Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 96 # Kawan Atau Lawan?


__ADS_3

"Ya! Ini aku! Kemarilah!" ajak Lucy, yang entah muncul dari mana.


Lukas menatapnya dengan pandangan heran. Lucy, wanita itu begitu mencurigakan, seakan, sangat tahu konstruksi gedung ini dan dapat dengan mudah menyelinap untuk masuk dan keluar.


"Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Lukas ingin memastikan. Ia tak ingin kembali masuk ke dalam perangkap yang tidak diketahui.


"Ceritanya panjang! Kau mau didongengin atau kabur dari sini?" tanya Lucy setengah berteriak. Ia benar-benar frustasi dengan sikap Lukas. "Kita harus keluar dari sini secepat mungkin! Anak buah Madam akan datang lagi!" lanjutnya, kini sambil menggenggam erat tangan Lukas.


Pria itu tidak lagi menolak dan mengikuti panduan Lucy untuk keluar dari gedung terkutuk ini. "Lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri," ucap Lukas sambil menarik kembali tangannya.


"Baiklah... baiklah!" Lucy mengalah, meski agak kesal dibuatnya.


Mereka lalu berlari melalui lorong-lorong yang gelap, untuk menuju ke arah pintu keluar yang entah berada di mana.


"Kau tahu pintu keluarnya?"


"Ya! Percayalah!" Lucy mengangguk tegas. Ia sudah susah payah ke sini untuk menebus Lukas dengan bahan narkoba palsu, bagaimana mungkin ia tidak memiliki rencana melarikan diri jika ternyata ketahuan menipu? Lucy tidak sebodoh itu.


Ia begitu tahu konstruksi gedung ini karena Lucy yang membangunnya untuk tempat tinggal Madam agar tidak terdeteksi polisi kota.


Bagaimana wanita culas itu ingin mengakalinya dan mengancam kekasihnya? Lucy benar-benar marah dibuatnya.


"Kita harus keluar secepat mungkin!" ucap Lucy dengan napas tersengal, namun tentu hatinya sedang berdebar senang. Akhirnya, momen berduaan dengan kekasih hati datang juga, meski tidak dalam suasana ideal.


Lukas menatap punggung Lucy yang telah berkeringat, segurat rasa iba mulai dirasakannya. Rupanya, Lucy tidak sejahat yang ia kira. "Thanks!" ucap Lukas tiba-tiba, membuat pipi Lucy merona.


"Iyaaah..." sahut Lucy sambil terus berlari. Dirinya kini bagai terbang di udara. Perasaan berbunga-bunga segera menjadi bahan bakar pelariannya.

__ADS_1


Sementara itu, Pengawal Madam terus mengejar mereka, tetapi Lukas dan Lucy berhasil menjauh dengan pasti. Mereka berdua terus berlari melewati lorong-lorong yang sempit dan tidak terdeteksi. Lucy sangat mengetahui ke mana lorong yang sedang mereka lalui ini bermuara.


"Di sini!" ucap Lucy, sambil terus menggegas langkah.


Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu besar di ujung lorong. Lukas mendorong pintu itu dengan kuat dan keras, detik kemudian, mereka berhasil keluar dari gedung tersebut dengan segera.


Ruang terbuka tampak menyambut mereka, gemericik air dan suara kicau burung mulai terdengar, menentramkan jiwa.


"Kita sudah sampai di pintu keluar!" ucap Lucy bangga, Lukas juga tampak lega.


"Sekarang katakan, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Lukas ingin tahu. Ia tidak bisa berhenti mencurigai Lucy, meski wanita itu juga telah menyelamatkannya.


"E--eh, itu..."


"Tangkap mereka!"


Sebelum Lucy menjawab pertanyaan Lukas, Madam Linn sudah tampak berada di belakang mereka.


Lukas segera menutup pintu besi yang ada di belakangnya, lalu menarik Lucy untuk pergi menjauh dari markas Madam.


Mereka kini berada di halaman belakang markas Madam Linn, yang terletak di tengah hutan yang gelap. Lukas dan Lucy tahu bahwa mereka harus segera pergi dari sini sebelum para musuh menemukan mereka.


Mereka kembali berlari, kali ini ke arah hutan, menyusup di antara pohon-pohon yang tinggi, dan meneruskan pelarian ini dengan intensitas tinggi.


Lukas dan Lucy terus berlari melalui hutan yang gelap, menyamarkan langkah dengan bersatu di antara pohon-pohon dan juga semak yang membentang di hadapan.


Mereka tahu bahwa Madam Linn dan anak buahnya tidak akan berhenti mencari mereka. Hutan ini adalah tempat bersembunyi yang sempurna untuk sementara.

__ADS_1


"Ssst... ada yang datang!" bisik Lukas, agar Lucy segera menahan napas. Mereka tidak boleh sampai tertangkap, karena sudah jelas kalah jumlah, jika memaksa bertarung saat ini juga.


Lukas mengkhawatirkan kondisi Lucy, jika harus berkelahi. Ia tidak ingin seorang wanita tak bersalah terluka karena dirinya.


Suara derap langkah semakin dekat, menggema di antara pepohonan yang ada di sekitar mereka. Ada seseorang yang sedang berjalan ke arah Lukas dan Lucy, namun belum diketahui dengan pasti, apakah itu kawan atau lawan.


Lukas dan Lucy berhenti sejenak, menahan napas, dan bersembunyi karena tidak ingin membuang energi. Namun, tidak dipungkiri, Lukas akan selalu siap bertempur, jika saja situasi genting terjadi.


"Bos, ini saya," kata seseorang yang suaranya sangat dikenali oleh Lukas.


"Askara?" Lukas mencoba menebak. Matanya mulai berkeliling mencari sosok tangan kanannya itu.


Beberapa saat kemudian, Askara muncul dari balik pepohonan. Pengawal setia Lukas itu akhirnya berhasil melacak jejak Tuannya.


"Askara!" seru Lukas dengan lega. "Syukurlah kau telah datang!"


Askara mengangguk dengan bahagia, akhirnya, pencariannya membawa hasil juga. Setelah misi terakhirnya, Askara sibuk melacak jejak kedua tuannya, namun hanya jejak Emma yang berhasil ditemukannya.


Setelah menyelamatkan sang Nyonya, dan menangkap Kian--sektretaris Lucy--yang sedang berjaga di ruangan, Askara segera melacak jejak bosnya yang lain.


Berkat informasi dari Kian, Askara berhasil sampai di hutan ini dengan kecepatan tinggi. Beruntung, nasib tuannya tidak tampak berada dalam bahaya.


"Kita harus kembali ke ibu kota!" ucap Askara, kemudian melirik Lucy dengan tatapan yang mencekam. "Kau!" hardiknya dengan nada yang tajam.


Lucy mematung, tampak terintimidasi dengan bentakan Askara.


"Kau harus membayar hukuman karena telah menculik Nyonya Emma!"

__ADS_1


"Apa maksudnya? Kenapa Emma?" tanya Lukas bingung. Ia belum mengetahui bahwa istrinya itu telah diculik oleh Lucy.


"Lu--lukas, aku bisa menjelaskannya."


__ADS_2