Emma dan Vita berencana untuk memanfaatkannya dengan baik, berbagi cerita dan mengurai pikiran agar dapat menghadapi perkuliahan dengan tenang.


......................


...[Di Kantin Kampus]...


"Ehem. Jadi, teman gue ini udah nikah, kemarin curhat sama gue," ujar Emma membuka cerita yang ingin dia sampaikan untuk melepaskan beban pikirannya.


"Okay, terus?" sahut Vita dengan penuh perhatian.


"Eum.. Dia penasaran, kenapa sih suaminya nggak mau melakukan malam pertama? Padahal mereka udah menikah lebih dari sebulan,"

__ADS_1


"Oh.. Jadi lo udah nikah? Makanya nggak mau dijodohin," ucap Vita dengan asumsi, meski tak terlalu terkejut.


"Eeeh... Ko--kok lo tau sih?" Emma tergagap dalam menjawab pertanyaan Vita. Dia tidak menyangka bahwa alasan untuk mengalihkan pembicaraan malah membuatnya harus mengungkapkan statusnya pada Vita. "Tapi, jangan bilang-bilang ya, biar enak aja jadi mahasiswa. Nggak mau lah gue bikin skandal!"


"Eiiyy... Skandal apa? Kan itu suami sendiri, bukan suami orang lain, kan?"


"Iya sih, memangnya gue pelakor!"


"Buahahahaa..... "


Emma dan Vita tak bisa menahan tawa mereka. "Oke, lanjut yuk. Menurut gue, hmm... Apakah istrinya kurang menarik? Hm... Mari kita lihat," Vita mulai memperhatikan Emma dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis dengan rambut panjang itu terlihat memesona dalam balutan kaos putih dan rok mini denim yang terlihat sporty dan chic. Vita tidak bisa menyangkal kecantikan Emma yang di atas rata-rata.



"Padahal, lo cantik gini. Apa yang salah ya?" tanya Vita tak habis pikir.


Emma menjawab dengan senyum malu-malu. "Ah, lo aja yang bilang begitu, Vit. Tapi sejujurnya, gue juga nggak tahu kenapa dia nggak mau menyentuh gue. Rasanya agak khawatir juga sih."


"Suami lo gay kali?" seloroh Vita yang membuat Emma membelalakkan matanya.


"Impoten, mungkin?" tebak Vita kemudian. Emma terhenyak mendengar kata 'impoten'. Sungguh, kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan.


"Vit, jangan bercanda kayak gitu ah. Ngeri tau... " sergah Emma yang merasa tak nyaman. Wajahnya kini makin muram. Vita menjadi salah tingkah dan meminta maaf karena telah berkata yang tak pantas tentang suaminya. Ia lantas mengubah mode bicaranya menjadi lebih simpatik.


"Emang udah lo tanya ke dia langsung?"


Emma menggelengkan kepala. "Belum berani, sih. gue takut bikin dia marah atau tersinggung. Padahal seharusnya ini masalah yang bisa kita bicarakan sebagai suami-istri, ya kan?"


Vita merespons dengan bijaksana. "Iya, seharusnya komunikasi itu penting dalam pernikahan. Mungkin lo harus coba bicarain baik-baik. Siapa tahu ada alasan khusus di balik sikapnya itu,"


Emma mengangguk setuju. "Iya, mungkin gue harus berani ngajak bicara kali ya? Siapa tahu ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Thanks, Vit. Selalu ada buat gue," ucap Emma sambil memeluk Vita.


Vita tersenyum dan membalas pelukannya. "Kita kan sahabat, Em. Gue selalu siap mendengarkan dan memberi dukungan. Jangan ragu untuk berbagi apapun."


Dengan perasaan lega dan semangat baru, Emma dan Vita melanjutkan langkah mereka menuju ke kelas. Tak sengaja, mereka berpapasan dengan segerombol mahasiswa yang sedang menuju ke arah mereka berdua.


"Hai! Emma! Vita! Kita nonton loh, live insta-loe. Keren banget!" ucap seorang mahasiswi yang bernama Rani. Seseorang di sebelahnya juga mengangguk setuju.

__ADS_1


"Makasih ya," sahut Emma dan Vita hampir bersamaan.


"Eh, kita mau adain trip nih. Mau ikut nggak?" ujar Lala yang ada di sebelah Rani, mencoba merayu mereka.


"Bayar nggak?" tanya Vita langsung blak-blakan.


"Ya bayar lah.. Hehehe.. Tapi, kita kasih diskon deh, kalau buat Emma dan Vita, asal live insta, gimana?" tawarnya kemudian.


"Hm.. Nanti kita pikirin ya. Ada selebarannya nggak? Biar dibaca-baca dulu dan izin mamaku," tanya Vita.


"Ada dong! Nih.. Nih....," Rani memberikan dua lembar pamflet berjudul 'Wondertrip with Ranz Team'. Destinasi wisata bulan ini yang ditawarkan adalah perjalanan tiga hari dua malam ke kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Perawan. Para peserta akan diajak menjelajahi keindahan pulau tersebut dan menikmati hiburan malam yang terkenal sebagai "Macau-nya Indonesia".


Vita tampak tertarik dengan penawaran dari Rani dan Lala. Ia memandang Emma dengan tatapan penuh harap, berharap Emma akan ikut serta. Namun, Emma belum bisa memastikan keikutsertaannya. Selain itu, Emma dan Lukas bahkan tidak bertegur sapa selama beberapa hari ini. Emma semakin tak yakin dalam mengambil keputusan.


"Nanti deh, diusahakan,"


"Hore!" Vita memekik kegirangan sambil memeluk sahabatnya dengan erat. Emma tersenyum simpul melihat tingkah laku Vita. Lala dan Rani pamit untuk menyebarkan pamflet ke teman-teman lainnya. Mereka pun berpisah jalan.


Emma benar-benar bingung harus berbuat apa. Akhirnya, dengan hati berdebar, ia memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada Lukas.



[sent]


Tak berlangsung lama, pesan balasan dari Lukas datang.



Emma membelalakkan matanya, tak percaya dengan respon yang baru saja diterimanya. Amarah dan rasa malu bercampur jadi satu, sehingga ia makin uring-uringan. Emma mencengkeram ponselnya dengan kuat, pertanda kesal. Setelah ini, Emma bertekad untuk tidak mengirim pesan terlebih dahulu pada Lukas, kecuali dalam Keadaan yang benar-benar darurat.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2