
"Hah.... "
"Hah... "
"Sa--yang... "
Emma dan Lukas terlihat sedang mencoba peruntungan mereka. Emma menggulat tubuh lemas suaminya dengan serangan hasrat yang bertubi-tubi, sementara, Lukas masih belum mampu membalas dengan benar. Tubuhnya masih terasa kaku dan lemas. Namun, Emma tidak putus asa. Ia terus melancarkan aksi panas dan bergairah, seolah-olah membayar penebusan atas puasa s3kss beberapa waktu ini sebagai istri sah dari suami tercintanya.
"Sayang... Heup!" Lukas mencoba bicara, tetapi tidak mendapat kesempatan. Bibirnya terl*mat sempurna oleh Emma. Dengan gerakan cepat dan cekatan, Emma selalu memberikan rangsangan yang memuaskan suaminya, sesuai saran Yuki, agar efek ramuan penawar bekerja secara optimal. Akhirnya, sesi berc*nta mereka berakhir setelah menit ke-60. Emma merasa lelah, tetapi puas karena telah meninggalkan jejak cinta pada seluruh tubuh suaminya.
"Gimana, Sayang?" tanya Emma, merasa penasaran. Apakah rangsangan yang diberikan berhasil?
"Hm... Aku merasa ada yang berdenyut di bawah sana..." sahut Lukas diiringi seutas senyuman.
Emma memeluk dan mencium suaminya dengan penuh kebahagiaan. Perlahan-lahan, hubungan mereka menjadi pasangan suami-istri yang sesungguhnya, akan segera dimulai.
......................
Sementara itu, Yuki yang telah tiba di kawasan kediaman Anthony, merasa bingung. Bukannya bertemu Anthony dan melampiaskan kekesalannya, ia malah bertemu dua anak lusuh yang tinggal berdua tanpa penjaga. Mereka mengaku belum makan seharian ini, dan meminta belas kasiham Yuki agar mau memberi mereka makanan.
"Hhhhh....." Yuki menghela napas dengan kasar, memandangi dua anak lusuh yang tampak kurang terawat di depannya ini seakan menjadi beban baru baginya.
"Jadi, ayah kalian di mana?" tanya Yuki sambil memberikan dua bungkus nasi padang pada mereka.
"Wah... Asik... kita bisa makan!" teriak salah satu anak dengan riang, sementara yang lain terlihat ragu untuk mengambilnya.
__ADS_1
"Ayah? Yah... Nggak tahu dia ada di mana," jawab anak tertua, Bria, sambil menarik kerah baju adiknya, Theo, karea anak itu bukannya makan, malah kabur. Theo terjungkal, namun kemudian dengan cepat meraih bungkus nasi berwarna cokelat yang sudah mengeluarkan aroma gurih itu sambil bersembunyi di balik meja.
Yuki merasa seperti sedang kebagian tugas untuk merawat dua anak kecil, meskipun sebenarnya niatnya adalah untuk balas dendam. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Rumah Anthony memang ada di sana, di sebuah gang kecil di dalam area pasar tradisional. Namun, sang pemilik rumah tidak muncul dan justru membiarkan dua anak kandungnya terlantar tanpa memberikan mereka sedikit pun makanan.
"Kakak boleh masuk ke kamar kalian?" tanya Yuki pada kedua anak yang sedang makan itu.
"Ya, boleh..." sahut Bria tanpa ragu. Theo tetap diam, menunjukkan sifat pemalu yang khas baginya.
Yuki berjalan perlahan ke dalam kamar, mencari petunjuk tentang keberadaan Anthony. Dia melihat-lihat sekeliling, terdapat sebuah kamar utama yang kotor dan berbau alkohol serta asap rokok. Pakaian-pakaian yang acak-acakan berserakan di sana, tidak ada batas antara yang kotor dan yang bersih. Yuki merasa jijik dan terkejut, bertanya-tanya mengapa dia dulu begitu mencintai pria itu. Semua barang-barang dan perabotan terlihat berantakan di rumah itu. Benar-benar tidak layak dinamakan sebagai tempat tinggal.
Yuki melanjutkan penelusurannya hingga ke kamar anak-anak yang juga kotor, namun tidak sekotor kamar ayah mereka. Tiga bantal tertata rapi di sebuah kasur tipis di lantai. Apakah, anak Anthony ada tiga orang?
"Siapa kamu!" hardik seorang anak perempuan dari balik punggung Yuki. Ia menoleh dengan ekspresi terkejut, rupanya benar, anak Anthony ada tiga orang.
"Halo. Maaf kakak tidak sopan masuk-masuk rumahmu begini. Tapi, kakak tidak berniat jahat," ucap Yuki sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kakak mencari ayahmu," ucap Yuki jujur.
"Ayah? Ayah siapa? Aku tidak punya ayah," sahut gadis itu kebingungan. "Apa maksudmu Anthony?" tanyanya lagi.
"Ya, benar. Bukankah dia ayahmu?" tanya Yuki.
"Bukan. Anthony adalah suamiku," ucapnya tanpa ragu.
Jeger!
__ADS_1
Yuki terkejut. Seolah disambar petir di siang bolong, dia terperanjat dan tidak bisa berkata-kata. Jadi, istri Anthony adalah seorang gadis yang masih sangat muda?
"Apakah Bria dan Theo adalah anak-anakmu?" tanya Yuki lagi. Gadis itu mengangguk. "Berapa umurmu?" Yuki ingin tahu lebih banyak. Dia masih sulit menerima kenyataan yang absurd ini.
"Aku 19 tahun. Kami menikah waktu aku berusia 14 tahun," jawabnya lugu, kali ini, gadis itu sudah menurunkan kewaspadaannya. Mengingat, Yuki telah memberikan makanan pada anak-anaknya.
"Kakaaak.... " panggil Bria dan Theo hampir bersamaan. Gadis itu menoleh. "Bria, Theo, panggilan Mama tidak apa-apa, Sayang," ucap Renn dengan lembut. Dia memastikan panggilan mereka saat berada di dekat orang asing adalah 'Kakak' agar tidak menimbulkan kebingungan yang tidak perlu. "Namaku Renn, panggil saja begitu," ucapnya, lalu dia mempersilahkan Yuki untuk duduk di karpet lusuh yang merupakan satu-satunya karpet di rumah itu. "Apakah suamiku berhutang padamu? Katakan, berapa jumlahnya?" tanya Renn dengan lugas. Dia sering kali didatangi oleh orang-orang secara tiba-tiba seperti ini, dan tujuan mereka hanya satu, yaitu untuk menagih hutang.
"Ya, kau benar. Tapi, hutangnya sangat banyak. Aku tak tega menagihnya darimu," ucap Yuki sambil tersenyum. Akhir-akhir ini, ia tidak membutuhkan uang, karena tabungan 2 milyar yang didapatnya dari kasino sudah sangat cukup untuk memulai hidup baru dan membuka klinik yang sempat tutup akibat kebodohannya.
"Be--benarkah?" tanya Renn seakan hampir menitikkan air mata. Ia tak percaya, bahwa ada seseorang yang begitu welas asih seperti Yuki di antara para kreditur suaminya.
"Ya, dengan satu syarat. Ceritakan dengan jelas, kondisi kalian dan petunjuk tentang keberadaan Anthony. Informasi itu sudah cukup sebagai bayaran," ucap Yuki sambil tersenyum, dan mengelus kepala Bria dengan lembut. Gadis yang sedang makan itu pun mendongak dengan tawa yang lebar, seakan merasakan kasih sayang dari orang asing yang belum pernah ditemui sebelumnya.
Renn akhirnya menceritakan tentang pernikahannya dengan Anthony, yang terjadi karena kebodohannya. Pada saat itu, Renn masih sangat muda dan polos, sehingga ia setuju untuk menjadi istri Anthony daripada hidup bersama orang tuanya yang miskin di kampung halaman mereka di Bogor Utara. Pada tahun pertama pernikahan mereka, Anthony masih memperlihatkan sikap sebagai suami yang peduli terhadap Renn yang sedang hamil anak kembar mereka. Namun, setelah Renn melahirkan, Anthony berubah. Ia sering meninggalkan Renn, mabuk-mabukan, dan terlibat dalam perjudian. Pada tahun ketiga pernikahan mereka, Anthony tiba-tiba menghilang dan dikabarkan berada di Sukabumi dengan kekasih barunya.
Deg! Yuki merasa tertohok mendengarnya. Itu adalah waktu ia bersama Anthony menjalin kisah asmara, sebelum laki-laki laknat itu akhirnya menipunya dan melarikan diri.
"Beberapa bulan terakhir, Anthony kembali kepada saya, tetapi ia sering memukuli saya dan tidak memberikan nafkah. Saya bahkan harus melakukan hal-hal jahat untuk mencari uang," ucap Renn dengan penyesalan karena sering mencuri.
"Bagaimana kamu melakukan hal-hal jahat itu?" tanya Yuki ingin tahu. Namun, sebelum Renn tersinggung, Yuki menawarkan pekerjaan untuk membantu Renn. Yuki bersedia mengganti uang yang dicuri oleh Renn agar tidak menimbulkan masalah bagi Renn. Renn akhirnya mengakui bahwa ia sering mencopet di kawasan Stasiun Gawang. Karena itu, Renn khawatir akan ditangkap oleh polisi jika tidak berhati-hati. Renn kemudian menyerahkan dompet-dompet yang berisi kartu identitas kepada Yuki untuk menyelesaikan masalah tersebut. Renn berjanji tidak akan melakukan hal-hal seperti itu lagi.
Yuki menerima berbagai jenis dompet yang telah dicuri oleh Renn. Ia memeriksa satu per satu identitas yang ada di dalam dompet-dompet tersebut. Hingga akhirnya, Yuki menemukan sebuah dompet berwarna merah dengan foto seorang gadis yang dikenalnya. "Loh! Bukankah ini dompet milik Nyonya Emma?!" Yuki terkejut karena ternyata istri Lukas pernah menjadi korban pencopetan oleh Renn. "Ah, ini sih jelas bakal jadi masalah," gumam Yuki miris dan khawatir. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan suami Emma yang galak seperti macan kumbang di Hutan Afrika itu!
...****************...
__ADS_1
...Bersambung...