Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 17 Salah Perhitungan


__ADS_3

"Selamat datang, Non!" sambut Cici ke arah pintu utama. Emma tersenyum gembira melihat Cici sedang berlari ke arahnya.


"Non.. Non.. Nyonya!" koreksi Rosa ke arah Cici.


"Ohiyaa.. Maaf, kebiasaan, hehe... " selorohnya kemudian.


Emma hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Tak terasa, hanya dalam hitungan hari, Emma bisa menjadi salah satu penguasa di mansion mewah milik suaminya ini.


"Ehm... Nyonya, ada perubahan struktur,"


"Ya? Gimana,"


"Nyonya sekarang pindah ke lantai 3, ke kamar tuan,"


Deg!


Jantung Emma berdetak tak karuan. Mengapa ia harus pindah kamar? Lantai 3 adalah lantai pribadi Lukas, yang bahkan ada infinity pool-nya, sesuai penjelasan Rosa ketika Emma pada akhirnya akan jadi nyonya rumah dan mengatur mansion milik tuannya.


"Nyonya kan sudah menikah, kemarin lantai 3 baru direnovasi, makanya kamar pengantin di kamar nyonya. Sekarang, sudah selesai, dan tuan tadi sms supaya nyonya segera dipindahkan ke sana. Uwenak lho kamarnya Pak Lukas. Luas buanget," ucap Cici dengan mata yang berbinar.


Emma hanya mengulum senyum, dan mematuhi peraturan dari suaminya. Namun, ia pasti akan meminta penjelasan soal ini kepadanya.


......................


"Emma sudah tidur?" tanya Lukas ketika baru saja turun dari mobil.


"Sudah, Tuan. Ini sudah tengah malam,"

__ADS_1


"Hhh... Ya baiklah. Istirahatlah, Ros. Aku juga mau istirahat," ucapnya lalu beranjak ke lantai tiga. Lukas segera mandi dan membersihkan diri, kemudian menyusul istrinya yang tidur di......


"Ngapain dia tidur di sofa lagi???" matanya mendelik tak percaya. Ranjang berukuran 3x3 meter beralaskan wol kashmir dari India jadi tampak tak berguna.


"Hhhhh.... " Lukas mendengus kesal, dan memindahkannya lagi ke ranjang.


"Wanita ini memang suka merepotkan!" gumamnya sambil mengangkat tubuh istrinya yang ringan. Lukas sama sekali tak keberatan, karena biasanya ia harus mengangkat beban sebesar 100 kilogram. Tubuh Emma yang seperti kapas ini hanya sebagai pemanasan.


"Eeerrgghh.... " Emma menggerang seperti kucing yang terganggu tidurnya. Lukas tersenyum namun langsung membanting tubuh istrinya itu ke atas kasur.


"Aduh!" jerit Emma kesakitan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lukas.


"Tidur?" jawab Emma rasional.


"Nggak lah, kau saja yang tidur di sana. Sofanya juga nyaman. Aku tak suka tidur denganmu," jawab Emma lugas dan tegas.


Kesabaran Lukas sudah habis. Belum selesai panasnya hati akibat foto yang dihapus sepihak olehnya, kali ini, Emma rupanya menyulut emosi lain yang ada pada dirinya.


"Dasar wanita gila! Kau istriku! Harusnya kau patuh kepadaku!" tukasnya sambil mencengkeram dagu Emma yang kecil dan lembut. Gadis itu tampak menahan air mata karena terkejut, namun, menolak untuk kalah.


"Baca lagi perjanjian kita! Mana ada tulisan untuk berbagi ranjang berdua? Sudahlah! Jangan buat ribut!" Emma menepis tangan Lukas dengan kasar. Ia kesal sekali karena tidurnya diganggu.


Lukas tak bisa berkata-kata karena yang membuat draft perjanjian adalah dirinya. Ia memijit pelipisnya dengan keras. Tak dapat membalas perkataan istrinya. Emma melirik sekilas ke arah Lukas. Ia ikut terdiam dan merenungi kata-katanya.


'Apakah aku terlalu kasar?' batinnya dengan menatap Lukas lekat-lekat. Ada setitik rasa kasihan pada suami yang baru saja pulang bekerja. Namun, Emma juga kesal karena dimaki olehnya sebagai wanita gila. Kenapa Lukas jadi uring-uringan seperti itu?

__ADS_1


Tiba-tiba saja...


JEGREK!


Lampu di mansion mati semua.


Lukas yang awalnya mematung karena memikirkan perkataan Emma, kali ini tak bergerak karena trauma. Ia takut gelap. Lukas akan menderita serangan panik jika gelap malam tanpa cahaya tiba-tiba menyergap dirinya.


"Hhhhh... Hhhh.... Hhh..... " Napas Lukas tampak memburu. Keringat dingin keluar semua. Tangan dan kaki Lukas gemetar tak karuan. Ia ambruk ke lantai, tanpa pertolongan.


"Lukas? Kamu kenapa???" tanya Emma yang terkejut karena mendengar hentakan keras Lukas yang jatuh ke lantai.


"Hhhhh.... Hhh... Hhhh... " Lukas masih tak dapat bernapas dengan tenang, sekujur tubuhnya gemetar. Emma panik, namun tak tinggal diam. Ia memeluk Lukas yang gemetar dengan bisikan kelembutan. Aroma melati bercampur mawar yang menyeruak dari tubuh Emma merajai udara. Lukas terkulai dalam pelukan istrinya.


"Ssttt... Gak papa.. Gak papa... " desis Emma menenangkan suaminya. Kali ini, Lukas berusaha untuk bernapas secara teratur dan pelan, agar ritme jantungnya kembali normal. Emma tetap setia memeluknya meski agak canggung dan masih merasa kesal. Emma tak mungkin membiarkan Lukas tergeletak tanpa pertolongan. Lukas lantas dapat kembali bernapas dengan tenang, sungguh ajaib, bahkan tanpa obat penenang.


"Yah, begitu.. Pelan-pelan.. Sssh... Sssh... " ucap Emma sambil menepuk-nepuk punggung suaminya agar merasa nyaman. Lukas tanpa sadar terlelap dalam dekapan Emma, hingga pagi menjelang. Emma telah memindahkan suaminya ke ranjang, meski dengan susah-payah. Kali ini, ia tak menolak ajakan Lukas untuk tidur bersama.


Lampu di mansion mati cukup lama, rupanya, ini adalah sebuah sabotase dari seseorang yang sedang menunggu kedatangan Lukas untuk memohon pertolongannya. Ironisnya, rencananya sia-sia belaka. Lukas tak datang padanya, dan sudah bisa menyembuhkan dirinya bahkan tanpa obat-obatan yang biasa diresepkan untuk penyakitnya.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2