Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 53 Bantuan Bagi Askara


__ADS_3

...[Bandung]...


Saat ini, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Waktu yang tepat untuk makan siang. Sayangnya, tidak ada restoran di hutan. Askara yang tengah berlatih stamina dengan mendaki gunung untuk kekuatan fisiknya, merasakan lapar yang mulai mendera perutnya. Ia memandang ke arah tenda sejenak, dan kedua matanya terpaku pada senapan berburu yang tergeletak di sana. "Mungkin aku bisa mencari rusa untuk makan siang," gumamnya dalam hati. Askara kemudian menghentikan aktivitas fisik yang telah membuat bulir-bulir keringat mengalir seperti sungai di tubuhnya.


Dengan hati-hati, Askara mengambil senapan itu, kemudian bersiap untuk mencari mangsa. Askara berjalan perlahan menuju ke arah mata air, berharap ada rusa yang sedang lengah dan bisa menjadi target buruannya. Daging rusa yang tebal dan banyak, mungkin dapat menjadi bahan makanannya selama beberapa hari ke depan. Askara memiliki niat untuk berkemah selama dua hari ke depan. Askara sangat membutuhkan medan latihan fisik yang lengang dan asri seperti yang ada di hutan Papandian ini.


"Ah, dapat!" seru Askara dalam hati, setelah melihat sesosok hewan besar yang sedang berdiri tak jauh darinya. Askara mulai membidik target buruan yang sedang menjilati air itu dengan presisi. Rusa itu sepertinya rusa betina, tak tampak tanduk besar menjulang di kepalanya. Baru saja Askara hendak menarik pelatuk, namun, tiba-tiba saja jarinya membatu. Niat berburu Askara menjadi urung setelah melihat dua ekor rusa kecil yang tampak mengekor di belakang sang induk. Dengan langkah tertatih, rusa-rusa kecil itu berusaha mengejar induk agar dapat segera sampai ke mata air dan memuaskan dahaga mereka setelah puas bemain.


"Sial..... " desis Askara iba. Ia tentu tak ingin memisahkan sang induk dari anak-anaknya yang masih butuh perlindungan. Kemudian, tiba-tiba saja...


DRRRRTT


Ponsel Askara begetar. Ada sebuah pesan teks masuk dari bosnya.



Askara tersenyum tipis seakan menyerah pada takdir perburuannya hari ini. "Ha... Rupanya memang aku harus makan di restoran saja," ucapnya.


__ADS_1


Dengan cepat, Askara menjawab singkat pesan tersebut lalu berbalik arah menuju tenda untuk bersiap pulang. Ia memutuskan untuk mengakhiri latihan fisiknya hari ini di tengah hutan. Askara melaju meninggalkan Hutan Papandian dengan suasana hati yang lebih tenang. Angin kencang mengacak rambutnya yang tebal dan bergelombang. Aroma tanah basah menusuk indera penciumannya dengan kuat. Semalam, kawasan hutan diguyur hujan lebat sehingga membuat tanahnya sedikit licin dan lembab. Mobil Askara melintasinya dengan perlahan, agar tidak terperosok ke dalam jurang. Beberapa meter setelahnya, baru tampak jalan yang agak kering, namun masih cukup terjal. Jalanan terjal berbatu itu membuat guncangan kecil di setiap laju mobil Askara. Pohon-pohon yang menjulang tinggi seakan melambaikan kata perpisahan padanya. Mobil Askara semakin menjauh dari kawasan hutan, dan kini sudah berada di perbatasan kota.


Askara kerap kali berkemah di hutan untuk meredam gejolak adrenalin dalam tubuhnya yang haus akan pertarungan. Medan hutan yang liar, terjal dan dingin membantu konsentrasinya dalam latihan fisik sehingga dapat mempersiapkan diri untuk bertarung, kapanpun dibutuhkan. Hari ini, adalah saat yang tepat untuk menyalurkan energi yang telah lama tertahan di dalam dirinya.


"Tsk. Semoga saja bos menyuruh berkelahi, bukan meretas data lagi," gumam Askara dengan nada rendah. Ia merasa ingin meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegang setelah latihan fisik yang intens. Askara merasakan adrenalin yang sedang terpacu tinggi, sehingga ia berharap akan ada pertarungan fisik yang menantang dalam menjalani misi kali ini.


......................


...[Jakarta]...


Askara tiba di ibu kota dua jam setelah berkendara dari Hutan Papandian. Namun, harapannya untuk berkelahi tidak sesuai kenyataan. Ia kembali harus meretas data untuk melacak keberadaan Sarah. "Hhhh..." desisnya kecewa. Namun, apa boleh buat, Askara tetap harus profesional. Ia menjalankan misinya dengan serius dan mulai mencari keberadaan Sarah seperti yang ditugaskan oleh bosnya.


Askara mulai menelusuri jejak pemancar dari ponsel pintar Sarah lewat aplikasi hacking yang ada pada laptopnya. Pemancar itu tampak berkedip merah secara simultan, membentuk garis penghubung di beberapa titik yang biasa Sarah kunjungi, seperti klinik, kafe, dan toko langganannya, namun, kedipan pemancar tersebut tampak berhenti dan berganti warna menjadi abu-abu ketika berada di area Hains Tower.


Askara mulai merencanakan penyamaran sebagai salah seorang teknisi perusahaan rekanan cyber-security yang ada di PT. Hains Construction, setelah menanam virus secara daring di laman resmi perusahaan.


"Cepat! Sambungkan ke Xybertoll, kita harus menghapus virus tersebut sebelum terjadi pencurian data!" seru Kepala Humas yang sebelumnya menerima surel ancaman anonim. Askara telah mengalihkan nomor telepon Xybertoll ke nomor pribadinya, sehingga ketika tim humas menelepon perusahaan tersebut, panggilan akan dialihkan ke ponselnya. Askara bergegas untuk menyusup ke dalam perusahaan dengan menyamar sebagai teknisi, lengkap dengan seragam palsu Xybertoll yang dibelinya secara daring di deep web.


Saat ini, Askara berada di pintu masuk gedung dan hendak melangkah masuk, tiba-tiba...

__ADS_1


BRUK!


"Aduh! Punya mata nggak sih???" seru seorang wanita yang menggunakan kacamata hitam dan berpakaian gelap seolah sedang menyamar. Namun, penampilannya sangat berantakan dan tidak sesuai dengan misi penyamaran jika memang itulah tujuannya.


"Maaf, Nyonya," sahut Askara cepat karena tak ingin terlibat percekcokan dengan wanita itu. Ia lantas mengambil kembali tas kosong yang terjatuh, dan bersiap memasuki gedung sesuai rencana awal.


"Eh, tunggu.... " seru nyonya itu dengan suara melengking. "Ka--kamu bukannya pria gendheng yang nembakin tanah di markasku itu ya?" tuduhnya sembari membuka kacamata hitamnya.


"Astaga!" Askara terkejut karena wanita yang ditabraknya adalah Nyonya Olivia. Tentu saja wanita itu mengenali wajahnya. Askara merasa cukup percaya diri untuk menyamar tanpa riasan pengubah wajah, karena tidak pernah berhubungan dengan orang-orang Hains kecuali Olivia yang dikabarkan sudah pindah negara. Bagaimana mungkin wanita ini ada di sini sekarang?


"Hayo... Mau ngapain kamu di sini?" tanya nyonya Olivia memancing emosi Askara. Pria itu mengurungkan niatnya untuk melanjutkan penyamaran, dan menyeret nyonya Olivia tanpa terlihat sedang berbuat kejahatan. Suasana di pintu masuk gedung cukup ramai orang. Askara mendekatkan tubuhnya ke punggung nyonya Olivia sambil menodongkan pisau kecil yang dapat memutus syarafnya dalam sekejap.


"Diam, dan ikuti aku," perintahnya dengan suara pelan dan dalam. Nyonya Olivia tidak tampak memberontak, malah, ia terlihat senang dengan kehadiran Askara. "Tenanglah, aku tidak akan mengungkap identitasmu. Aku tahu kau mencari sesuatu. Ayo kita bertransaksi," ucapnya dengan penuh keyakinan. Merasa situasi aman terkendali, Askara menyimpan kembali pisau kecilnya ke dalam saku, dan berjalan beriringan dalam suasana yang tidak biasa. Namun, ia yakin, wanita ini memiliki sesuatu hal yang dapat membantu kesuksesan misinya.


"Katakan, apa yang kau tahu?" tanya Askara sambil memandang tajam ke arah nyonya Olivia. "Mari kita ngobrol sambil ngopi di sana. Ada banyak informasi yang bisa kujual, asal harganya cocok," tuturnya dengan penuh keyakinan. Askara setuju, dan mereka berpindah ke tempat yang lebih tenang untuk berbicara secara lebih mendalam.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1


...****************...



__ADS_2