Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 27 Ksatria Ryan


__ADS_3

Ryan berhasil membonceng Emma yang masih terkulai lemas tak berdaya, namun, hanya bertahan sampai 50 meter saja. Selebihnya, Emma dinaikkan ke taksi untuk mampir ke rumah sakit kepunyaan keluarga mama Ryan.


Meski menjadi pewaris RCTV dan merupakan anak tunggal, Ryan tidaklah sama dengan ayahnya yang semena-mena dalam menggunakan kekuasaannya. Terlahir dari dua keluarga yang sama hebatnya, Ryan menjadi ahli waris yang tak terkalahkan dan disegani di dunia bisnis.


Keluarga mamanya, memiliki rantai bisnis rumah sakit bertaraf internasional yang tersebar di seluruh dunia, sedangkan, keluarga papanya merupakan taipan media. Papa Ryan sangat menyayangi anaknya setelah divonis mandul pasca memiliki Ryan. Sudah jelas, tak akan ada pewaris lain yang dapat meneruskah trah keluarga Haritama selain Ryan seorang.


Kepribadian Ryan lebih mirip mamanya, yang adil meski tegas dan terkesan dingin. Namun, jika sudah kenal baik, Ryan adalah salah satu teman paling setia dan rela berkorban demi kepentingan orang selainnya. Seperti ketika bersama Emma, Ryan dapat menganalisis kepribadian seseorang secara cepat, bahkan di kali pertama bertemu.


Ryan sangat terkesan dengan ketangguhan dan kelembutan hati Emma yang cukup kontras. Tak banyak gadis yang lugu, baik hati dan cerdas seperti Emma. Ryan sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Ia tentu tak mengetahui bahwa Emma sudah mempunyai suami. Mereka baru saja kenal sekitar dua kali. Namun, pertemuan mereka begitu intens dan berkesan.


Saat ini, Emma sedang dirawat di ruang VVIP Rumah Sakit Pelita Hati. Ryan meminta para tim medis memastikan Emma dapat pulih dari syok dan juga kekurangan nutrisi, serta kemungkinan adanya trauma setelah mengalami kejadian yang menyakitkan tadi.


......................


"Bagaimana keadaan teman saya, dok?" tanya Ryan setelah sabar menunggu sekitar satu jam. Tim medis meminta Ryan menunggu di luar ruangan, agar pasien dapat dievaluasi secara mendalam tanpa gangguan.

__ADS_1


"Syukurlah, tidak ada luka serius. Hanya luka lecet, memar, dan juga kekurangan nutrisi serta syok ringan. Sepertinya teman anda wanita yang kuat. Tidak banyak gadis yang bisa bertahan dalam situasi penculikan dan penyekapan berjam-jam tanpa trauma," ucap dokter Wijaya menenangkan sekaligus kagum dengan kondisi Emma.


Ryan menghela nafas dengan lega. Ia menyunggingkan senyuman dan menghambur ke dalam ruangan VVIP yang ada di depannya.


Emma tampak tertidur dengan nyenyak di ranjang putih bermonitor dan berbau khas rumah sakit. Ryan tak ingin mengganggunya, ia hanya duduk dengan tenang di samping Emma, sambil mengamati keadaannya.


Setelah tertidur selama dua jam, Emma mulai membuka matanya secara perlahan. Kali ini, giliran Ryan yang tampak menangkupkan wajahnya ke dalam alas tidur yang ada pada ranjang Emma.


Gadis itu melihat sekeliling untuk mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Tangannya tergenggam hangat dalam jalinan telapak milik Ryan. Emma mulai menggerakkan jemarinya, mencoba membangunkan Ryan secara perlahan. Pria itu terkesiap dan akhirnya membuka matanya.


"Dokter! Dokter.... Emma sudah siuman. Tolong periksa lagi," pinta Ryan sambil memanggil tim medis yang ada di luar ruangan.


Dokter dan perawat kemudian masuk untuk memeriksa perkembangan Emma. Infus nutrisi yang diberikan juga sudah habis, mereka menggantinya dengan yang baru. Kedua pupil Emma juga diperiksa, semua tampak normal. Meski gerak refleknya masih lemah, namun, Emma dinyatakan tidak mengalami gangguan apapun, dan hanya perlu beristirahat saja agar segera pulih.


"Syukurlah, terima kasih, dok," ucap Ryan dengan senyuman.

__ADS_1


Emma akhirnya dapat membuka mulutnya dan berbicara. "Ryan, tolong antarkan aku pulang," ujarnya.


"Emma... Sebaiknya malam ini kamu di sini dulu. Besok baru aku antar ke rumah. Ada nomor telepon yang bisa dihubungi?" tanya Ryan sambil mengeluarkan ponselnya.


Ngomong-ngomong soal ponsel. Emma baru ingat kalau ponselnya tidak ada. Ia juga tak hafal nomor telepon suaminya.


"Yasudah, besok sajalah," tukasnya pelan. Emma baru ingat tadi sudah WA Lukas bahwa ia akan pulang telat. Anggap saja pulang telatnya itu besok pagi. Semoga saja, suaminya tidak mendadak terkena serangan darah tinggi atau stroke karena terlalu marah padanya.


...****************...


...Bersambung...


...****************...


__ADS_1


__ADS_2