
Emma terenyuh mendengar kisah masa kecil Lukas. Ia memeluk erat sang suami, yang mulai menitikkan air mata.
"Ah, maaf, aku terbawa suasana," ucap Lukas menahan malu, karena tampak rapuh dan lemah di hadapan Emma.
Emma menggeleng, dan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Ia dengan lembut mencium sang suami dan mencoba menyesap kesedihan yang menjalar dalam hatinya.
"Euum....," Lukas membalas ciuman Emma dengan hasrat yang dalam, dan terjadi pergumulan lembut yang menenangkan hati Lukas, setelah mengorek luka masa lalu yang kelam.
"Hah... Hah..., A---kh"
Setiap gerakan cinta dari Emma, membasuh perih hatinya. Lukas tidak lagi dirajai amarah dan dend, atas takdir kelam masa lalu. Ia telah memaafkan sang nenek, meski Nyonya Han Eun Sook tidak pernah mengatakan secara langsung padanya. Lukas sedikit paham bahwa neneknya mungkin tidak rela jika Lukas akhirnya melarikan diri dan menjauhi dirinya.
"Sa--yang," Emma mende-sah. Melihat dengan lembut ke arah wajah sang suami. Ia menci-umi kedua mata Lukas dengan perlahan, menghalau setiap tetesan air mata yang hendak tumpah. "Aku bersamamu, akan selalu di sisimu," bisik Emma pelan dengan erangan kecil karena merasakan sedikit nikmat dalam penghiburan yang sedang dilakukannya.
"Hmmmm," Lukas menyesap tu-buh sang istri, dan mempercayai kata-katanya. Ia yakin, Emma adalah jawaban atas penantiannya selama ini. Lukas percaya bahwa, akan ada seseorang yang menemaninya, dan menghabiskan sisa usia bersama. Lukas selalu memohon kepada Sang Kuasa untuk menghadirkan wanita yang bisa menjadi pelengkap kekosongan hatinya setelah ditinggal pergi ibunda, dan dikhianati oleh orang-orang tercinta.
"Saaa--yang,"
Panggilan terakhir Lukas membuat wajah Emma merona. Mereka lagi-lagi terkulai lemas, dan merebah bersama, dalam hangatnya selimut cinta.
......................
...[Di Rumah Sakit]...
Semburat senja menyapa kamar VVIP yang ditempati oleh Nyonya Han Eun Sook. Ia tengah menanti kedatangan cucu-cucunya yang berjanji akan kemari malam nanti.
Menurut pemberitahuan Roy, sang ajudan Lukas, cucu-cucunya akan datang setelah makan malam berdua. Mereka hendak merayakan kembali persatuan mereka, yang, entah karena apa. Roy tidak memberitahu lebih lanjut. Mungkin, itu adalah malam peringatan pernikahan mereka. Nyonya Han baru mengingat momen penting yang pernah dilewatkan bersama, setahun yang lalu.
"Hah.. Dasar bocah! Coba kalau tidak kupaksa menikah, tidak bakal dia nemu gadis secantik dan sebaik Emma," gumamnya sambil memandangi warna jingga dari matahari senja yang telah sedikit pudar.
Tiba-tiba saja, pintu kamarnya diketuk. Seorang dokter dengan tiga perawat tampak berjalan menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Nyonya, apakah Anda merasa tidak nyaman? Di bagian mana?" tanya dokter Lina kepadanya, saat melakukan kunjungan rutin untuk memeriksa perkembangan kondisinya.
Mengingat, dirinya adalah seorang pasien dengan kanker payudara stadium akhir yang sedang bertaruh nyawa, pertanyaan dokter hanya dibalas senyuman pahit penuh makna.
"Saya... Saya merasa tidak nyaman di seluruh tubuh, dokter," ucap Nyonya Han Eun Sook dengan senyum simpul yang mencerminkan ketabahan dan kekuatan batinnya.
Dokter Lina merasa sedih melihat kondisi Nyonya Han Eun Sook yang semakin memburuk. Namun, ia tetap profesional dan berusaha memberikan perawatan terbaik untuk pasiennya.
"Mohon maaf atas pertanyaan sebelumnya. Apakah ada yang dapat saya bantu untuk meredakan ketidaknyamanan yang Anda rasakan?" tanya dokter Lina dengan penuh perhatian.
Nyonya Han Eun Sook menggeleng pelan. "Sudah tidak ada yang bisa dilakukan, dokter. Saya sudah menerima takdir ini dengan lapang dada. Yang terpenting sekarang adalah melindungi keluarga saya dan memastikan mereka baik-baik saja setelah saya pergi."
Dokter Lina mengangguk dengan pengertian. Ia menyadari bahwa perawatan medis sudah mencapai batasnya, dan yang terpenting adalah memberikan dukungan dan kenyamanan emosional bagi Nyonya Han Eun Sook dan keluarganya dalam menghadapi situasi ini.
"Saya akan memastikan Anda dan keluarga mendapatkan dukungan yang dibutuhkan, Nyonya. Jangan ragu untuk menghubungi saya jika ada yang bisa saya bantu," ucap dokter Lina dengan suara lembut.
Nyonya Han Eun Sook tersenyum penuh syukur. "Terima kasih, dokter. Saya sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan Anda selama ini."
Tak selang beberapa lama, seorang wanita paruh baya terlihat menampakkan diri di ambang pintu masuk. Dokter Lina yang baru akan keluar, menyambutnya dengan senyuman.
"Apakah anda keluarga Nyonya Han?" tanya sang dokter ramah.
"Saya teman dekatnya," ucap Nyonya Liem sambil tersenyum seadanya. Ia membawa sebuah buket bunga segar dengan jalinan mawar merah sebagai hadiah agar perasaan sahabatnya itu menjadi baik.
"Silakan masuk," ucap dokter Lina sambil pamit untuk memeriksa pasien lainnya.
Nyonya Liem mengangguk dan mengucapkan terima kasih, kemudian berjalan pelan menuju ke arah ranjang sang pasien.
"Nyonya Han," panggilnya pelan.
"Liem... Kau datang," sahutnya dengan senyuman.
__ADS_1
Dua wanita berusia senior itu pun saling berbincang dan melewatkan waktu sore berdua. Ada banyak hal yang dibicarakan, terutama mengenai berita terkini. Nyonya Liem juga membisikkan sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Nyonya Han.
"Benarkah?" tanya Nyonya Han dengan ekspresi terkejut. Tangannya gemetar, dan raut wajahnya berubah tegang. Meskipun demikian, Nyonya Liem merasa bahwa dia harus memberitahunya.
"Benar," jawab Nyonya Liem dengan sikap lembut namun tegas. Dia meminta sahabatnya untuk tidak khawatir. Nyonya Liem sebenarnya enggan memberikan kabar yang kurang menyenangkan ini. Namun, dia merasa Nyonya Han harus mengetahui fakta ini, mengingat usia Nyonya Han yang tidak lama lagi.
Nyonya Han, yang mendengar kata-kata itu, merasa hatinya berdesir. Dia mencoba untuk menahan emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Meskipun berita itu menyakitkan, dia menyadari bahwa kebenaran harus dihadapi, bagaimanapun sulitnya.
"Demi apa aku harus melewati masa sulit ini, Liem?" ucap Nyonya Han dengan suara bergetar, mencerminkan kelemahan dan keputusasaan yang tersembunyi di balik senyumannya. "Bagaimana aku harus menghadapinya? Aku sangat malu."
Nyonya Liem menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak memiliki jawaban pasti, Nyonya. Namun, aku akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu sekuat tenaga. Jangan khawatir," hiburnya dengan senyuman.
Nyonya Han merasa terharu oleh kehadiran dan dukungan yang diberikan oleh Nyonya Liem. Dalam masa-masa sulit ini, mereka saling menguatkan dan menjadi sumber kekuatan satu sama lain.
"Terima kasih, Liem," kata Nyonya Han dengan suara lemah, namun penuh rasa syukur.
Mereka berdua menggenggam tangan satu sama lain, menunjukkan rasa persahabatan mereka yang kuat.
"Aku akan meneleponnya," Nyonya Han memutuskan.
Nyonya Liem mengangguk pelan. "Ya, sebaiknya begitu, kita bisa bertemu bersama-sama. Aku akan menjelaskan situasinya juga," ucap Nyonya Liem dengan penuh keyakinan.
Nyonya Han pun mengambil ponselnya, dan menelepon cucu tersayangnya, Lukas, untuk memohon sebuah pengampunan yang selama ini telah tertunda.
...****************...
...Bersambung...
...
__ADS_1