
Pagi hari yang cerah dan menyenangkan bagi Emma sudah datang. Ia begitu gembira karena hari ini adalah hari liburnya. Hari efektif perkuliahan Emma hanya tiga hari dalam seminggu. Emma tak menyangka, kuliah rupanya sangat fleksibel dan menyenangkan. Ia sangat betah berkuliah di Universitas Adi Luhung, Jakarta.
"Pagi, Em," sapa Lukas yang terbangun duluan di sisinya. Emma membuka salah satu sisi matanya, dan melihat lekat-lekat wajah suaminya. 'Apakah otaknya terkena stroke ringan? Kenapa dia bertingkah manis seperti suami sungguhan?' batinnya. Namun, Emma tentu tak ingin dicap sebagai istri sombong yang mengabaikan sapaan suami sendiri.
"Pagi, Luke," sahutnya tak kalah ramah. Mata dan bibirnya saling tertarik dalam rona bahagia.
Lukas dan Emma pun saling melempar senyum dan bersiap untuk beranjak dari kasur. Pagi ini, lagi-lagi Emma memeriksa pakaiannya. Lengkap. Sama seperti ketika ia berangkat tidur. Entah mengapa, tingkah Lukas dengan pemenuhan kewajiban sangat bertolak belakang. Sudah lebih dari satu bulan pernikahan mereka berlangsung, namun, Lukas sama sekali belum pernah meng-unboxing-nya.
'Kalau kau sungguh-sungguh berubah, harusnya kau sudah meng-unboxing-ku sejak lama' gerutu hati Emma yang tak kunjung mendapatkan nafkah batin. Emma lalu berasumsi, apakah memang suaminya memang begitu taat hukum dan mematuhi perjanjian kontrak yang mereka teken bersama? Ataukah, perhatiannya hanya pura-pura saja? Ah entahlah. Emma tak ingin memikirkan hal buruk yang dapat mengganggu hari liburnya.
"Aku mandi dulu ya, kau bersiaplah untuk makan," ucap Lukas sambil membelai lembut pipi istrinya yang masih belum bangkit dari ranjang. Emma hanya mengedipkan kedua matanya tanda setuju. Ia agak malas bergerak.
"Hoaaahm," Emma menguap dengan sangat lebar sambil menggeliat pelan. "Hm... Hari libur, ngapain ya?" gumamnya bimbang. Emma terbiasa sibuk dan mengejar jadwal, ketika hari libur tlah tiba, ia menjadi tak tahu harus berbuat apa.
"Jalan-jalan dulu lah,"
Emma kemudian beranjak dari ranjangnya lalu berjalan perlahan keluar kamar. Ia baru menyadari, lantai 3 mansion mereka begitu luas dan memiliki banyak ruangan yang belum dijelajahi.
"Ohya! Rooftop!"
Emma teringat akan instalasi kolam renang kekinian yang dinamakan infinity pool di lantai teratas mansion mereka. Meski sangat penasaran, Emma belum sempat melihatnya.
__ADS_1
"Kesana ah," ujarnya sambil menggegas langkah. Emma berjalan menuju ke area rooftop yang dihubungkan oleh tangga kecil dari dalam rumah mereka. Begitu sampai di sana, Emma terkejut tak percaya, bahwa ada kolam renang seindah ini di rumah Lukas--eh-- rumahnya.
"Whoaaah... Kalau di kampung sih, udah pasti aku kasih HTM mahal nih! Cantik banget!!" pekiknya kegirangan. Emma mulai berlarian dan membiarkan wajahnya terbelai angin segar di pagi hari. Diregangkannya kedua lengannya ke atas dan ke bawah sambil melenturkan badan. Ia lantas berjalan perlahan menuju ke arah kolam renang yang tampak tanpa tepian itu.
"Hiiiy.. Dingin... " ujar Emma namun dengan hati riang. Ia teringat air sungai di kampungnya ketika kecil dulu. Emma sering bermain air bersama teman-temannya sambil mencari ikan-ikan kecil supaya bisa dimasak oleh ibu mereka.
Kecipak..
Kecipak..
Emma mulai memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam, kemudian bermain air dengan menciprat-cipratkannya ke arah luar.
"Hihi.. Seruu.. Seru... " Emma terlihat seperti bocil yang baru saja diajak main ke wahana wisata dan terkagum-kagum dibuatnya.
Lukas yang menyadari Emma tak ada di kamar mereka, terlihat mencari-carinya. Ia mendengar suara Emma dari atas balkon. "Oh, rupanya di rooftop," gumamnya. Lukas lantas mengikuti jejak Emma untuk menikmati udara pagi di rooftop mereka.
"Kamu mau berenang?" tanya Lukas ketika melihat istrinya kegirangan bermain air dengan kakinya.
"Iya.. Cuma.. Hehe.. Aku nggak bisa berenang. Jadi main air aja," sahut Emma dengan senyuman. Pantulan cahaya pagi yang masih hangat, membuat riak air berkilauan. Wajah Emma tampak sangat cantik terkena sapuan sinar mentari pagi ini.
__ADS_1
Lukas sebenarnya sudah berdandan rapi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Namun, melihat ekspresi istrinya yang seperti bocil ketemu wahana wisata, hatinya tak tega jika meninggalkannya dalam keadaan sendirian. Lukas pun meraih ponselnya, dan menelepon Fritz, CEO konstruksi, untuk menunda rapat dan diganti pada esok pagi saja, karena hari ini ia ada agenda mendadak.
<"Pak, tapi ini mendesak, terkait peletakan batu, pertama di La Marie,">
<"Sudahlah, besok juga bisa. Belum kiamat ini. Aku sibuk!">
Tut.
Telepon diputus sepihak oleh Lukas. Ia membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya yang sudah rapi dan tertata, lalu berjalan ke arah istrinya yang sedang bermain air.
"Lukas.. Kamu mau ngapain?" tanya Emma yang kebingungan karena Lukas tak jadi berangkat bekerja.
"Ayo, main air sama aku. Kuajarin renang, mau?" tanyanya dengan santainya.
Mendengar penuturan Lukas, Emma sungguh terkejut. Ia sampai tak bisa berkata-kata. 'Astaga, ada apa dengan presdir dingin ini? Otaknya korslet?' batin Emma, masih dengan mata terbelalak tak percaya.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...