Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 14 Kecupan Kilat


__ADS_3

Emma tertidur dengan lelap dan nyaman. Tubuhnya sama sekali tak merasakan sakit akibat tertekuk di kursi sofa.


"Uaaaahhh.... "


Emma menggeliat nikmat kala terbangun di pagi hari. Kepalanya ditarik ke kanan dan kiri, lalu mulai beranjak pergi untuk sarapan.


Emma baru tersadar. "Lho, kenapa aku terbangun di ranjang?"


Dengan tatapan bingung, Emma mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya hanya menangkap ruang kosong tanpa keberadaan suaminya.


"Apakah Lukas yang memindahkanku kemari?" gumamnya pelan. Ia memang kebingungan, namun, Emma tak ada waktu untuk berpikir macam-macam. Ia harus segera turun dan sarapan.


......................


"Selamat pagi, Nenek," sapa Emma ramah.


"Cucuku, kau sudah bangun? Kemarilah," ujar nyonya besar sambil melambai ke arahnya. Emma mengangguk, lalu mendekat ke arahnya seperti yang diperintahkan. Emma sangat terkejut ketika tubuhnya ditarik oleh nyonya untuk sebuah pelukan.


"Ah... Senangnya aku punya cucu perempuan sepertimu," ucap Nyonya besar sambil menepuk-nepuk punggung Emma. Gadis itu membalas pelukan nenek mertua dengan hangat. Hanya Lukas yang tampak tak senang dengan kedekatan mereka berdua.


"Apa? Kau cemburu kalau aku mengambil istrimu?" tanya Nenek galak sambil melirik ke arah Lukas, seakan bisa membaca pikiran cucu satu-satunya itu.


'Malah, aku cemburu kau memperlakukan gadis itu seolah sedang menggantikanku' batin Lukas namun tak mengucapkannya.


"Tidak, Nek. Silakan kalian berpelukan sampai puas," tukasnya lalu kembali menyeruput kopi setelah memakan roti isi daging dengan keju moza yang lezat.


"Selamat pagi, Sa--yang," sapa Emma setelah lepas dari pelukan Sang Nyonya.


"Uhuk..Uhuk!!!" Lukas tersedak roti yang baru saja digigitnya. Emma mendelik ke arah suaminya dengan kode supaya ia membalas sapaannya dengan mesra.


"Selamat pagi, Sayang!" jawab Lukas dengan nada yang tajam.


"Aigoooo..... Lihatlah kedua anak ini, mereka sudah seperti love bird yang ceriwis sejak pagi," ucap nyonya besar yang bahagia dan bangga melihat kedekatan mereka berdua. Tak terasa, air mata haru berlinang di kedua matanya.

__ADS_1


"Nenek, mari diteruskan makannya," ucap Emma sambil menyuapkan sepotong roti padanya.


Lukas mendelik tak percaya. Bagaimana gadis itu begitu bodoh? Nenek paling tak suka jika ada orang yang menyentuh makananya. Nenek Lukas sangat rewel dengan kebersihan.


"Nyaaam.. Wah enak sekali roti ini jika disuapkan oleh gadis secantik dirimu," Puji neneknya sambil menelan roti itu tanpa protes.


"Uhuk... Uhuk!!!" Lukas kembali tersedak. Ada apa ini? Apakah dunia sudah terbalik dan ia sedang berada di parallel universe? Mengapa segala hal menjadi aneh sejak Emma menjadi bagian dari dirinya?


"Lihat apa kau? Cemburu lagi?"


"Ti--tidak, Nek. Silakan suap-suapan sampai kalian puas," tukasnya, kemudian beranjak dari kursi makan.


"Maaf, aku harus pergi dulu, Istriku, Nenek. Aku ada rapat penting pagi ini,"


"Mau kemana kau di hari pertama jadi suami? Dasar penggila kerja!" omel neneknya tak terima. Emma tampak diam saja sambil tersenyum karena dipamiti oleh Lukas. Ia sedang menyantap sarapannya, dan segera pergi juga sama seperti suaminya.


"Maaf, Nek. Aku benar-benar harus datang ke. rapat ini,"


"Maaf, Nyonya. Pembebasan lahan sedang bermasalah, Pak Presdir harus rapat dengan Gubernur dan Walikota untuk mengatasinya,"


Emma tetap makan dengan lahap sambil mendengar pertengkaran kecil yang disebabkan oleh perubahan status mereka. Dalam hati, Emma senang juga dapat menyalurkan kemarahannya pada Lukas lewat neneknya.


'Sukurin' batin Emma meledek Lukas.


Namun, melihat suaminya serba salah dan tak bisa melangkah, Emma akhirnya menengahi pertengkaran itu.


"Sudahlah, Nek. Aku juga mau ke kampus. Ini hari pertama kuliah,"


"Apa? Kau juga ikut-ikut gila kerja? Eh, gila kuliah? Gimana sih ini? Kapan kalian berbulan madu???" desak Neneknya, kali ini mulai duduk, setelah lelah berdiri dan mengomeli Lukas dan Roy.


"Bulan depan!" jawab Lukas cepat.


"Y--ya?" Emma mendelik

__ADS_1


"Bulan depan, kami akan bulan madu!" jawab Lukas dengan tegas. Ia memberi kode pandangan ke arah Emma. Gadis itu pun dengan cepat mengiyakan perkataan suaminya.


"Benar, Nek. Yang penting, kami kan sudah menikah. Masalah bulan madu, gampang, bisa menyusul. Kami harus selesaikan pekerjaan dulu," ucap Emma sambil mengelus tangan nyonya besar dengan lembut.


"Hhh... Yasudah, terserah kalian saja," sahut nyonya besar melunak. Lukas tersenyum dan mengkode kelegaan pada istrinya. Lukas dan Emma tak ubahnya seperti anak pramuka yang saling lempar kode ketika berbicara.


"Kalau gitu, aku berangkat!" ujar Lukas sambil melangkahkan kakinya dengan senyuman.


"Tunggu!!!"


Langkah kaki Lukas terhenti oleh teriakan neneknya.


"Salam perpisahan yang benar ke istrimu,"


"Y--ya? Bagaimana caranya?" Lukas mendelik sambil berpikir keras.


Emma kemudian beranjak dari kursinya. Gadis itu kemudian mendekat ke arah suaminya sambil memonyongkan bibirnya. Lukas menelan ludah, tak menyangka bahwa Emma begitu agresif dan gila, tak seperti bayangannya.


"Cepet.. Pegel nih," bisik Emma pelan. Gadis itu juga sebenarnya terpaksa bertingkah gila, supaya bisa segera pergi kuliah.


CUP!


Sebuah kecupan mendarat sempurna di kedua bibir mereka. Kecupan secepat kilat yang mendebarkan.


"Nah! Benar begitu!" tukas neneknya kembali menyantap sarapan. Nenek senyum-senyum sambil mengunyah pelan makanannya. Sedangkan, Lukas dan Emma pergi berpisah dengan perasaan campur-aduk seperti sedang kemasukan blender di dada mereka.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2