Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 20 Konflik Perusahaan #1


__ADS_3

Lukas gusar dengan foto selifie Emma. Ia tak menyangka gadis itu begitu berani berpakaian terbuka, padahal, awalnya ia hanya anak kampung yang tak tahu model busana.


"Aku akan menghukumnya malam ini!" gumam Lukas sambil mencengkeram botol air mineral yang ada di hadapannya.


"Maaf, Pak. Jadi bagaimana? Apakah kita harus pergi ke lokasi sekarang?" tanya Pak Ron, kepala legal yang sedang menangani kasus pembebasan lahan di daerah Pluit, Jakarta Utara.


Peletakan batu pertama proyek apartemen 'La Marie' seharusnya sudah harus berjalan di awal bulan ini. Sayangnya, proyek harus tertunda karena masalah fitnah dari provokator yang meminta bayaran lebih dari penawaran awal. Padahal, pada rapat pertama pihak K-Group dengan para pemuka desa sudah disepakati bahwa harga ganti rugi per meter persegi adalah 20 juta rupiah. Saat sudah sampai ke tahap eksekusi lahan, ada demo besar-besaran dari warga yang menolak kompensasi yang diberikan. Mereka berdalih, harga yang ditawarkan terlalu rendah, dan ancaman lain juga turut menerpa mereka yang bahkan kehilangan pekerjaan.


"Ya, baiklah. Siapkan mobilnya," ujar Lukas kembali fokus dan melupakan persoalan busana istrinya.


......................


"Makasih, Pak. Jemput jam satu ya," ujar Emma ketika turun dari mobil. Ia lalu memakai jaketnya dan menenteng tas bahunya sambil mengeluarkan koran hari ini.


Emma tak mengetahui bahwa foto selfie-nya menjadi bahan bakar emosi Lukas pagi ini. Lukas juga tak mengetahui bahwa foto itu hanya pemanis, dan Emma sebenarnya memakai baju luaran-- jaket-- berwarna senada sehingga kulitnya tak terekspos secara berlebihan.


"Pagi, Emma," sapa Vita, salah seorang temannya yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


"Pagi, Vita!" sapa Emma membalas sambil tersenyum, untung saja ingatannya baik. Ia langsung mengenali Vita.


"Bareng yuk ke kelas?"


"Ayo!'


Mereka berjalan beriringan ke kelas, sambil berbincang ringan.


" Eh, gue liat kemarin, lo bantuin tuan muda Hanggara. Salut deh," ucap Vita tiba-tiba.


"Tuan muda siapa?"


"Lho, nggak kenal? Dia itu anaknya Pak Hanggara, taipan media yang tajir banget itu lho.... " ujar Vita melotot.


Pengetahuan dasar para mahasiswa Adi Luhung adalah mencari latar belakang teman mereka, dan keluarga yang dekat dengannya. Pertemanan bisnis memang kerap terjadi, untuk membantu usaha orang tua mereka. Oleh karena itu, SPP yang cukup mahal di sana, terasa sepadan dengan jalur belakang yang ditawarkan.


Banyak sekali anak-anak rekan bisnis kaya-raya, pejabat dan artis ternama yang berkuliah di sana. Para pewaris biasanya membangun jejaring sosialita dan saling berbisnis untuk menyokong usaha keluarga.


"Oh, dia anak orang kaya. Pantes sombong gitu. Tapi imut, hihii.... Nggak kenal gu--e," sahut Emma sambil tersenyum dan mencoba berdialek gaul ala anak muda Jakarta. Susah juga rupanya.


"Wah hebat. Gue kira lo nolong gara-gara pengen deket ama Ryan,"


"Hah? Enggak lah. Gue udah ada yang punya, hihi.... "


"Oh, begitu. Syukurlah.... Jangan deket-deket sama si Robi. Dia itu playboy! Hihi.... "


Mereka berdua terus mengobrol dengan riang, sampai langkah kaki mereka terhenti di depan papan pengumuman.

__ADS_1


......


"Yaah.. Sia-sia deh ke kampus hari ini. Emma ada kelas lain?" gerutu Vita kesal.


"Enggak.. Sama gue juga cuma kelas ini aja. Huvv... Pulang lagi berarti?" ucap Emma lesu. Ia begitu senang belajar. Ternyata, harapannya tak seindah kenyataan. Vita kemudian menawarkan kesenangan lain pada Emma.


"Mau main nggak ke tempatku? Nanti aku kenalin anak-anak kayak tuan muda Hanggara. Aku dan keluarga mengelola panti asuhan buat anak-anak difabel loh," tanya Vita dengan mata berbinar.


"Benarkah? Mau mau.. Bentar ya," Emma mengeluarkan ponselnya, dan meminta izin pada suaminya.




Emma membalas perlakuan Lukas tadi pagi yang pergi tanpa pamitan. Kali ini, Emma akan pulang malam seperti yang biasa Lukas lakukan.


"Mau aku telpon supirku?" tanya Emma.


Vita menggeleng. "Pakai motorku saja yuk,"


Emma mengangguk dengan senang. Sudah lama ia tidak naik motor. Tentu saja petualangan keliling Jakarta menggunakan motor akan sangat menyenangkan. Mereka pun bergegas ke area parkir dan melaju membelah kemacetan Jakarta yang masih belum terurai, karena hari masih pagi.


......................


Ponsel Lukas berdenting.




"Kemana lagi ni, Bocah??" gumamnya ketika mengecek ponselnya. Belum sempat memberi jawaban....


CEPROT!!!


"PERGI DARI SINI!!! DASAR PENGEMBANG SIALAN!!!"


Lukas dan anak buahnya disergap kelompok anti-penggusuran yang sudah bersiap dengan tomat busuk untuk menyerang.


"Bos!! Masuk, Bos!!"


CEPROT!!!


CEPROT!!!


CEPROT!!!

__ADS_1


CEPROT!!!


Lukas dan timnya baru saja turun dari mobil mereka. Namun nahas, ketika sampai di lokasi pengembangan, mereka disambut oleh hujan tomat busuk yang dilemparkan oleh kelompok warga setempat.


Isu yang sedang beredar di kawasan tersebut adalah pengambilan lahan secara tidak adil dan merusak mata pencaharian warga yang mayoritas pedagang. Jika mereka digusur, meski diberi kompensasi, mereka tetap akan kebingungan dalam mencari nafkah. Sampai detik ini, tidak ada komunikasi yang berjalan. Mereka secara agresif mengusir pihak K-Group dan aparat yang menggusur. Kelompok itu dibantu oleh preman bayaran dan juga cakupan pemberitaan nasional dari RCTV. Jika pihak K-Group melawan balik, maka, citranya akan langsung dihancurkan lewat siaran berita di berbagai kanal media.


Lukas dan tim kembali ke mobil dan tidak jadi melanjutkan mediasi yang digelar oleh Gubernur. Lukas sudah memarahi kepala legal yang tak becus menangani masalah ini. Namun, ia juga menyadari kesulitan di lapangan setelah terjun langsung dan babak belur dihantam tomat busuk yang disiapkan oleh warga.


"Kita balik ke kantor!" titahnya. Ia berencana melakukan rapat mendadak dengan badan lain yang ada di luar sana.


"Roy! Panggil Askara,"


"Siap, Bos,"


Brrrmmm..


Mobil Lukas melaju kencang menjauhi lokasi pengembangan lahan.


......................


Di sisi lain,


Emma sudah sampai di panti asuhan milik keluarga Vita. Panti itu bernama B- Different dan cukup terkenal di Jakarta Utara. Keluarga Vita hanya terdiri atas ibunya dan Vita saja. Ayahnya sudah lama meninggal.


Vita menjadi mahasiswa di Universitas Adi Luhung murni karena beasiswa penuh dan biaya hidupnya ditanggung oleh kampus. Emma baru mendengar bahwa penyandang dana beasiswa terbesar adalah K-Group. Pantas saja Emma mudah sekali masuk ke sana.


Emma dan Vita juga melewati pos advokasi masyarakat penolak penggusuran paksa oleh K-Group, dan tak sengaja melihat mobil suaminya meninggalkan area. Emma tak membocorkan identitasnya sebagai nyonya K-Group supaya Vita tak segan kepadanya.


"Mbak Vita, gawat!!"


Belum juga mereka masuk dan memberi salam, salah seorang wanita yang menderita polio, menghampiri Vita dengam heboh.


"Khanza, ada apa?"


"Mbak, tadi kata Pak RT, bos K-Group diusir warga di pos sana. Dilempari tomat busuk segala! Kasihan!"


Vita terkejut, Emma tak kalah kaget. Suaminya rupanya baru saja mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Emma langsung menghubungi suaminya untuk mencari tahu kejadian yang tadi dialaminya.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2