Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 63 Pencarian Mak Perot #1


__ADS_3

Pak Ujang mempersilahkan Nyonya Han dan sopirnya untuk masuk ke rumah petak sederhana miliknya, sambil berbincang tentang Mak Perot dan kliniknya yang sudah tutup.


"Bu, mari masuk, tapi saya mau mandi dulu sebentar. Badan lengket habis ngojek," ujar Pak Ujang sambil menyuruh istrinya untuk membuatkan dua gelas teh hangat, mengingat tamunya merupakan orang luar kota. Plat mobil milik wanita tua itu menunjukkan bahwa kendaraan tersebut berasal dari DKI Jakarta.


"Terima kasih," sahut Nyonya Han sambil melangkah ke dalam rumah Pak Ujang. Bagi Nyonya Han, rumah itu cukup sempit, karena ia terbiasa hidup di mansion. Namun, ia menyembunyikan rasa tidak nyamannya agar tidak menyinggung tuan rumah.


"Di, coba ambilkan map merah di mobil," ucap Nyonya Han ketika sudah memantapkan posisi duduknya. Pak Kardi mengangguk dan segera pergi ke mobil untuk mengambil barang yang diminta.


Tak lama kemudian, Pak Ujang menemui tamunya setelah selesai membersihkan diri sebentar. "Maaf, Bu. Saya, teh, nggak enak kalau belum mandi sudah menemui tamu. Harap dimaklumi ya," ucapnya sambil basa-basi.


"Iya, Pak. Tidak masalah. Bagaimana kalau kita mulai bicara?" saran Nyonya Han agar urusannya bisa selesai dengan cepat, sehingga bisa segera pulang ke rumah. "Saya akan membayar Bapak 1 juta, jika Bapak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan mengantar ke cucu Mak Perot," ucap Nyonya Han memulai penawaran.


Pak Ujang yang awalnya tertarik untuk membantunya karena uang, tiba-tiba berubah pikiran. "Saya akan menjawab pertanyaan dari Ibu secara gratis saja, karena saya tidak mau berurusan dengan Yuki," ucap Pak Ujang, mengurungkan niatnya.


"Loh, Pak. Kenapa?" tanya nyonya Han kebingungan.


"Yuki, Hhhhh.... Anak nakal itu, Bu. Nggak bener," ucap Pak Ujang setengah berbisik.


"Bapak ini tinggal di rumah sewa milik Yuki, kan? Memangnya, tidak pernah ketemu Yuki?"


"Tidak, Bu. Rumah ini sudah dijual ke bibinya. Haish.. Pokoknya, mah, saya nggak mau berurusan sama si Yuki. Dia itu tukang judi dan tukang ngutang," jawab Pak Ujang, yang kemudian mendapatkan tatapan sinis dari sang istri.

__ADS_1


"Bapak! Demi uang sejuta ini mah, ya... Ayo kita bantu si ibu!" desak istrinya tanpa memikirkan resiko yang akan mereka hadapi jika berurusan dengan Yuki. "Tunggu dulu, Bu. Kalau boleh tahu, ada apa sampai harus mencari Yuki? Mungkin bisa dibantu oleh keluarga Mak Perot yang lain. Apa, ibu mau urut alat v*tal?" tanya Euis mencoba menebak keperluan nyonya Han.


"Haish.. Bukan. Saya ingin dibuatkan jamu, obat herbal. Tapi, yang bisa membuatnya hanya Mak Perot. Karena... Eum.... Ya, karena bahan-bahannya tidak biasa," jawab Nyonya Han, tidak ingin membicarakan urusannya lebih lanjut.


"Oh, begitu ya. Hm....." Euis terlihat berpikir sejenak. Ia kemudian berbisik-bisik pada suaminya, seakan membicarakan hal yang tidak seharusnya didengar oleh Nyonya Han. Suaminya merespon dengan ekspresi terkejut, lalu menggeleng perlahan. Namun, desakan dari sang istri terus digencarkan, membuat suaminya tidak berkutik. "Ingat! Si Aa mau mendaftar sekolah!" hanya pada kalimat itu, pekikan istrinya mulai terdengar.


"Hhhhh...... " Pak Ujang mengambil napas panjang. Ia kemudian mencoba memberikan solusi alternatif pada nyonya Han, meski awalnya masih diselimuti keraguan. "Bu, begini, kalau ke Yuki. Itu tidak mungkin hari ini. Hari sudah gelap, lagipula Yuki-nya teh, ada di kota ibu... Di Jakarta," tuturnya. Nyonya Han terkejut. Jika saja ia tahu sebelumnya, tentu saja ia tidak harus berkendara selama 3 jam untuk sampai kemari.


"Lalu?" tanya Nyonya Han, mencoba mendengarkan kelanjutan kalimat dari Pak Ujang.


"Ibu, kalau mau coba. Mak Perot tuh punya ponakan. Dia buka klinik di dekat sini, desa sebelah. Klinik Mak Perot disini tuh udah tutup, dua tahun lalu. Waktu itu memang masih diteruskan sama si Yuki. Tapi, pas Yuki teh punya pacar, dia jadi nggak bener. Suka mabok, judi, aduh... Nakal banget! Bapak ibunya kan sudah nggak ada, meninggal. Yuki diasuh bibinya, terus ya begitu... Pergaulan bebas," kata Pak Ujang meringkas riwayat hidup cucu terakhir dari Mak Perot.


Nyonya Han terlihat berpikir sejenak. Ia masih mempertimbangkan apakah akan mengikuti saran Pak Ujang atau mencari Yuki yang tidak jelas keberadaannya.


"Yasudah, Pak. Sepertinya, ide bapak boleh dicoba," ucap nyonya Han mantap. Pak Kardi, yang tadi diinstruksikan untuk mengambil map merah, tampak menerima sinyal dari sang nyonya. "Ini, tolong diterima," ucap Pak Kardi sambil menyodorkan map yang berisi uang tunai satu juta rupiah.


"Eleuh... Eleuh.... Amplop model baru ini, mah. Ditaruh di Map!" tutur Euis berbunga-bunga, sambil menerima map merah pemberian nyonya Han. Pak Ujang terlihat menghentikan tangan istrinya, kemudian, mengembalikan map tersebut.


"Ini, teh, nanti saja, Bu. Kalau pengobatannya sudah berhasil," ujarnya dengan perasaan sungkan. Ia masih ragu mengenai keberhasilan pengobatan yang dilakukan oleh keponakan Mak Perot yang baru-baru ini membuka klinik di wilayah mereka. Sontak, istrinya melotot. Bola matanya hampir terpental keluar, melihat tingkah mengesalkan suaminya. Pak Ujang hanya tersenyum tipis, dan mengerjapkan matanya, meminta istrinya untuk bersabar. "Sabar, Ambu. Kalau rejeki, mah, nggak akan kemana," bisiknya pelan sambil menggenggam tangan istrinya.


Melihat dedikasi dari Pak Ujang, Nyonya Han merasa tersentuh. "Sudah, Pak. Terima saja. Itu memang uang khusus buat sedekah. Mohon diterima. Kalau nggak juga saya nggak tahu mau dikasihkan siapa," ucap nyonya Han acuh tak acuh, berharap, pasangan suami istri itu tidak bertengkar. Ia teringat akan cucu-cucunya yang sudah berumah-tangga. Alangkah indahnya jika hubungan suami-istri memang dilandasi rasa cinta. Meski keadaan sempit dan terhimpit, pasangan sejati, tentu tak akan menyerah dengan keadaan.

__ADS_1


"TERIMA KASIH, IBUU!" ucap Euis seketika, sambil menyambar map yang tadi terombang-ambing di atas meja. Ia buru-buru masuk ke kamar, sebelum dihentikan lagi oleh suaminya. "Alhamdulillah, rejekiiii.... " gumamnya dalam hati, sambil melangkah menuju ke kamarnya.


"Maaf, ya, Bu. Istri saya, teh, suka begitu.... " ucap Pak Ujang merasa malu dengan kelakuan istrinya. Nyonya Han tersenyum simpul, dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Pak. Saya paham," tuturnya.


"Kalau begitu, mari... Saya antar ke keponakan Mak Perot. Dia di desa sebelah, kalau jalan kaki, sekitar 20 menit, kalau naik mobil ya cepet,"


"Kita naik mobil saja, bagaimana?"


"Iya boleh. Ambu.. Bapak antar Ibu ini dulu yah!" teriak Pak Ujang berpamitan. "Iyaaa..... " jawab istrinya dari arah kamar, mungkin sedang sibuk menghitung uang.


"Mari.... " ajak Pak Ujang sambil melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar. Mereka berjalan beriringan menuju ke mobil, dan berkendara sekitar 10 menit ke Desa Cihempas, yang merupakan desa tetangga dari desa tempat tinggal Pak Ujang.


"Kalau sudah sampai di sana, ibu jangan kaget yah... " ucap Pak Ujang tiba-tiba. Tentu saja hal itu membuat Nyonya Han penasaran.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2