
"Hey, kenapa kamu menangis?"
Di tengah kekalutan yang dirasakan oleh Emma, terdengar suara seseorang yang mengejutkannya. Emma mengangkat wajahnya yang penuh dengan air mata, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ri--Ryan?" ucapnya sambil mengusap air mata yang telah membasahi seluruh wajahnya. Ryan duduk di hadapan Emma dan dengan lembut mengusap setiap butir air yang menganak-sungai dari kedua matanya.
"Jangan menangis," ucap Ryan sambil mengangkat wajah Emma dan menarik garis senyumannya. Meskipun wajahnya masih penuh dengan kesedihan, senyuman Emma tetaplah cantik.
"Ryan..." panggil Emma lirih, kemudian menarik lengan Ryan agar mendekat ke arahnya. Ia lalu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pria tersebut.
Ryan terlihat bimbang. Ia takut suasana yang membuat salah paham ini akan terus menghantui dirinya. Ingin rasanya Ryan melepaskan pelukan erat yang menyesakkan ini agar tak hanyut dalam khayalannya sendiri. Namun, Ryan telah berjanji pada dirinya bahwa kebahagiaan Emma jauh lebih penting daripada obsesinya. Jika memungkinkan, Ryan ingin mengubur status Lukas dan menjadi penggantinya sebagai suami Emma.
"Menangislah, lepaskan bebanmu," ucap Ryan lembut sambil membelai rambut Emma. Setelah Emma puas menangis, gadis itu kemudian menjauhkan diri dari pelukan Ryan. "Maaf," tuturnya lirih. Emma merasa bersalah karena seakan hanya memanfaatkan Ryan ketika sedang bersedih saja. "Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu tadi pulang?" tanya Emma sambil menghapus sisa-sisa air mata dengan sapu tangan yang diberikan oleh Ryan.
"Emma, rumahku ada di dekat sini. Kenapa kamu berlari begitu jauh? Kamu bahkan tidak mengenakan sepatu. Tadi aku melihatmu dari minimarket, jadi aku mengejarmu untuk memastikannya," ujar Ryan.
Emma baru menyadari bahwa dia sudah berlari sangat jauh karena kekacauan dalam pikirannya. Suatu keberuntungan bagi Emma, karena tadi, penjaga gerbang sedang tertidur sehingga dia bisa melarikan diri dari area mansion. Tanpa disadari, Emma sudah berada cukup jauh dari rumahnya.
"Katakan, ada masalah apa?" tanya Ryan dengan simpati. "Apakah kamu bertengkar lagi dengan Lukas?"
"I--itu. Eum... Abaikan saja masalahku. Aku tidak bisa menceritakan aib suamiku. Terima kasih, sekali lagi. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu," ucap Emma dengan rasa malu. Ryan hanya tersenyum melihat Emma yang terlalu membatasi dirinya.
"Emma, aku temanmu. Kamu tak perlu merasa sungkan. Aku punya banyak teman yang berutang puluhan juta dan mereka bahkan tidak membayarnya atau meminta maaf sebanyak yang kamu lakukan. Jadi, tenang saja," ucap Ryan untuk menghibur Emma agar dia tidak merasa terbebani. Gadis itu kini tersenyum lagi. Dia mencoba bangkit, namun kakinya terasa sakit.
"Mau aku antar pulang?" Ryan menawarkan diri.
"Ehm, tidak. Aku tidak ingin pulang sekarang. Tapi, aku juga tidak tahu harus pergi ke mana..." gumam Emma bingung.
Ryan mencoba berpikir sejenak dan menawarkan Emma untuk bermalam saja di apartemennya, letaknya juga tidak jauh dari lokasi mereka saat ini. Namun, Emma menolak. Hal itu hanya akan memancing skandal dan berdampak buruk bagi mereka berdua.
"Apa ada ide lain?" tanya Ryan.
__ADS_1
Emma tampak berpikir sejenak, lalu memandang ke arah bangunan menjulang yang sedang menyala terang. "Ryan, kamu tahu Hotel Halton itu?" tanya Emma.
"Tentu saja. Mau menginap di sana saja? Ayo, kuantar," ucap Ryan dengan antusias.
"Eum.. Masalahnya, aku bahkan tidak membawa apapun. Pakaianku saja masih pakaian tidur. Ada satu hal yang terjadi tadi, jadi aku kabur.... " ucap Emma dalam keadaan bingung.
"Eiiyy.. Tenang saja. Aku yang akan membayar segala keperluanmu. Ayo pergi!"
Emma merasa lega dan sangat menghargai kebaikan hati Ryan. "Terima kasih sekali lagi, Ryan. Kamu memang sahabat sejati," ucap Emma dengan rasa terima kasih yang mendalam.
Ryan hanya tersenyum hambar menyambut ungkapan dari gadis yang telah menarik hatinya, karena ia menyadari situasi rumit yang sedang dialami. Ryan bukanlah pria yang brengsek yang akan merusak rumah tangga orang dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ryan akan tetap menunggu hingga Emma sendiri yang memutuskan hubungannya dengan Lukas. Entah itu melalui proses perceraian atau cara lainnya.
Tentu saja, harapan Ryan tidak didasari atas niat yang jahat. Hanya saja, Ryan tidak bisa menerima fakta bahwa Emma terlihat menderita dalam pernikahannya. Ryan mulai berpikir buruk tentang Lukas yang tidak bisa menjadi suami yang baik untuk gadis secantik Emma. Ryan bahkan siap untuk menggantikan posisi Lukas detik ini juga, jika Emma menginginkannya.
......................
...[Hotel Halton, Jakarta]...
Hanya perlu waktu 15 menit saja untuk mencapai Hotel Halton dengan berkendara. Saat ini, Ryan dan Emma telah berhasil memesan dua kamar sehingga mereka dapat beristirahat dengan tenang di sana.
"Terima kasih," sahut Ryan dengan sopan.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar masing-masing.
"Ryan, terima kasih banyak," ucap Emma ketika mereka hendak berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Ryan tersenyum lembut sambil mengelus rambutnya.
"Tidak perlu berterima kasih, Emma. Aku senang bisa membantumu. Kamu tidak sendirian, kita akan melewati ini bersama-sama," tuturnya.
Emma tersenyum malu-malu dan menikmati momen kehangatan yang diberikan oleh Ryan. Namun, hati nuraninya tersentak. Ia kemudian menyadarkan dirinya bahwa statusnya sudah bukan lagi sebagai seorang wanita lajang. Emma sudah memiliki seorang suami.
"Ma--maaf," Emma menepis tangan Ryan yang memancarkan aura kelembutan dan kehangatan. Emma khawatir bahwa ia akan terbawa perasaan dan melakukan dosa seperti yang sudah dilakukan oleh suaminya.
__ADS_1
Ryan tidak bisa mengabaikan desakan hasratnya untuk terus mendekati Emma yang terlihat rapuh dan menggoda. Namun, ia segera mengingatkan dirinya sendiri tentang status pernikahan Emma. 'Sial. Aku tidak boleh menjadi seorang brengsek. Sadarlah, Ryan! Dia itu Istri orang!' batinnya bergolak, seakan memberi batasan jelas antara sebuah gairah dan tatanan norma susila.
Emma dan Ryan saling melepaskan pandangan, terdiam dalam suasana yang canggung. Emma kemudian meminta izin untuk segera beristirahat. Ryan mengangguk perlahan dan mulai menjauhi kamar Emma.
Tik...
Tik..
Tik..
Langkah Emma terhenti ketika ia mendengar suara air menitik yang terdengar saat pintu kamarnya dibuka.
"Ada apa, Em?" tanya Ryan ketika melihat Emma menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam kamar.
"I--itu. Sepertinya ada kebocoran air," ujar Emma dengan suara gemetar.
Ryan mencoba memeriksa kebocoran air yang tak terduga ini. Mereka berdua masuk ke dalam kamar 1501 bersama-sama dan berniat melaporkan kebocoran tersebut pada petugas hotel agar bisa mendapatkan kamar pengganti.
BLITZ!
CEKREK!
Sebuah kilatan cahaya tiba-tiba berkedip. Menangkap momen kebersamaan Ryan dan Emma yang beranjak masuk menuju ke dalam kamar, tanpa diketahui apa konteksnya.
"Bagus sekali! Ini tangkapan besar!" gumam seorang paparazi dengan antusiasme yang menyeruak, seolah-olah dia baru saja menemukan harta karun yang terpendam.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...