Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 86 Kalung Cinta


__ADS_3

"Haaaah....,"


Pluk!


Emma kehabisan tenaga, dan tertidur pulas, tanpa mengkonfirmasi sikap yang dibuatnya. Keputusannya untuk kabur dan bercerai secara sepihak telah membuat Lukas naik pitam dan kini sedang menghukumnya dengan serangan asmara yang bertubi-tubi.


Beberapa waktu lalu, sebelum Emma kehilangan kesadarannya, ia sedang menjalani hukuman dari Lukas, sang suami.


Lukas menyerang Emma tanpa ampun, seperti singa yang baru saja bertemu mangsa. Ia menindih, menji-lat, dan menerkam Emma tanpa jeda, agar gadis itu mengerti kesalahannya.


"Sekali lagi kau kabur seperti ini, aku akan mengurungmu dan menghukum dengan lebih keras!" hardiknya tanpa merendahkan nada suara, sambil terus menyesap aroma tubuh sang istri yang telah polos di hadapannya.


"Ma--maafkan aku, Heup--" Emma tidak dapat berbicara karena lagi-lagi, Lukas membungkamnya dengan bi-bir yang me-lu-mat hebat. "Anggukan kepalamu saja, jika kau paham!" perintahnya, dan masih terus menggerakkan badannya demi kenikmatan yang mereka inginkan.


Setelah pengobatan impotensi dari Yuki membuahkan hasil, Lukas menjadi menggila. Ia bahkan tidak dapat mengontrol desakan ga-irah yang selalu menyeruak, tatkala jauh dari sang istri. Lukas sedang berada di puncak penguasaan nafsunya daripada akal-sehatnya, terlebih, tatkala ia mendengar berita hilangnya sang istri. Hal itu membuat dunianya seakan runtuh seketika. Lukas benar-benar kehilangan kesabaran dan bersumpah untuk menemukan Emma, bagaimanapun caranya.


......................


"Sudahkah kau selidiki? Apa yang mereka bicarakan?" tanya Lukas kepada Rosa, yang kemarin mendapatkan tugas mengorek informasi di Kafe Nolep, tempat terakhir Emma bertemu dengan Lucy.


"Maaf, tidak, Tuan. Para informan tidak terdeteksi. Petunjuknya hanya ada pada pulpen yang sedang dipegang Nyonya," sahut Rosa yang membawakan segelas teh hangat untuk Sang Nyonya.


Saat ini, Lukas dan Emma telah berada di mansion, meski Emma dalam keadaan tidak sadar. Ia kelelahan, baik secara fisik maupun mental, karena, setelah beradu cinta dengan Lukas, Emma juga menangis merenungi kata-kata kasar sang suami yang ada benarnya. Emma terlalu banyak berpikir sendiri. Ia tidak, menghargai Lukas sebagai pasangannya. Emma seharusnya berdiskusi jika ingin membuat keputusan yang sulit, apalagi jika itu menyangkut tentang perceraian.


Namun, Lukas masih belum mendapatkan jawaban perihal ancaman Lucy yang membuat Emma lupa diri. Lukas cukup memahami jika sang istri membutuhkan waktu untuk membicarakannya.

__ADS_1


Lukas tiba-tiba teringat Askara. Ia lalu menghubungi pria itu untuk mengecek fungsi alat pelacak yang ada pada kalung istrinya.


"Dapatkah aku mengetahui rekaman percakapan dari kalung tersebut?" tanya Lukas melalui sambungan telepon pada pengawal setianya, Askara.


"Tentu, Bos! Asalkan batereinya tidak habis, memory card di kalung itu dapat merekam segala suara dalam kehidupan nyonya selama 24 jam," tutur Askara yakin. Lukas tersenyum. Saat ini, ia sudah menemukan jawaban yang ia cari, tanpa harus mendesak pengakuan Emma.


.....................


"Akh... Dimana aku?" Emma terbangun dalam keadaan bingung. Ia tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar utama. Terakhir kali, Emma hanya mengingat bahwa Lukas sedang menggagahinya. secara hebat di sebuah penginapan, di dekat dermaga. Emma tidak ingat lagi kejadian setelah tertidur pulas dalam keadaan menyesal. Emma merasa sangat buruk. Ia telah menyakiti Lukas. Akta perceraian itu, seharusnya ia tidak meminta dibuatkan oleh kenalannya yang ada di kampus. Ayah dari sang kenalan adalah pengacara terkenal, jadi, Emma bisa dengan mudah mengajukan perceraian tanpa kesulitan.


"Nyonya! Anda sudah bangun? Astaga... Nyonya! Berhentilah membuat kami khawatir," isak Cici sambil menghambur ke arah Emma. Emma tersenyum lembut, dan menerima pelukan pelayan yang sekaligus teman pertamanya ketika berada di mansion mewah ini. Emma tiba-tiba teringat kedatangannya ke mansion Lukas setahun yang lalu, dengan keadaan yang hampir mirip seperti ini. Penuh dengan kebingungan dan rasa tak nyaman.


"Aku memang bodoh, maafkan aku, Cici," ucap Emma lembut. Rosa, yang berada di belakang Cici, juga turut masuk ke dalam kamar nyonya mereka dan berkata hal serupa. Entah mengapa, Emma tidak kesal, ia malah senang karena merasa diperhatikan.


"Tuan sedang ada di taman," ucap Rosa sambil melirik ke arah Cici. Mereka kemudian pamit undur diri, dan mengabarkan kepada tuan bahwa sang nyonya telah siuman.


......................


Tak lama kemudian, Lukas tampak masuk ke dalam kamar mereka, seperti orang yang baru saja dikenal oleh Emma. Sikapnya menjadi lebih hangat. Aura dingin yang biasa ditampakkannya, kini mencair dan berubah menjadi kehangatan yang memancar terang. Pesona Lukas yang telah membuat Emma jatuh hati, kini semakin menjadikan sang istri tergila-gila. Ia seperti pria yang tidak dikenal oleh Emma dan hal ini membuat Emma cukup terkejut.


Garis-garis di wajah Lukas yang biasa tampak menggurat, kini terasa lebih halus, dan matanya berkilauan dengan semangat yang membara. Gaya berpakaian Lukas yang sebelumnya konservatif telah mengalami perubahan mencolok, ia kini berganti gaya, menjadi lebih muda dan trendi.


Rambutnya, yang selalu rapi, kini terlihat sedikit acak-acakan. Aroma wangi parfum segar tercium di udara ketika Lukas mendekati Emma, membuatnya tertarik namun juga bingung, karena tak mengerti dengan semua perubahan yang sedang dilakukan oleh suaminya.


__ADS_1


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Emma sambil memperhatikan dengan heran tingkah Lukas yang seperti sedang menggoda pacarnya. Perasaannya menjadi tergugah melihat Lukas dengan gaya baru yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Apa maksudmu? Bukankah para wanita suka dengan pria seperti ini?" jawab Lukas dengan penuh percaya diri. Bibirnya mengigit mawar tanpa tangkai, dan menciptakan aura sensual yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Emma benar-benar tidak bisa memahami kenapa suaminya berperilaku seperti remaja yang baru mengenal cinta.


"Siapa bilang aku suka?" balas Emma bertanya. Ia bingung dengan perubahan sikap Lukas yang terlihat seperti anak muda yang baru puber.


"Jadi, kamu tidak suka dengan penampilanku?" Lukas bertanya dengan wajah sedikit sedih. Emma merasa telah menyakiti perasaannya. Sebenarnya, Lukas mencoba menghibur Emma setelah perselisihan mereka semalam. Ia berpikir penampilannya yang berbeda bisa mengubah suasana hati Emma.


"Pftt... Suka... Aku suka... Ayo, kemari..." kata Emma sambil membuka lengannya untuk merangkul Lukas yang sedang membara dengan jiwa muda. Perubahan sikap Lukas, mungkin ada hubungannya dengan pengaruh obat yang sedang dikonsumsinya. Lukas menjadi lebih agresif, tetapi pada saat yang sama terlihat semakin manis dan menggemaskan. Emma tak tahan untuk terus membisikkan kata cinta kepada suaminya.


"Saranghae..." bisik Emma di telinga Lukas.


"Saranghae juga, Sayangku," ucap Lukas sambil mencium bibir sang istri.


Kali ini, Emma dan Lukas menjadi lebih ekspresif dan sering menyatakan cinta dengan kata-kata manis, berbeda dari sebelumnya.


"Siapa yang menyarankanmu untuk berpakaian seperti ini, Sayang?" tanya Emma mencoba mencari tahu alasan di balik perubahan drastis suaminya.


"Cici," jawab Lukas dengan santai.


'Oh, pantes. Dasar penggila drakor!' batin Emma tanpa diungkapkan. "Kamu sangat tampan," puji Emma yang membuatnya dihadiahi sebuah serangan fajar berupa pergumulan yang tiba-tiba.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2