Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 93 # Penculikan Di Atas Penculikan


__ADS_3

Emma terbangun dengan kepala berat. Ia tidak menyangka akan menjadi korban penculikan.


Emma dapat merasakan tangannya sakit akibat gesekan tali tampar yang membelit di antara kulitnya.


"Arrgh..." Erangnya, yang kini sudah mulai membuka mata.


"Kau sudah bangun, pelac*r?" teriak suara parau yang menyentak kesadarannya.


"A--apa? Dimana aku?" Emma mengernyit, merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Kenapa nanya-nanya?! Kau sendiri yang cari mati!"


Untuk sesaat, Emma menyipitkan mata, memandang dengan seksama ke arah suara yang sedari tadi terdengar murka kepadanya.


"Lucy?"


Ia terkesiap, setelah menyadari bahwa Lucy adalah dalang di balik semua ini.


"Lepaskan aku!"


"Kau harus bercerai dari Lukas! Kau tidak mendengarkan?"


Lucy tetap berteriak-teriak, seperti sedang meluapkan lahar di hatinya.


Di tengah amarahnya yang membuncah, sebuah panggilan telepon, menghentikannya.


"Halo?"


Lucy tampak mendengarkan tiap bait suara yang menulikan telinga dari seberang sana.


Koleganya, mafia dari Kanada, yang sangat tidak ia inginkan kehadirannya, tampak menyela momentum penculikan ini.


"Apa?!"

__ADS_1


Bruk!


Lucy terduduk ambruk dengan tubuh gemetar, setelah mendengar kabar bahwa... Lukas disandera oleh wanita keji itu!


"Ba... ji... ngan..."


Kali ini, ia tampak panik, dan mulai menggigiti kuku-kuku jarinya.


"Nona? Apa yang harus kita lakukan?" Kian tampak khawatir dengan insiden penculikan-ception ini. Penculikan di atas penculikan, sungguh, kejadian yang ada di luar nurul, dan tidak habis fikri untuknya.


***


"Bawa pria brengsek itu kemari!" Madam Linn memerintah anak buahnya, untuk menyeret pria yang tadi diculiknya.


"Benar, orang yang ini kan?" tanyanya memastikan, pada mata-mata bercodet yang selama ini menjadi pion penting pengintaiannya di Indonesia.


"Benar, Nyonya. Dia lah pria yang dikejar-kejar wanita itu..."


"Cuih!"


Bagaimana bisa wanita itu malah bermain cinta-cintaan? Di saat pabrik narkobanya di ambang kehancuran? Madam benar-benar murka!


"Seret dia!" perintahnya kemudian, memaksa untuk menyeret Lukas, agar mendekat ke arahnya.


Lukas, yang sedang tidak dalam keadaan sadar, tampak mulai mengerang kesakitan. Matanya berkunang-kunang, dan kepalanya terasa berat. Efek yang sama seperti yang dirasakan oleh sang istri, dengan penculik yang berbeda.


"Bajingan! Siapa kalian?!"


***


Lucy tampak merenung, sambil masih menggigiti kuku-kukunya. Pandangannya kosong, menatap layar komputer yang tidak menyala.


"Nona..."

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Tidak ada, Maaf..."


Ia semakin gusar, tatkala ajudannya membawa kabar buruk yang membuat cinta pertamanya menderita.


Madam Linn, mafia Kanada itu, datang sendiri kemari, pasti ingin menginspeksi pabrik narkoba di Pulau Perawan.


Kesepakatan awal mereka adalah, Madam Linn mendanai mega proyek milik PT. Hains Construction, dengan hak pengelolaan bisnis gelap di sana.


Bisnis gelap kedua belah pihak, menautkan mereka pada jaringan kriminal internasional, sehingga, mau tidak mau, mereka harus saling menutupi bangkai masing-masing.


Namun, seiring waktu, pabrik narkoba milik Madam Linn terkendala supplai bahan baku, dan hal itu membuat operasinal pabrik terganggu.


Tanaman beracun Macadonia, sebagai bahan baku, telah musnah.


Hal ini, tidak lain dan tidak bukan, akibat campur-tangan Han Eun Sook, setelah mengetahui bahwa Lukas telah menderita akibat racun mematikan darinya.


"Apa Anda akan menyerah?"


"Apa?! Tidak mungkin! Cari cadangan tanamannya, sekarang!"


Kian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dia mencari bahan membuat narkoba? Memangnya, di pasar ada?


***


Sementara itu, Madam Linn masih marah-marah, karena pasokan produknya gagal memenuhi kuota.


Bisnisnya menjadi di ambang kehancuran, dan ini gara-gara Lucy yang kasmaran.


"Dasar wanita genit! Membunuh suami hanya untuk kembali ke cinta pertama? Orang gila!"


"Sabarlah. Biarkan dia berbuat sesuka hatinya. Lalu, kita akan musnahkan semua..."

__ADS_1


Suara bariton di sebelah Madam Linn, tampak menguarkan aura yang mencekam. Pria tua itu, seakan mengetahui, titik lemah dari Lucy.


"Yah, kau benar. Mari kita buat permainan ini menjadi lebih menarik."


__ADS_2