
Askara dan Olivia saat ini sedang berada di sebuah kafe kecil di selatan Hains Tower, sesuai saran awal dari Olivia. Askara tampak memesan espresso, sedangkan Olivia memesan sebuah coklat panas yang masih mengepulkan asap. Meraka sepakat untuk berbicara secara mendalam di sana. Tebakan Askara, kafe itu tidak terlalu terkenal, karena suasananya tetap sepi, meski jam kantor hampir berakhir.
"Baiklah, apa informasi yang kau punya?" tanya Askara tanpa basa-basi. Ia harua segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke markas untuk melapor.
"Tenanglah. Waktu kita masih panjang," ucap Olivia seakan se mengulur waktu. Askara menatapnya dengan tajam sambil menggebrak meja.
BRAK!
"Jangan main-main denganku!" hardiknya.
"EH KAGET!" Pekik Olivia tiba-tiba. Wanita itu mulai mengatur nafas agar dapat berbicara dengan lancar. "Begini... Kau ingin informasi tentang apa? Tentu saja aku tahu semua tentang keluarga Arthagraha. Tapi, jika itu tentang keponakanku Lucy, kau harus sebutkan dulu topiknya apa," tuturnya mencoba menenangkan Askara yang sedang curiga.
Askara mulai sedikit mempercayai Olivia. Tidak ada salahnya mendengarkan apa yang ingin dikatakannya terlebih dahulu. "Baiklah, apa kau tahu sebuah bangunan rahasia, mungkin, di dalam sana?" tanya Askara mencoba menguji Olivia.
Olivia tertawa sinis, kemudian mengipasi wajahnya. "Menurutmu aku siapa? Madam Olivia! Aku dulunya ratu di sana! Tentu saja aku tahu! Semua presdir dari Arthagraha mengetahui lokasi penjara bawah tanah yang terhubung ke kantornya. Di sanalah kami menyimpan bangkai musuh-musuh tanpa terdeteksi," ungkapnya membuka rahasia. "Informasi ini l kuberikan secara gratis untukmu. Namun, setiap pertanyaan selanjutnya akan dikenakan biaya sebesar 20 juta," lanjutnya dengan ekspresi yang pura-pura tegas, meskipun sebenarnya terlihat ketakutan karena seakan memberi ancaman pada Askara.
"Baiklah, mari kita buat 20 juta untuk sesi ini. Aku hanya akan bertanya tiga hal. Bagaimana menurutmu?" tawar Askara.
"Enak aja, minta diskon kok nggak kira-kira," cetus Olivia mencibir calon kliennya. Askara memandang tajam kembali ke arahnya dengan tinju terkepal. "Sebaiknya kau terima uang itu, atau kukorek informasi darimu dengan sayatan pisau untuk setiap pertanyaan. Bagaimana menurutmu?" respon Askara sambil menyeringai kejam.
Olivia bergidik ngeri mendengar kata 'sayatan pisau' yang dilontarkan oleh Askara. Sungguh, ia tidak ingin mati konyol karena menyimpan informasi tentang keluarga laknat yang sudah membuangnya. Pepatah bilang, musuh dari musuhmu adalah temanmu. Untuk itulah, Olivia beraliansi dengan Askara yang sepertinya ingin menghancurkan keluarganya. Membayangkan keluarga Arthagraha hancur sendiri tanpa melalui kedua tangannya sudah cukup memuaskan bagi Olivia. Proses jual-beli informasi ini hanyalah aji mumpung saja, karena ia juga perlu uang darurat untuk bertahan hidup setelahnya. Olivia memerlukan banyak uang karena keluarganya memutus aliran dananya secara tiba-tiba. Dendamnya menjadi berkali-kali lipat, sehingga ia berencana membakar gedung Hains Tower siang ini, namun, urung. Rencananya beralih menjadi seorang mata-mata bagi pihak lawan, Askara.
__ADS_1
"Baiklah, katakan, apa yang ingin kau ketahui?" sahut Olivia setelah setuju dengan penawaran yang diberikan oleh Askara.
"Pertama, apakah kau kenal Sarah Lee? Dia menghilang di gedung ini," tanya Askara untuk kali pertama di sesi jual-beli informasi bersama Nyonya Olivia.
"Sarah Lee? Apakah kau punya fotonya?" tanya Olivia untuk memastikan ingatannya. Askara memberikan sebuah potret berbentuk persegi pada Olivia untuk diidentifikasi.
"Oh, ya! Itu keponakan angkatku. Dia diangkat anak oleh kakakku. Secara teknis, Sarah itu adik angkat Lucy. Meski ini sifatnya informasi terbatas. Hanya keluarga kami yang mengetahuinya, dan mungkin pihak-pihak pemerintah dan sekolah yang didatangi Sarah saja yang tahu soal adopsinya," jawab Olivia tegas. Askara tidak menemukan adanya inkonsistensi dalam ucapannya. Sementara, ia akan mempercayai jawaban dari Olivia.
"Baiklah, yang kedua. Bisakah kau gambarkan denah untuk sampai ke penjara rahasia itu?" tanyanya kemudian.
Olivia tampak mengangguk setuju. Ia menggambarkan sebuah denah dengan pensil di atas kertas putih yang disodorkan oleh Askara. Gambarnya cukup jeli dan runut, berikut akses gorong-gorong kota yang dapat menjadi pintu masuk rahasia supaya bisa sampai ke sana, tanpa melintas dari dalam gedung. Askara tersenyum puas dengan informasi penting yang dibelinya ini.
DEG.
Jantung Olivia seakan berhenti berdetak, dan tangannya yang sebelumnya tenang dalam menggenggam pensil kini gemetar. Wajahnya pucat, mencerminkan rasa takut yang mendalam. Olivia menahan degupan jantung yang semakin cepat, sambil mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin yang mencekam. Dengan suara yang tercekat, ia menjawab pertanyaan terakhir dengan gelengan kepala. "A-aku tidak tahu... Aku tidak ingin terlibat, terutama jika itu berhubungan dengan Pulau Perawan."
Askara mengernyitkan kening. Ia mencium adanya konspirasi berbahaya yang muncul saat melihat perubahan respons dari Olivia. Awalnya, Olivia terlihat seperti seekor singa ngamuk yang siap melawan, namun sekarang, ia tampak seperti seekor kelinci yang terperangkap tanpa daya.
"Katakan sebuah petunjuk saja. Aku akan langsung membayarnu sekarang juga!" perintah Askara tidak sabar. Olivia tampak semakin ketakutan. Ia menelan ludah, kemudian menyeka keringat yang terus mengucur seiring degupan cepat sang jantung. Pada akhirnya, Olivia setuju untuk memberikan petunjuk pada Askara. "Ada sebuah konspirasi besar di sana. Dan, keluargaku hanya pemasok saja. Ada gangster yang sedang berencana mengedarkan obat terlarang," tuturnya pelan sambil gelisah. Olivia takut ada seseorang yang sedang mengintai dirinya. Askara menepuk bahunya, mencoba menyadarkannya bahwa ia tidak sendirian.
Askara lalu menyerahkan amplop coklat yang berisi uang dollar, dan menuliskan sebuah tempat persembunyian. "Datangkah ke salah satu safe house-ku di sana. Kau bisa bersembunyi selama satu bulan, sampai aku menemukan gangster yang mencurigakan itu," ucap Askara yang memang selalu menaruh iba pada situasi seorang wanita. Ia teringat akan induk rusa yang gagal diburunya siang tadi. "Tapi, jangan sampai kau menipuku. Aku tidak akan segan merobek mulutmu jika ternyata informasi-informasi yang tadi kau berikan adalah palsu! Mengerti?" ancam Askara, kembali ke habitat asalnya.
__ADS_1
"Tentu saja, Tuan! Aku tidak akan berniat untuk menipumu. Keluarga Arthagraha adalah musuhku. Mereka telah membuatku seperti ini. Aku bahkan akan menolongmu secara cuma-cuma jika kau bisa berjanji akan membunuh ****** cilik penghancur reputasiku itu!" pekik Olivia menggebu-gebu. Ia kini mengetahui rahasia insiden perselingkuhannya yang bocor di media. Rupanya, selain Nyonya Liem, keponakannya juga turut andil dalam eksposur berita yang memberatkan dirinya. Olivia tentu tak akan berani berhadapan dengan nyonya besar Haritama. Ia hanya bisa membalas perlakuan keponakannya yang menikamnya dari belakang.
Askara kini memahami motivasi Olivia yang sebenarnya, sehingga ia akan mempercayai informasi wanita itu. "Baiklah, sekarang, kau pergilah ke safe-house yang kuberikan tadi. Keperluanmu selama satu bulan tersedia di sana. Kode sandinya adalah...." Askara membisikkan sesuatu ke telinga Olivia. Ia sengaja tidak mencatatnya agar kode safe-house aman tanpa jejak tertulis yang dapat dibocorkan kapan saja. Askara kemudian segera pergi dari hadapan Olivia untuk menuju ke penjara rahasia milik Arthagraha.
"Terima kasih, Tuan," sahut Olivia sambil merengkuh erat kertas coretan yang diberikan padanya.
Namun, nahas, Olivia tak pernah sampai di rumah aman itu dengan selamat. Ia tewas ditikam orang tak dikenal ketika melintasi trotoar dan mayatnya membeku seketika tanpa perlu menunggu waktu yang lama. Pembunuhannya disamarkan sebagai perampokan dengan alibi berserakannya uang dollar di sekitar tubuhnya.
......................
<"Mission accomplished"> seru seseorang bertopi pada klien yang ada di seberang telepon.
<"Bagus, cek rekeningmu. Uangnya sudah kutransfer"> sahut sang klien puas.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1