Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 50 Mencari Terapis Baru


__ADS_3

Sepeninggalnya Sarah dari mansion, suasana kediaman Lukas dan Emma menjadi lebih tenang dan harmonis. Para pelayan tidak lagi bingung dalam melayani majikannya, dan pekerjaan mereka menjadi lebih efisien karena tidak perlu bolak-balik pergi ke paviliun untuk menangani tamu yang membuat nyonya rumah kesal.


Kali ini, Emma harus sigap mencari terapis pengganti Sarah agar suaminya bisa sembuh dan pulih sepenuhnya dari penyakit yang dideritanya.


......................


"Eum..." Emma membuka matanya perlahan sambil menggeliat geli karena beberapa helai rambut mendekati wajahnya secara tiba-tiba.


"Pagi, Istri," sapa Lukas dengan senyuman. Wajah mereka hanya berjarak 0,3 sentimeter antara satu sama lain.


"Pagi, Sayang," sahut Emma membalas senyuman Lukas dengan kecupan. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh kasih, seolah-olah baru saja berpisah lama padahal hanya baru bangun tidur. Tidak ada lagi kata-kata kasar atau perasaan jengkel dan canggung karena kesulitan berkomunikasi. Emma dan Lukas telah belajar banyak dari peristiwa yang menimpa rumah tangga mereka, dan kini komunikasi menjadi kunci utama. Mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan membiarkan pikiran negatif merusak hubungan mereka.


"Jadi, hari ini mau kemana?" tanya Emma, melepaskan diri dari pelukan Lukas yang tampak enggan melepaskannya.


"Aku ingin tetap di sini, bolehkan?" rengek Lukas sambil terus memeluk istrinya.


"Tidak boleh! Kamu harus pergi bekerja!" tegas Emma, tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Roy karena menahan bosnya untuk menghadiri rapat penting siang ini.


"Euuhhhhhh... menjengkelkan," desis Lukas pura-pura merajuk. Padahal, ia memang harus pergi ke kantor pusat untuk mengurus beberapa dokumen penting, kemudian mampir ke penjara rahasia untuk mendapatkan informasi baru tentang skandal Emma-Ryan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Paparazzi yang ditangkapnya sekarang berada dalam salah satu sel penjara, seperti halnya Yuki dan Jaka. Lukas sengaja menahannya setelah mendapat petunjuk dari Roy bahwa wartawan tersebut hanya berpura-pura. Uang yang diterimanya dari sponsor anonim digunakan untuk berjudi, bukan untuk mengobati anaknya. Ceritanya hampir mirip dengan jerat hutang Jaka, yang bahkan rela menjual istrinya untuk melunasi hutang-hutangnya.


"Bagaimana denganmu? Kamu mau ke mana hari ini?" tanya Lukas sambil mengelus lembut rambut istrinya.


"Aku akan pergi ke kampus. Aku juga akan mencari informasi tentang terapis baru untukmu, oke? Bersabarlah..." sahut Emma sambil menatap dalam-dalam mata suaminya. Lukas yang sebelumnya merasa rendah diri dan takut, kini menjadi tegar dan bergantung pada istrinya. Ia yakin bahwa pasangannya akan melakukan yang terbaik untuknya.


"Terima kasih, Sayang," tutur Lukas dengan penuh keharuan.


"Sama-sama, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu. Jangan khawatir," sahut Emma dengan penuh kehangatan.


Lukas tersenyum dan mencium kening Emma dengan lembut sebelum melepaskan pelukan mereka. Meskipun terpisah untuk sejenak, mereka berdua yakin bahwa cinta dan kepercayaan mereka akan tetap menguatkan hubungan mereka.


Di dalam mobil, Emma sibuk menghubungi beberapa klinik dan terapis yang direkomendasikan oleh teman-temannya. Dengan teliti, ia mencatat informasi yang diperoleh, memastikan bahwa terapis yang dipilih memiliki reputasi yang baik dan pengalaman dalam menangani kondisi kesehatan seperti yang dialami oleh Lukas.


Setelah beberapa kali mencari di mesin pencari, akhirnya Emma menemukan terapis yang ia anggap cocok. Tanpa ragu, ia segera mengatur janji pertemuan untuk konsultasi lebih lanjut.


"Jadi, saya bisa datang jam berapa?" tanya Emma melalui telepon, menghubungi sebuah klinik ternama yang selalu dipadati oleh pasien.


"Lusa bisa, Bu. Jam 11 siang ya?" ucap resepsionis dengan ramah, sambil membuatkan janji temu dengan seorang dokter andrologi yang terkenal.

__ADS_1


Lukas bahkan tidak berani memeriksakan dirinya sendiri sebelumnya, sehingga ia terjerumus dalam tipu daya Sarah, yang merupakan teman masa kecilnya. Emma merasa marah dan kesal saat mengingat hal itu. Kali ini, Lukas tidak akan sendirian. Emma akan selalu menemaninya. Ia yakin bahwa Lukas tidak akan menolak untuk pergi berkonsultasi sebelum memutuskan untuk berobat pada dokter tersebut.


"Terima kasih banyak," ucap Emma dengan sopan. Ia merasa lega karena merasa telah menemukan solusi yang tepat untuk membantu suaminya dalam proses pemulihan. Emma lantas melanjutkan perjalanannya ke kampus untuk mengikuti perkuliahan seperti biasanya.


......................


Sementara itu, Lukas tiba di kantor pusat dan langsung bergegas menghadiri rapat penting. Ia memimpin rapat dengan penuh kebijaksanaan dan efisiensi tinggi, sehingga rapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Delegasi tugas juga telah dibagi secara adil, memastikan bahwa proyek pembangunan apartemen La Marie berjalan tanpa kendala yang berarti. Dalam hatinya, Lukas sudah mempersiapkan bonus khusus untuk istrinya yang telah menjadi penyelamat proyek ini.


"Istriku memang luar biasa," gumamnya di tengah-tengah rapat sambil tersenyum. Para eksekutif dan kepala divisi yang hadir pun terkejut melihat sikap presiden direktur yang tiba-tiba tersenyum tanpa alasan yang jelas. Mereka mengira, presdir sedang sakit gigi karena terlalu sering meringis tanpa arti.


Rapat berhasil dituntaskan dalam tempo waktu dua jam saja. Lukas segera bersiap untuk meninjau tahanan-tahannya di penjara yang tak jauh dari lokasi kantornya. Namun, tiba-tiba sebuah pesan teks dari kawan lama, menunda rencana investigasinya.


<"Halo? Lukas? Hi! Aku Lucy! Bisa kita ketemu untuk makan siang?">


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1



__ADS_2