Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 18 Sabotase Sarah


__ADS_3

<6 Jam Sebelum Mati Lampu>


"Selamat sore, Pak Yadi," sapa Sarah ramah pada security gudang.


"Oh, Mbak Sarah. Sore, Mbak," balas Pak Yadi sopan.


"Kerja sendiri aja, Pak?"


"Hehe.. Iya, Mbak. Pak Yana sedang cuti, istrinya mau melahirkan,"


"Yasudah, yang semangat ya pak, kerjanya. Ini saya bawakan camilan dan kopi," ujar Sarah dengan ramah tanpa mengundang kecurigaan pak Yadi.


Lelaki paruh baya itu menerima bungkusan dari Sarah dengan wajah gembira, kebetulan, ia sedang agak mengantuk.


Tanpa menunggu lama, camilan dan kopi telah tandas, dan menyisakan senyum kepuasan pada pemberinya. Sarah mengamati gerak-gerik Pak Yadi sejak sore tadi, dan saat ini, karena camilan sudah dimakan, tak ayal, perut satpam itu tentu mules. Sarah sengaja mencampur obat pencahar pada kue kering buatannya. Ia sedang merencanakan sesuatu agar Lukas dapat kembali bermalam dengannya.


"Aduuuhhh... Aduh... Muleeess... " erang Pak Yadi yang kemudian menghambur ke kamar mandi dan lama tak kembali. Pak Yadi akan sibuk bolak-balik ke kamar mandi untuk sementara waktu.


Sarah tersenyum puas. Ini adalah kesempatan emas untuknya agar bisa menyergap ke dalam ruang kontrol listrik yang ada di ruang bawah tanah.


Sarah mulai masuk ke dalam gudang dan mempersiapkan siasatnya supaya berjalan dengan lancar. Sarah berjalan perlahan ke arah terowongan bawah tanah yang ada di dalam gudang. Ia sedang mencari ruang kontrol listrik yang ada di dalamnya. Sarah mengetahuinya setelah mencuri dengar dari security yang berjaga beberapa waktu lalu, ketika Sarah mulai frustasi karena kehilangan malam bersama Lukas. Ia pun merencanakan sabotase yang dapat menjadi pemicu serangan panik Lukas, supaya mau bermalam kembali dengannya dan melakukan terapi skin to skin seperti biasanya.


"Nah, ini dia," desis Sarah ketika telah sampai di ruang kontrol.


Sarah mulai mengidentifikasi setiap saklar, kabel dan daya penghubung yang menyalurkan arus listrik sampai ke rumah utama. Mansion Lukas begitu besar, ada banyak jalur yang harus Sarah perhatian agar tak salah ambil keputusan. Setelah mengamati dan menyimpulkan, Sarah kemudian memutus kabel sambungan yang mengarahkan aliran listrik ke rumah utama. Ia mengetes terlebih dahulu, untuk memastikan apakah benar kabel yang dipilih adalah kabel yang tepat.

__ADS_1


Setelah mengetahui keberhasilannya, Sarah memasang kembali kabel tersebut, dan menginstal timer khusus supaya kabel dapat putus secara otomatis ketika waktu yang ditentukan telah habis.


Sarah mendapatkan pengetahuan soal kelistrikan ketika berada di panti asuhan. Anak-anak panti asuhan, baik lelaki maupun perempuan, akan diberi pengetahuan dasar untuk mengatasi gangguan listrik di asrama. Hal ini dimaksudkan agar para penghuni asrama dapat tanggap jika terjadi situasi darurat. Sarah awalnya sebal dengan pelatihan tersebut, namun saat ini, ia bersyukur pernah belajar soal sirkuit dan juga kabel-kabel penting yang menghubungkan aliran listrik.


'Tunggulah, Lukas. Kau akan datang sendiri padaku, hihihi' batin Sarah sambil terus berjalan menyusuri kegelapan di dalam gudang. Di sana, terdapat jalan rahasia yang menghubungkan gudang dengan ruang bawah tanah, tempat kontrol listrik berada. Sebelumnya, Sarah sudah menembak CCTV dengan permen karet agar aksinya tak terekam dan meninggalkan jejak.


Setelah selesai membereskan pekerjaannya, Sarah kembali ke kamarnya yang berada di paviliun barat. Pak Yadi juga tampak kembali ke pos penjagaannya dengan wajah yang pucat. Pria itu tak tahu bahwa baru saja ada penyusup yang datang dan mengacaukan panel listrik mansion bosnya.


......................


JEGREK!


Pukul 23:30 WIB, lampu di rumah utama mati secara tiba-tiba. Lukas dan Emma yang sedang bertengkar di lantai teratas, tampak terdiam. Tak lama kemudian, Lukas hampir pingsan karena terkena serangan panik yang selama ini dideritanya.


"Pak, ini, kabelnya terputus akibat ledakan kecil. Sepertinya terjadi korsleting," ujar Pak Jayadi, salah seorang security yang baru saja memeriksa panel listrik. Sarah tentu saja membuat instalasi ledakan seperti kecelakaan agar siasatnya tak ketahuan. Ketika para security mengecek kamera CCTV, bekas permen karet juga menempel dan susah dibersihkan.


"Ini kenapa begini? Mencurigakan," gumam Pak Jhon setelah membersihkan sisa-sisa permen karet yang menempel. Ia lantas menyiagakan anak buahnya di gudang lebih banyak ketimbang biasanya. Kali ini, ada 3 security yang menjaga area belakang mansion, agar insiden sabotase itu tak terulang lagi.


Pengembalian aliran listrik ke rumah urama membutuhkan waktu sekitar satu jam. Para tim keamanan dan teknisi bekerja bersama agar masalah dapat segera teratasi. Semua daya harus dimatikan, supaya tak terjadi ledakan dan korsleting yang lebih besar. Selain memperbaiki aliran listrik, tim teknisi juga mengalokasikan banyak waktu untuk mencari genset yang disembunyikan oleh Sarah di semak-semak taman. Pada akhirnya, masalah dapat teratasi tanpa kendala.


......................


Sarah, di sisi lain, sudah menunggu dengan tenang di kamarnya. Ia berharap, Emma datang sendiri padanya untuk meminta pertolongan. Seharusnya, Emma tahu bahwa Sarah adalah satu-satunya orang yang dapat diandalkan di situasi seperti sekarang.


Satu jam,

__ADS_1


Dua jam,


Tiga jam,


Tak kunjung ada yang datang ke paviliun barat.


Waktu telah menunjukkan pukul 02:00 WIB, dan suara kokok ayam hampir bisa dipastikan berbunyi beberapa saat lagi.


"Aaargghhh!!!" Sarah mulai uring-uringan.


"Lukas???!!! Kemana kau!" Teriaknya heboh sendiri.


Sarah kemudian membanting segala perabotan yang ada di kamarnya, menimbulkan kegaduhan yang hanya bisa didengar olehnya. Paviliun barat tak memiliki pelayanan yang berjaga 24 jam di sana. Semua pelayan akan kembali ke mess rumah utama ketika jam kerja mereka telah selesai.


Lukas, seseorang yang sedang dinanti-nantikan oleh Sarah, saat ini sedang tertidur lelap dalam pelukan istrinya. Aroma bunga yang tercium dari tubuh Emma mengingatkannya pada taman indah favorit ibunya ketika berada di lokalisasi dahulu kala.


Ada sebuah taman kecil yang dibangun pemerintah setempat agar anak-anak bisa bermain dan melupakan sejenak beban hidup dan nasib buruk mereka karena terlahir dari rahim seorang wanita penghibur. Ibu Lukas kala itu senang menanam bunga melati dan bunga mawar, agar keindahan dan keharumannya sepadan. Ibu Lukas tak suka bunga yang hanya indah saja tapi tak harum. Ia suka segalanya selaras dan sama-sama nampak keunggulannya. Lukas, malam itu dapat tidur dengan nyenyak dengan kenangan indah dari taman bunga milik ibunya. Siapa sangka, aroma tubuh Emma rupanya dapat menenangkan syaraf Lukas dan menghilangkan kecemasan yang biasa dideritanya.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2