
"Mak Perot lahir di Cirawit, Cariangin, Sukabumi, Jawa Barat, tahun 1890. Ia terkenal dengan praktik pijatnya yang diklaim bisa membesarkan al*t v*tal kaum laki-laki. Dengan kepiawaiannya itu, nama Mak Perot menjadi terkenal sebagai spesialis pembesar a--lat vi--tal?" Emma tampak mengeja laman wikimedia yang baru saja diaksesnya dari ponsel.
"Sayang???? Kamu nggak salah orang? Ih... Kok m*sum gini jadinya?" lanjutnya tampak sangsi dengan herbalis rekomendasi dari dokter Freddy.
"Iya, itu orangnya, Sayang. Ni habis ini kan kita sampai di rumahnya," sahut Lukas sambil memerhatikan jalan. Roy tampak menyetir dengan fokus. Emma masih mengernyitkan dahinya.
Beberapa waktu lalu, dokter Freddy yang merasa bersalah, akhirnya mencoba mencarikan solusi sebisanya. "Pak, saya punya guru. Sebelum saya membuka klinik di Jakarta, dia ini cukup terkenal, tapi.... Jangan buruk sangka ya, kita nggak lagi ngomongin soal pembesaran al*t v*tal. Dia ini herbalis andal. Jadi, jamu-jamunya itu tokcer..... Dicoba, mau?" tutur dokter ketika menelepon Lukas beberapa waktu lalu.
"Iya, Dok! Saya mau coba. Berapapun kemungkinannya, lebih baik dicoba dulu, daripada tidak ada solusi lainnya," sahut Lukas mantap.
Begitulah pada akhirnya, Lukas dan Emma sedang dalam perjalanan ke Sukabumi, Jawa Barat, untuk mencari klinik Mak Perot. Dokter Freddy sudah menginformasikan bahwa klinik itu mungkin diteruskan oleh cucunya, karena Mak Perot sudah meninggal. Namun, keahliannya tidak jauh berbeda. Ada baiknya, mereka mencoba berobat ke sana terlebih dahulu, untuk mencari tahu hasilnya.
......................
"Eh! Ujang! Apa-apaan kamu, teh!!!" hardik Teh Lilis tidak terima atas tuduhan yang dilontarkan oleh tetangga desanya.
"Kembalikan uang Bu Han! Kamu pikir, saya nggak tahu kalau kamu itu penipu?" sahut Pak Ujang tidak kalah garang.
Suami Teh Lilis celingak-celinguk, antara bingung dan hendak marah, tapi tentu saja amarah dari istrinya sudah cukup membuat klinik kecil mereka gempar. Kang Darna lebih baik menengahi keduanya karena tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi.
"Ambu! Ujang! Tenang... Tenang... Tuh... Ada polisi, nanti kalian berdua, teh, ditangkap!" ucapnya menakut-nakuti. Istrinya sewot, "Apaan, si Akang, Mah!", sedangkan Pak Ujang hanya tersenyum sinis. "Polisi itu datang gara-gara ulah kalian sendiri! Nyahok, Siah!" cemoohnya dengan senyuman kemenangan.
Teh Lilis dan sang suami saling pandang. Ada urusan apa polisi datang kemari?
__ADS_1
BRAK!
"Bapak, Ibu, ikut kami ke kantor polisi," perintah petugas polisi yang baru saja mendobrak klinik mereka.
"Eh... Eh... Bapak... Apa-apaan??? Kenapa kami harus ikut ke kantor polisi?? Kami nggak kehilangan SIM atau STNK, kok!" seloroh Teh Lilis polos.
"Anda.... Eum...." petugas itu tidak melanjutkan pembicaraan, karena tiba-tiba atasannya sedang berjalan tertatih-tatih di belakang mereka.
"Heeeeehh.... Kalian... Aduuuhh..... Dasar!! Penipu!? Lihat ini.. Anu saya jadi bengkak! Ini, mah, bukan besar! Tapi, bengkak!!!" hardik sang inspektur yang bernama Iptu Dadang sambil meringis kesakitan.
"Eiiihhh.... Pak Iptu, Eh, Pak Dadang. Kunaon atuh? Itu kenapa jadi bengkak? Habis 'dipake' ya? Nggak puasa dulu?" tanya Teh Lilis tidak mau disalahkan.
Iptu Dadang semakin murka. Ia melambaikan tangan pada pasien-pasien lain yang mengalami masalah serupa. Sambil tertatih-tatih, mereka berjalan masuk sambil berbaris di ambang pintu klinik. "Lihat ini! Kamu menipu kami! Titisan Mak Perot apa??? Cuma harganya yang mahal! Tapi, gedenya nggak tahan lama! Itu mah disuntik silikon!" ucap Iptu Dadang meradang.
"Tangkap!" perintah sang inspektur tidak mau tahu. Ia sudah terlanjur malu dan kesakitan karena anu-nya semakin bengkak.
"Pengacaranya langsung ke kantor saja, Bu," terang petugas yang memborgol keduanya.
"Eh!!! Setan kalian semua! Akan saya tuntut semuanya!! Awas ya!!" teriak Teh Lilis geram. Kang Dadang, yang merasa bahwa praktek pengobatan mereka memang mencampurkan beberapa metode suntik silikon untuk pembesaran alat vital, tampak tak berkutik. Ia pasrah saja digelandang petugas ke polsek untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Surat perintah penangkapan juga sudah ditunjukkan, dan mereka tidak bisa mengelak jika ditemukan zat asing dalam terapi injeksi yang mereka gunakan.
......................
Sementara terjadi kericuhan di depan klinik herbal "Ponakannya Mak Perot", sebuah mobil sedan tampak berkedip-kedip untuk berhenti di tepi jalan. Emma dan Lukas, yang baru saja tiba di depan klinik, tampak terkejut dengan keributan yang terjadi. Banyak warga seolah berdemo, sambil berbaris. Ada juga mobil patroli polisi yang sirinenya masih menyala. Tak selang beberapa lama, tampak dua orang dengan tangan terborgol, digelandang untuk masuk ke dalam mobil petugas.
__ADS_1
Emma dan Lukas tidak mengerti tentang situasi yang sedang terjadi. "Loh, ada apa nih, Sayang? Kok kliniknya digerebek polisi?" tanya Emma pada suaminya. "Entahlah, Sayang. Aku cek dulu," sahut Lukas, kemudian turun dari mobil. Ia berjalan perlahan menuju kerumunan massa, sambil mencari seseorang yang bisa diajak bicara. "Pak, ada apa ini ya?" tanyanya dengan kebingungan, karena sepertinya sedang terjadi kejahatan serius, sampai-sampai, polisi berpangkat tinggi ikut turun ke tempat kejadian.
Seorang bapak paruh baya yang sedang mengenakan sarung dan kaus kutang menjawab, "Huv.. Itu loh, Kang. Penipuan pengobatan. Dia mah bukan tabib hebat, cuma penipu. Numpang tenar doang pake nama mendiang bibik-nya,"
Lukas melirik sejenak ke arahnya. Ia merasa kedinginan, hanya dengan mengamati penampilan si bapak. Lukas menghela napas panjang, meratapi pencariannya yang sia-sia. Klinik ini satu-satunya harapan yang dapat membuatkan obat penawar untuknya. "Apakah ada klinik lain semacam ini, Pak?" tanya Lukas mencoba mencari alternatif. Bapak paruh baya itu mengernyitkan dahinya, melihat kebingungan yang terpancar dari wajah Lukas. "Wah, si Akang. Dulu mah ada memang, yang beneran
Khasiatnya terasa, sama seperti pengobatan neneknya. Tapi dianya udah minggat ke Jakarta," sahut si bapak singkat. Lukas kembali murung.
Emma, yang tidak dapat menahan rasa penasarannya, akhirnya ikut turun dari mobil. Secara tak sengaja, ia mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan. Emma kemudian segera bergabung ke arah mereka. "Sayang, apa yang terjadi?" tanyanya dengan khawatir.
Lukas menatap Emma dengan tatapan penuh penyesalan. "Klinik ini ternyata melakukan praktik ilegal dan berbahaya, Emma. Mereka menggunakan suntikan silikon yang sangat berisiko. Itu, korbannya banyak banget," ucapnya dengan suara yang lemah. Seakan, pencarian mereka untuk mendapatkan obat penawar dari Mak Perot terlanjur sia-sia.
"Jangan khawatir, Sayang. Sepertinya kita harus mencari jalan lain. Ayo pulang saja," ajak Emma menghibur suaminya.
Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, Lukas dan Emma hendak kembali ke mobil mereka. Tiba-tiba, dari dalam klinik, terlihat seorang wanita tua memanggil nama mereka.
"Lukas! Emma!"
Lukas dan Emma menoleh hampir bersamaan. "Nenek?" serentak mereka terkejut melihat penampakan nenek mereka yang sudah ada di dalam klinik bersama sopir dan seseorang yang tak dikenal.
...****************....
__ADS_1