
"PUAHHH!! UHUK!! UHUKK!!"
Emma tersentak dari pingsannya, dengan siraman air mineral yang menyentak wajahnya.
"Siapa kau, Bude???" tanya Emma terkejut pada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di hadapannya.
"What?? Bude?? Bude--bude---Ndiasmu!!!" bentak bude-- eh, wanita paruh baya itu kesal.
"Aku adalah presdir PT. Hains Construction! Bukan budemu!" cetusnya tajam.
Emma mencibir. Tidak mungkin seorang presdir mau repot-repot menculik gadis tak penting sepertinya. "Ada urusan apa sama aku? Ngapain aku diikat begini?" tanyanya kemudian, sambil tetap memperlihatkan sisi garang agar musuh menjadi gentar. Sayangnya, garangnya Emma hanya sebatas menyerupai anak kucing yang sedang tantrum. Bukannya menakutkan, malah bikin senyum-senyum.
"Heh! Pelacur cilik! Dapat dari mana kamu foto-fotoku?? Hah!!!?? Katakan!!!" hardik nyonya Olivia dengan tatapan yang membara. Ia mencengkeram wajah Emma yang begitu mulus dsn mempesona. Nyonya Olivia sejenak mengagumi kecantikan gadis itu dalam hatinya. 'Kalau dijual, laku berapa ya?' batinnya.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" jawab Emma sekenanya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Emma.
"Cewek sialan!" bentak nyonya Olivia murka.
"Sekap lebih lama! Aku mau menghubungi yayangku dulu!" cetus nyonya Olivia pada para anak buahnya. Mereka menganggukan kepala, dan berjaga di depan ruangan yang dijadikan sebagai tempat penyekapan Emma.
Brrrrrmmm....
Brrrrrmmm....
Brrrrrmmm....
Tiba-tiba, di pelataran lantai dasar, sebuah motor ducatih hitam menyergap ke dalam gerbang markas mereka.
"Siapa kau??" tanya penjaga yang sudah bersiaga untuk menyerangnya.
Sang pengendara membuka helmnya, dan turun dari motornya dengan langkah tenang. Ia lantas mengangkat kedua tangannya agar tak tampak sebagai ancaman.
"Aku mau bicara dengan bosmu!" ujarnya kemudian.
"Siapa kau?"
"Anaknya presdir RCTV,"
Salah seorang penjaga yang bersiaga, melempar kode pada penjaga lain yang ada di seberang mereka. Setelah mengutak-atik ponsel pintarnya, penjaga itu lalu berhasil mengkonfirmasi identitas si pengendara.
__ADS_1
"Confirmed. Ryan Haritama," ujar penjaga itu kemudian.
"Silakan masuk," ucap sang penjaga, kali ini tanpa bentakan.
"Oho! Ryan! Ada apa kemari?" sambut nyonya Olivia dari balik ruangan. Ia cukup terkejut melihat kedatangan Ryan, namun juga tak keberatan. Nyonya Olivia tentu senang dapat menyambut anak kesayangan selingkuhannya itu.
Ryan tak tertarik untuk berbasa-basi. Ia hanya menatap datar pada nyonya Olivia, sambil mengedarkan pandang untuk mencari keberadaan Emma yang menghilang.
"Dimana gadis itu?"
"Gadis siapa? Aku maksudnya? Ha... Ha... Ha.... " selorohnya menggelikan.
"Cepat katakan! Aku sangat sibuk!" Ryan menyisir ruangan yang ada di gedung tua itu dengan tergesa. "Emma! Emma!" teriaknya mencari gadis yang dimaksud. Ryan langsung masuk ke satu per satu ruangan yang ada di bangunan tua itu dengan langkah yang sigap.
Merasa diabaikan, Nyonya Olivia naik pitam. Ia buru-buru menelepon si yayang-- tuan Gautam, dan memakinya atas kelancangan Ryan. Tuan Gautam hanya bisa memaksa Olivia agar memaklumi anaknya yang masih dalam masa puber dan sedang bingung membedakan antara setia kawan dengan rasa kasihan.
"Emma!! Emma!!!"
Ryan masih mencari-cari keberadaan Emma. Supaya tidak berisik, akhirnya, nyonya Olivia memberitahu keberadaan Emma. Gadis itu rupanya sedang ditawan di lantai dua, markas mereka.
Tanpa pikir panjang, Ryan segera menghambur ke lantai dua. Ia masih mengedarkan pandang ke beberapa ruangan yang terbengkalai, namun, ada satu ruangan yang terdengar berisik. Ia segera menuju ke sana dengan langkah yang berderap.
BRAK!
Emma yang sedang dicekoki minuman keras oleh salah seorang preman, terkesiap dan berteriak meminta tolong.
"Ryan? Ryan! Tolong aku!"
Blubup Blubup
Cairan alkohol mendadak tumpah dan gagal diminumkan padanya. Ryan menatap bengis ke arah para preman yang sedang bermain-main dengan Emma dan ingin menikmati tubuhnya.
BRUAK!
BUGHHH!!
BRUAKK!!
Terjadi perkelahian antara tiga orang preman dengan Ryan yang naik pitam. Merasa kalah jumlah, Ryan harus bermain cerdas. Ia lantas menggeret balok kayu yang tergeletak di pojok ruangan, dan....
BRUAAAKKK!!!
Hanya dengan sekali hantam, preman pertama langsung menggelepar.
"Hajar!!!" teriak preman lain yang masih sadar.
__ADS_1
Ryan lantas mengambil ancang-ancang, dan bersiap untuk kembali menyerang. Tendangan kuat melayang ke wajah preman itu dengan sempurna. Ia terjengkang dan menabrak kursi kayu hingga terluka. Preman kedua berhasil ditaklukkan. Preman terakhir, tak ingin kalah saing. Ia juga mengambil balok kayu yang sama seperti kepunyaan Ryan. Mereka berduel dengan seru, tendangan, tinju, dan pukulan, beradu bersahutan. Hingga pada akhirnya.
KRAK!!
Ryan berhasil mematahkan lengan preman ketiga dengan sekali hentak.
"Ryan!! Apa-apaan kamu!!" hardik nyonya Olivia tak percaya, karena Ryan telah melukai para anak buahnya. Padahal, ia sudah menunjukkan lokasi Emma secara baik-baik.
"Emma! Emma! Kamu gak papa?" Ryan menghambur ke arah Emma yang terbatuk akibat paksaan minum alkohol. Wajah Emma memerah dan tampak berantakan. Namun, ia masih bisa merespons pertanyaan dari Ryan. "Aku.. gak papa.... " jawabnya lirih.
Ryan lantas melepaskan ikatan Emma dan tak menghiraukan pertanyaan dari nyonya Olivia. Ia membopong Emma keluar dari ruangan itu kemudian menuruni tangga dengan hati-hati.
"Ryan!!! Ryan!!!" panggil nyonya Olivia sambil mengejarnya, namun, Ryan berhasil keluar dari bangunan tua itu dengan selamat.
"Bos?? Perlu kita kejar?" tanya salah satu pengawalnya dengan bimbang, karena, bosnya dari tadi sangat lembek pada sang penyusup.
Saat ini, penyusup itu sudah membonceng tawanan mereka di atas motornya, dan pergi begitu saja, tanpa meninggalkan sepatah kata.
"Huh! Nggak usah lah! Biarin aja. Aku bakalan buat perhitungan sama bapaknya aja nanti!" gerutu nyonya Olivia lantas masuk ke mobil dan hendak pergi meninggalkan markas. Namun nahas, berondongan peluru mekanik tampak berderap di atas tanah dan membuat nyonya Olivia dan para anak buahnya terkesiap.
"Siapa itu!!!???" tanyanya dengan gugup. Tembakan tadi hanyalah peringatan, si penembak sengaja tak mengenai sasaran apapun dan hanya bermain-main dengan perasaan calon korban.
"Dimana gadis itu?" tanya si penembak yang sudah turun dari bukit seberang.
Nyonya Olivia mengerutkan kening dan memoncongkan bibirnya. Ia menampakkan raut wajah kesal, karena sedari tadi banyak yang mencari seorang gadis, dan bukan janda seperti dirinya.
"Nggak ada!!" jawabnya singkat.
CEKREK!
Sebuah pistol terkokang, dengan bengis menunjuk ke kepala nyonya Olivia. Secara otomatis, para pengawalnya juga melakukan hal yang serupa. Aksi saling ancam pun tak terelakkan, namun, kedudukan si penembak tentu lebih unggul karena berada dalam posisi sejajar dan dapat meledakkan kepala bos mereka kapan saja.
"Ba--baiklah.. Baiklah... Letakkan pistolmu! Dia dia... dibawa anaknya bos RCTV!" jawab nyonya Olivia pasrah. Ia jadi kesal dua kali karena harus berurusan dengan dua pria yang menyebalkan.
Si penembak yang tak lain adalah Askara, menurunkan pistolnya. Ia mengancam akan meledakkan markas mereka dengan granat jika ada yang mengikutinya ataupun menyerang secara tiba-tiba. Askara berjalan mundur, dengan tetap mempertahankan kewaspadaannya. Ia lantas bergegas menuju ke kantor utama RCTV dan mencari keberadaan Emma.
...****************...
...Bersambung...
...****************...
......
__ADS_1