Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 56 Lucy Ngamuk


__ADS_3

<"Pemirsa, telah ditemukan mayat perempuan tak dikenal di sekitar trotoar Hains Tower, Jakarta Pusat. Kondisi mayat mengenaskan, dengan luka tusuk dan wajah rusak akibat siraman air keras. Dugaan sementara, wanita ini adalah korban perampokan karena ditemukan beberapa uang dollar terserak di sekitar tubuh korban....... ">


Berita sela pagi ini membuat amarah Lucy memuncak.


"AAARRGHHHH!! DASAR BODOH!! Mengapa Sarah bisa kabur? Dan lagi, kenapa ada mayat di dekat gedungku, hah?" teriak Lucy pada Kian, sekretarisnya, dan Lorry, kepala keamanan gedung yang juga bertanggung jawab atas penjara bawah tanah.


"Maaf, Nona. Kami lengah," ucap Lorry menyesal.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat ke wajahnya dengan keras. "Maaf saja tidak memberi solusi!!! Cepat! Lacak dia!" perintah Lucy masih tetap berteriak. Kian tampak gemetar. Ia bahkan tidak bisa berdiri dengan benar karena lututnya terus saja bergetar.


"Kian! Dimana pelacak j*lang itu?" tanya Lucy kemudian.


"Ma--maaf, Nona. Pelacaknya tidak berfungsi. Sepertinya penyelamat Sarah seorang yang profesional. Mereka dapat menemukan pelacak kita dan menghancurkannya," sahut Kian dengan suara bergetar.


"ARRRGGHH! DASAR BODOH!" serunya dengan frustrasi. Lucy kemudian memikirkan sabotase yang terjadi di wilayahnya. Dia benar-benar tidak menyangka akan mengalami nasib buruk secara beruntun seperti ini. Pikirannya berputar cepat, mengolah setiap informasi yang dimilikinya. Lucy teringat sesuatu. Kanada. Hanya orang gila itu yang dicurigai oleh Lucy. Orang gila yang berani melakukan pembunuhan di siang bolong tanpa takut konsekuensi apapun. Dengan cepat, Lucy mengambil ponselnya dan menekan nomor asing yang diingatnya.

__ADS_1


TUUUUT....


Sambungan telepon mulai berdengung. Lucy melakukan percakapan dalam bahasa Inggris pada seorang kenalan yang selama ini berafiliasi dengannya.


<"Hello?">


<"Wanita tua. Apakah itu ulahmu?">


<"Hahaha.... Lemot banget kalo mikir. Ya jelas lah!">


<"*Beraninya kau melakukan itu di wilayahku! Aku menderita kerugian banyak! Tahananku bahkan kabur!">


<"Kenapa kau tidak memberitahuku? Kita bisa memikirkan solusinya baik-baik!">


<"Kau memang lemah dan lemot! Aku tidak suka bertele-tele! Diamlah dan tonton saja pertunjukkannya">


<"Apa? Beraninya kau merutukku! Dasar wanita gila! Hati-hati kalau bicara! Aku tidak segan-segan memutuskan kerjasama kita! Dan pabrikmu akan hancur!">

__ADS_1


<"Beraninya!!..... > tiba-tiba terdengar suara bisikan seorang pria yang tidak jelas di latar belakang suara nyonya Liz.


<"Kau tidak akan bisa membatalkan kerjasama secara sepihak. Aku punya kartu yang bisa membuatmu diburu interpol. Mengerti*?">


Lucy terdiam sejenak. Rahasia apa yang dilakukan Lucy sehingga harus berurusan dengan interpol? Ia tidak mengingatnya.


<"Baiklah. Lakukan sesukamu">


TUT.


Sambungan telepon berakhir, diiringi dengan amukan Lucy yang mereda. Nyonya Liz memang berbeda level dengannya. Jika Lucy hanya seorang yang kejam dan berdarah dingin, maka nyonya Liz termasuk wanita berdarah beku yang bahkan tidak dapat merasakan panasnya api neraka. Nyonya Liz adalah mafia tulen yang ada di dunia berbeda dengan Lucy. Kerja sama mereka juga dilakukan karena Lucy butuh dukungan dunia hitam yang dapat memuluskan rencana pengambil-alihan proyek Pulau Perawan. Memang, tidak dapat dipungkiri, pembangunan resort dan rumah bordil milik Lucy berjalan sesuai rencana tanpa kendala berkat bantuan anak buah nyonya Liz. Lucy mengenalnya dari mendiang suaminya yang juga seorang mafia di Kanada. Aliansi yang kuat antarmereka, menjadi keuntungan bagi Lucy yang merupakan ahli waris Klan Moreland.


"Aduh, kepalaku sakit," erang Lucy, seolah-olah otaknya sedang merasakan gejala putus urat akibat dipaksa bekerja terlalu keras. "Ah, sudahlah, aku harus pergi ke spa," gumamnya kemudian, mencoba berdamai dengan keadaan.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2