Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 62 Penebusan Dosa


__ADS_3

Nyonya Liem tampak sedang menyeruput espressonya dengan perlahan, menikmati setiap rasa pahit dan getirnya sambil mengenang Angela.


'Oh, Sahabatku. Semoga engkau tenang di surga sana' ujarnya dalam hati sambil memandangi cakrawala senja yang mulai menampakkan semburat jingga. Sejenak kemudian, ia menuliskan sebuah alamat, pada selembar kertas yang didapatnya dari pelayan restoran. Alamat tersebut mencakup sebuah denah kecil jalan serta nomor ponsel yang dapat dihubungi, setelah ia melihat sekilas daftar kontak pada tabletnya.


"Hanya ini yang aku punya. Entah, tiga puluh tahun berlalu, apakah wanita tua itu masih di sana. Setahuku, klinik pengobatannya diteruskan oleh cucunya. Tapi, aku juga tidak pernah ke sana setelah kepergian Angela," tutur Nyonya Liem sambil menyerahkan coretannya tadi pada Nyonya Han.


"Apakah mungkin, untuk menemukannya? Apa ada ahli herba lain yang lebih baik?" tanya nyonya Han sangsi dan seakan membutuhkan kepastian.


"Nyonya, aku sudah mencari ahli herba terbaik, bahkan sampai ke Singapura. Tidak ada yang lebih baik dari Mak Perot. Dia betul-betul tangan dewa," ucap Nyonya Liem tanpa keraguan.


Nyonya Han mengangguk dengan pengertian dan merasa sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh mantan musuhnya. "Terima kasih. Aku benar-benar merasa bersalah atas semua yang telah kulakukan," ucap Nyonya Han dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Nyonya Liem menatapnya dengan penuh kepedulian. "Mintalah maaf ke makam Angela. Dan, apakah Lukas mengetahui segala hal sebelum kelahirannya?" tanya Nyonya Liem, penuh rasa ingin tahu. Ia jarang sekali tertarik pada urusan orang lain, kecuali jika itu berkaitan dengan sahabatnya, Angela.


"Tentu saja tidak. Aku berharap kau bisa menjaga rahasia ini hingga akhir hayatmu. Aku benar-benar menghargai jika kau melakukannya," jawab Nyonya Han dengan sedikit keheningan, merasakan kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Ia menyadari bahwa pepatah yang mengatakan 'bangkai yang disembunyikan akan tetap berbau' adalah benar. Nyonya Han tidak tahu sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran tentang ibu Lukas. Nyonya Han benar-benar tidak ingin Lukas berbalik membencinya setelah mereka melewati banyak hari bersama sebagai satu-satunya keluarga.


"Baiklah, tentu saja aku tidak ingin ikut campur. Lukas juga kuanggap seperti puteraku sendiri," sahut Nyonya Liem tegas.


Nyonya Han tersenyum sambil menyeruput teh hangat yang baru saja dipesannya. Wajahnya tampak lebih lembut, dan memori-memori yang sempat terlupakan datang memenuhi pikirannya. Memori tentang kehangatan sebuah keluarga, terutama tentang Lukas dan dirinya. Jika saja ia mau membuka hatinya dan menerima kisah cinta anak dan menantunya tanpa ada niat jahat dan ego yang menguasai, niscaya, sore ini mereka berlima akan bisa bersenda-gurau dan berbincang hangat seperti keluarga pada umumnya. Andai saja waktu bisa diulang, nyonya Han tentu akan melakukan segala hal yang mungkin bisa diupayakan, agar kebahagiaan Lukas tidak pernah terampas.


Proses pencarian Lukas tidaklah mudah. Nyonya Han bahkan terpaksa bergabung dengan mafia terkenal untuk melacak jejak Angela dan bayinya yang telah dijadikan budak oleh rumah bordil Ssaem di Pulau Jeju. Angela yang kelelahan karena dipaksa bekerja, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya setelah diselamatkan oleh Nyonya Han. Sungguh kisah yang sangat ironis, takdir seakan mempermainkan nasib Angela yang polos dan tak tahu cara kerja dunia.


Nyonya Han, yang sebelumnya telah menjatuhkan Angela ke dalam jurang penderitaan, tiba-tiba datang menjadi penyelamat, saat wanita itu berada di ambang keputusasaan. Kondisi Angela begitu memprihatinkan, karena ia selalu diperbudak oleh mucikari yang sangat kejam. Lukas, yang saat itu berusia empat tahun, berhasil dievakuasi dari distrik prostitusi. Ia berhasil mengklaim haknya sebagai pewaris sah K-Group setelah melewati proses verifikasi DNA yang ketat. Hal ini tidak terjadi tanpa alasan, karena ayah Lukas, yang merupakan satu-satunya pewaris K-Group, meninggal dalam kecelakaan mobil.

__ADS_1


Seolah mendapatkan kesempatan hidup yang kedua, Nyonya Han memutuskan untuk mencari Lukas dan ibunya yang pernah ia buang. Pencariannya dilakukan dengan penuh tekad dan menggunakan segala sumber daya yang ada. Akhirnya, mereka berhasil ditemukan, meskipun dalam keadaan yang mengenaskan. Sayangnya, Angela tidak dapat bertahan lama dan meninggal setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit pribadi K-Group. Hanya Lukas yang berhasil diselamatkan, dan dialah satu-satunya keluarga yang tersisa bagi Nyonya Han.


Dengan penuh kasih sayang dan perhatian, Nyonya Han merawat Lukas. Meskipun Lukas mengalami banyak trauma, baik fisik maupun mental, ia berhasil pulih dengan baik berkat perawatan dan perhatian yang diberikan. Lukas juga mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dan memulai pendidikan seperti anak-anak normal lainnya saat berusia tujuh tahun.


................


Pembicaraan kedua nyonya besar berlangsung tanpa kendala. Gencatan senjata telah dimulai. Permusuhan telah ditiadakan. Kali ini, baik Grup MNGTV maupun K-Group, akan dapat berjalan beriringan dan juga menuntaskan dendam yang telah lama terpendam.


"Terima kasih atas waktumu, aku benar-benar menghargainya," ucap nyonya Han sopan pada kolega barunya. Predikat musuh telah musnah sempurna, dan kali ini, mereka akan menyambut masa depan baru yang lebih cerah, baik secara personal, maupun profesional.


"Tidak masalah, Nyonya. Aku senang bisa membantu. Aku juga lega bahwa akhirnya masalah ini bisa teratasi," sahut nyonya Liem sambil diiringi senyuman.


Mereka saling berpandangan dengan raut wajah yang teduh, seiring tenggelamnya sang surya yang mulai mengubah warna langit menjadi lebih gelap. Kontras dengan fenomena alam yang awalnya cerah menjadi kelabu, hubungan nyonya Han dan nyonya Liem berangsur membaik, dari yang semula dipenuhi dendam menjadi sepasang rekan sejati. Kedua nyonya besar berhasil menjalin kembali persahabatan yang dahulu pernah mereka bina yang tiba-tiba saja runtuh karena kejahatan ego semata.


................


[Sukabumi, Jawa Barat]


"Apa kau yakin alamatnya sudah benar?" tanya Nyonya Han kepada Pak Kardi, sopirnya.


"Ya, Nyonya. Ini adalah alamatnya," jawab Pak Kardi dengan penuh keyakinan. Mereka lalu memarkir mobil di dekat lapangan, kemudian beranjak menuju ke rumah petak berwarna biru yang terletak di seberang jalan.


Dengan hati yang berdebar, Nyonya Han mengetuk pintu rumah petak tersebut. Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya yang tampak lelah dan sedikit kusut membukakan pintu.

__ADS_1


"Maaf, apakah ini rumah Mak Perot?" tanya Nyonya Han dengan ragu.


Wanita tersebut menggeleng, wajahnya penuh keheranan. "Nama saya, teh, Euis, Buk. Bukan Mak Perot. Ada yang bisa saya bantu?"


Nyonya Han melihat ke arah Pak Kardi dengan kesal, sepertinya mereka salah alamat. "Saya mencari Mak Perot. Apakah anda kenal wanita bernama Mak Perot? Dia tukang pijat, ahli herba, tahukah?"


Euis mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat-ingat. "Mak Perot? Maaf, saya teh tidak tahu siapa itu. Mungkin salah alamat."


Nyonya Han merasa kecewa dan bingung. Ia mengeluarkan kertas dengan coretan alamat dari saku jasnya. "Tapi, ini alamatnya, benar. Apa, Ibu benar-benarntidak tahu tentang Mak Perot?"


Euis menggelengkan kepalanya. "Hampura, nyak, Ibu. Saya tidak tahu tentang Mak Perot, bener deh. Mungkin ibunya salah alamat."


Rasa kekecewaan melanda Nyonya Han. Setelah semua usaha dan harapan yang dia pupuk, pada akhirnya kandas juga. Bagaimana dengan nasib cucunya? Tidak ada lagi yang bisa membuat ramuan penawar untuk racun Macadonia.


Namun, keberuntungan ternyata datang tiba-tiba. Beberapa saat kemudian, seseorang mendekat ke arah mereka berdua. "Ambu! Mak Perot itu, teh, nenek si Yuki! Pemilik rumah ini. Tapi, dia sudah meninggal," ucap seorang pria yang bernama Pak Ujang. Ia adalah suami Euis, yang baru saja pulang dari mengojek.


Merasa berada di alamat yang benar, Nyonya Han merasa lega. "Bolehkah saya bertanya sesuatu? Tentu saja, pertanyaan ini tidak gratis. Saya mau bayar waktu bapak," ucap Nyonya Han dengan penuh ketegasan. Tentu saja, Pak Ujang tidak menolak. Ia mempersilahkan tamu barunya itu untuk masuk ke dalam rumah petaknya dan bersedia untuk menjawab segala pertanyaan tentang pemilik rumah petak tersebut.


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1



__ADS_2