Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 72 Kejar Daku!


__ADS_3

Yuki menutupi wajahnya, tidak tega menyaksikan adegan kerusuhan yang mungkin terjadi ketika dua singa sedang berada di zona mangsa. Beberapa waktu lalu, Yuki menelepon Lukas dan menceritakan tentang kejadian pencopetan yang dialami Emma. Yuki tidak memiliki nomor telepon Emma, jadi dia menelepon sang suami untuk mengkonfirmasi dan memberikan ganti rugi sesuai janjinya kepada Renn.


Tidak lama kemudian, Lukas dan Emma tiba di lokasi yang disebutkan oleh Yuki. Mereka mulai menginterogasi Renn untuk membuatnya mengakui kesalahannya.


"Jadi, ini si pencopetnya?" tanya Lukas dengan penuh penelusuran. Emma menganggukkan kepalanya dengan tegas, merasa kesal seperti Lukas.


"Aku pikir itu hanya saling senggol biasa, ternyata dia mencopetku saat itu," kesaksian Emma membuat Lukas semakin tidak terima. Ia merasa kesal karena istrinya menjadi korban kejahatan.


"Ma-maaf, Nyonya, Tuan. Saya akan mengembalikan uangnya," ucap Renn dengan ketakutan. Untungnya, anak-anak sudah diungsikan ke rumah tetangga dengan alasan ada tamu penting yang akan bertemu ibu mereka. Mereka mengikuti perintah itu, sehingga kejadian yang mungkin terjadi antara ketiganya bisa terlewatkan dari pandangan anak-anak.


"Sudahlah.. Sudahlah.. Maafkan saja. Aku yang akan menggantinya," ujar Yuki mencoba meredakan ketegangan di antara mereka.


"Enak aja meminta maaf... kalau aku bisa memaafkan dengan mudah, buat apa ada polisi?" cetus Lukas dengan nada tajam.


"Kau seperti Dao Min Tse, Bang," celetuk Yuki mencoba melunakkan suasana, namun, gagal, mereka tidak ada yang tertawa.


Tiba-tiba, dari arah luar, anak-anak berkerumun menuju rumah Renn yang sedang berselisih. Renn terlihat panik, tidak ingin anak-anaknya menjadi korban kekerasan jika pemilik dompet itu ingin menghukumnya. Dia segera berdiri di ambang pintu dan mencegah anak-anak itu masuk.


"Bria, Theo! Jangan kemari!" larang Renn, sang ibu, dengan tegas.


"Kakak... Kakak.... Anu...." Bria memulai kode panggilan mereka saat ada banyak orang.


"Ada apa? Kan sudah kukatakan, pergi ke rumah Uwak Uli saja. Sudahlah.. Pergi.. Kakak belum selesai!" kata Renn sambil mendorong Bria dan Theo agar tidak masuk ke dalam rumah mereka.


Lukas dan Emma saling pandang. Ada apa sebenarnya? Siapa anak-anak itu? Namun, mereka tidak ingin tahu hal-hal di luar urusan dengan Renn.


"Ada ayah!" teriak Theo yang kemudian memecah keheningan.


"A--apa??" Renn terlihat panik. Yuki tampak senang dan tidak sabar ingin membuat perhitungan. Lukas dan Emma tidak mengerti, mengapa kedua orang itu menampilkan ekspresi yang berbeda.

__ADS_1


"Lukas! Udah! Jangan dipersulit. Mari kita kuras energi buat mangsa baru satu ini!" ujar Yuki dengan semangat yang membara.


"Apa maksudmu?" tanya Lukas tidak paham.


"Itu! Ada Anthony!" teriak Yuki dengan gembira. "Akhirnya, aku bisa balas dendam!" cetusnya sambil tersenyum sinis.


Renn terlihat menutup telinga Theo dan Bria dengan dekapannya, agar tidak mendengar kata-kata dari Yuki sehingga tidak membuat mereka salah paham.


Emma turut penasaran, tidak mengira bahwa akhirnya Yuki dapat melakukan reuni dengan ssng mantan kekasih yang ingin dilindas truk olehnya.


Renn masih cemas, ia takut jika Anthony naik pitam dan mulai memukulinya lagi. Renn tidak dapat menyembunyikan perasaan gemetarnya. Yuki yang menyadari hal itu, langsung menepuk pundak Renn dan menepis kekhawatirannya. "Tenang. Kamu aman!"


Renn mengangguk pelan, meski masih tidak nyaman.


Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki yang berat, tampak mendekat ke arah rumah Renn. Gang sempit dan sunyi yang menjadi satu-satunya jalan utama menuju ke rumah mereka, menggaungkan suara langkah kakinya yang tampak angkuh. "Renn!! Renn!!" panggilnya dari arah luar.


Sang istri yang sedang berada di dalam rumah, selalu bergegas memenuhi panggilan suaminya itu dengan tergopoh-gopoh. Apapaun hal yang sedang dilakukannya harus ditinggalkan. Entah itu tidur, memandikan anak, atau sedang menyiapkan makanan. Renn harus bergegas menuju ke arah suaminya dsn menyambutnya di depan pintu rumah, sambil melepaskan kedua sepatunya serta mencuci kakinya sebelum masuk ke dalam.


"Renn!!?" panggil Anthony kali ini dengan suara yang lebih keras. Namun, tidak kunjung ada sahutan dari istrinya. Tidak biasanya sang istri membangkang seperti ini. Anthony menjadi naik pitam. Ia lantas berlari menuju ke arah rumahnya yang tampak tertutup. Dengan langkah tergesa, Anthony membanting pintu rumahnya dan mencari keberadaan sang istri.


"Renn!!" teriaknya setelah memasuki rumah. Anthony terkejut ketika melihat tiga orang yang tak diundang berada di dalam rumahnya.


"Halo, Anthony!" sapa Yuki dengan senyuman sinis. Anthony tampak terpaku, ia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasih yang sudah ia kuras hartanya untuk judi. "Yu--yuki... " panggilnya lirih. Kali ini, tidak tampak aura mengancam seperti yang biasa ia tampakkan ketika berhadapan dengan istri dan anak-anaknya.


"Lho? Pak Toni?" Emma turut kaget. Ia mengenali wajah itu. Wajah preman yang menjadi biang kerok penculikannya beberapa waktu yang lalu ketika sedang berselisih di Kampung Sinar Bersemi. Lukas yang mendengar penjelasan dari Emma, turut naik pitam. Rupanya, Anthony bukan penjahat sembarangan. "Dia yang bikin rusuh pembangunan apartemen kamu itu, Yang... " lanjut Emma yang membuat Lukas semakin marah.


Anthony merasa detak jantungnya meningkat, namun ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Ia tahu bahwa sekarang yang terpenting adalah melarikan diri dari situasi yang semakin tidak terkendali. Ada banyak predator yang menginginkannya untuk menjadi mangsa.


"KABOOOR... "

__ADS_1


Anthony meneriaki dirinya sendiri agar segera lari dan menjauh dari rumahnya. Tanpa ragu, Anthony berbalik dan berlari menuju pintu keluar. Yuki langsung mengejarnya dengan cepat, memicu adegan kejar-kejaran yang mendebarkan di sepanjang lorong gang hingga ke luar area pasar.


Suara langkah kaki mereka menggema di jalanan sempit yang saling terhubung. Anthony berusaha sekuat tenaga untuk menjauh dari Yuki, namun ia merasa Yuki semakin mendekat. Napasnya terengah-engah, dan dia bisa merasakan adrenalin memompa di tubuhnya. Dia tahu bahwa jika dia tidak menemukan jalan keluar segera, dia akan terjebak dalam situasi yang semakin berbahaya.


Lukas dan Emma turut mengejar Anthony dari arah belakang. Mereka juga tidak dapat memaafkan kejadian penculikan waktu itu yang membuat Emma harus opname di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.


Yuki masih tampak mengejar Anthony dengan kecepatan yang membara. Suara langkah kaki mereka berderap seperti kawanan singa yang hendak menerkam mangsa. Ketegangan semakin terasa, tatkala langkah kaki Yuki tampak semakin mendekat ke arah Anthony.


"Anthony, kau tidak bisa kabur dariku!" seru Yuki dengan suara yang penuh kebencian, ia semakib menggegas langkahnya agar dapat segera menarik kerah buronan yang selama ini dicarinya.


Anthony tetap fokus pada langkah kakinya, mencoba untuk menjauhkan diri sejauh mungkin dari Yuki. Dia tahu bahwa jika Yuki berhasil menangkapnya, akan ada konsekuensi yang mengerikan. Dia harus bertahan dan menemukan jalan keluar.


"Hah.. Hah... Diam-diam saja, Yuki! Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi!" jawab Anthony dengan napas yang terengah-engah. Ia hampir kehabisan tenaga karena memaksakan diri untuk terus berlari.


Namun nahas, kakinya tersandung batu yang cukup besar.


GUBRAK!


Anthony pun terjatuh dan tidak mampu berdiri kembali. Yuki yang semakin mendekat ke arahnya, semakin menggegas langkah dan, tiba-tiba saja, ia sudah berdiri di hadapan Anthony.


"Nah.. Hah.. Hah... Mau kemana lagi sekarang?" tanya Yuki sinis, dengan menarik kerah Anthony yang sedang tersungkur tanpa daya.


"Yu--yuki... Ampun.... "


Permintaan memelas dan air mata buaya dari Anthony tidak menyurutkan niat Yuki untuk meluapkan emosinya. Anthony harus patuh dan mencoba berdoa supaya ia bisa tetap hidup ketika berada dalam cengkeraman Yuki saat ini.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2