Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 89 Pergi Dengan Tenang


__ADS_3

Drrrttt...


Ponsel Lukas bergetar di atas meja, mencoba membangunkan pemiliknya yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Emma, yang terjaga lebih dulu, mengambil ponsel itu dengan hati-hati, mengecek identitas sang penelpon yang tertera di layar.


"Astaga, ini Nenek," gumam Emma. Ia kemudian mengguncangkan bahu Lukas dengan lembut, mencoba membangunkannya secara perlahan. Emma tidak tega melihat Lukas yang masih sangat pulas tertidur di sebelahnya, namun, apa boleh buat, panggilan dari sang nenek sepertinya cukup mendesak.


"Sayang, bangunlah. Nenek sedang menelepon," ucap Emma dengan suara lembut. Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan mereka telah berjanji untuk mengunjungi nenek di rumaH sakit setelah makan malam. Seharusnya masih ada waktu yang cukup sebelum pertemuan mereka bertiga.


Lukas terbangun dari tidurnya dengan mata yang masih terpejam. Ia merasakan sentuhan lembut Emma yang mengguncangnya, dan mendengar suara lembutnya memanggil-manggil. Dengan perlahan, Lukas membuka matanya dan menyadari bahwa ia harus segera bangun.


"Nenek menelepon?" tanyanya dengan suara yang masih serak, seakan masih terbawa oleh buaian mimpi. Ia meraih ponsel yang ditawarkan Emma, dan melihat nama "Nenek" tertera di layarnya.


Emma mengangguk, mengkonfirmasi bahwa panggilan tersebut memang dari nenek Lukas. Dengan segera, Lukas mengangkat panggilan tersebut.


"Halo?" sapa Lukas dengan sopan.


"Lukas, kemarilah lebih awal, ada sesuatu yang hendak aku bicarakan," ucap Nyonya Han Eun Sook dengan suara yang sedikit bergetar.


"Nenek, apa semua baik-baik saja?" tanya Lukas khawatir, karena, tidak biasanya neneknya bersikap tegang begini. Biasanya mereka sering bertengkar, bercanda, dan melontarkan umpatan-umpatan untuk mencairkan suasana. Sekarang? Nada bicara neneknya seakan serius dan membuat Lukas terheran.


"Kemarilah, Bocah! Nggak usah banyak tanya!" sahut sang nenek kembali pada nada bicara aslinya.


Lukas tersenyum simpul, kemudian memandang Emma dengan ekspresi mengajak bangkit dari ranjang. Emma mengangguk paham, dan segera bersiap.


"Tunggulah, 30 menit lagi kami akan segera sampai," ucap Lukas kemudian menutup teleponnya.


......................


Saat ini, Lukas dan Emma sudah berada di pelataran rumah sakit, dan hanya butuh waktu beberapa menit saja supaya mereka sampai ke kamar VVIP yang ada di lantai 5, lantai paling atas rumah sakit milik mereka.


"Nenek, kami datang," ucap Emma ketika mereka memasuki ruangan sang nenek.

__ADS_1


Emma terkejut karena ada seseorang tak dikenal yang sedang bersama Nyonya Han Eun Sook. Ia kemudian menunduk untuk memberi salam, dan meneruskan langkahnya untuk sampai ke sisi ranjang sang nenek.


"Nyonya Liem?" tanya Lukas yang baru saja sampai, karena harus menemui perawat sejenak. Emma telah pergi lebih dulu, lalu, Lukas menyusul.


"Halo, Lukas. Lama tak berjumpa," ucap Nyonya Liem lembut. Lukas tersenyum simpul.


"Nyonya ini ibunya Ryan Haritama. TE-MAN-MU itu," ujar Lukas memperkenalkan tamu sang nenek, dengan nada tak suka. Ia masih mengingat insiden di hotel kala itu, yang membuatnya harus kehilangan uang trilyunan. Namun, jika diingat-ingat, insiden itu juga yang menjadi pemicu membaiknya hubungan Lukas dengan Emma. Ia juga bisa jujur mengungkapkan masalah impotensi yang dialaminya. Jadi, secara teknis, Ryan juga penyelamat hubungannya.


"Hhh...," Lukas menarik napas dalam. Mencoba melupakan hal yang tidak-tidak. Toh, Ryan juga telah lenyap dari mereka. Lukas dan Emma tidak pernah mengalami masalah apapun, setelah kesalahan-pahaman yang tercipta terakhir kali di hotel tersebut. Memang benar, semua hanya salah paham.


"Sayang!"


Panggilan Emma menyentak Lukas yang tenggelam dalam lamunan. Ia merasa terkejut, kemudian kembali menyadarkan diri dengan situasi saat ini.


"Saya Emma, senang bertemu anda," ucap Emma sambil menyodorkan tangan.


"Saya Liem. Teman nenek kalian," ucap Nyonya Liem dan menerima jabatan tangan Emma.


"Duduklah," ucap Sang Nenek sambil menyandarkan dirinya di kepala ranjang, dibantu oleh perawat yang berjaga di sana.


Nyonya Han Eun Sook pun memulai pengakuan dosanya, didengarkan oleh dua orang lain yang saat ini menjadi orang terpenting dalam hidup mereka.


"Aku telah berdosa kepadamu, Lukas, cucuku. Maafkan aku," ucap Nyonya Han dengan air mata yang menitik perlahan.


DEG!


Lukas tersentak, sambil memandangi neneknya itu dengan tatapan iba.


"Nenek....," panggilnya pelan.


Lukas mendekat, dan memegang kedua tangannya yang telah melemah. Keriput halus telah tampak, dengan urat nadi yang menonjol di sekitar punggung tangan sang nenek. Lukas mengelus tangan neneknya dengan lembut, menyampaikan perasaannya yang tidak mempermasalahkan segala hal terkait masa lalu.

__ADS_1


"Sudahlah, Nek. Tidak perlu seperti ini," ucap Lukas seakan mencegah neneknya untuk mengungkit masa lalu mereka yang kelam. Bagi Lukas, hubungan saat ini sudah cukup membahagiakan mereka. Biarlah bayangan masa lalu ditinggal begitu saja, tanpa perlu diungkit lagi keberadaannya.


"Tidak. Aku harus membahasnya denganmu, agar kepergianku bisa tenang," sergah sang nenek, menolak upaya Lukas untuk menghentikan pembicaraannya.


Setelah bertahun-tahun hidup dengan penyesalan dan penuh rasa bersalah, ia merasa inilah saat yang tepat untuk memohon pengampunan pada cucunya, Lukas.


"Dulu, aku telah melakukan kesalahan yang besar terhadapmu, Lukas. Aku telah membuang ibumu, dan dirimu. Aku tahu tindakanku sangat salah dan kejam. Aku merasa sangat menyesal dan, akhirnya, sekarang, aku memohon pengampunanmu, Cucuku," ucap Nyonya Han dengan suara lirih, seakan kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang ingin ia ungkapkan sebelum ajal menjemputnya.


Air mata mengalir di pipi Lukas saat ia merenungkan kata-kata neneknya. Sesuatu yang dalam dirinya mulai terpecah, antara dendam dan belas kasih. Lukas memang memaafkan sang nenek, dalam ucapan. Namun, jauh di dalam hatinya, bara api dendam tidak padam. Ia tetap menyala, meski tak sehebat pada awal Lukas bertemu neneknya.


Dengan suara lembut yang penuh kehangatan, Lukas akhirnya menjawab dengan suara yang cukup bergetar, "Ne..nek, aku telah lama menyimpan rasa sakit dan kebencian di hatiku. Namun, aku berusaha memaafkanmu. Meski sulit. Aku sudah memaafkanmu, Nek. Aku memaafkanmu."


Mendengar kata-kata itu, Nyonya Han tersenyum dengan lemah. Tangannya terulur, mengelus sedikit rambut sang cucu yang tampak menjuntai dari balik telinganya. Beban yang selama ini dipikul olehnya, seakan mulai terangkat sedikit demi sedikit.


"Terima kasih, Lukas," ucap sang nenek, diiringi pelukan hangat.


Emma dan Nyonya Liem yang turut terharu, ikut memeluknya, seakan, terpanggil secara magis untuk melakukan hal serupa.


Nyonya Han Eun Sook tidak menyangka bahwa di saat-saat terakhirnya, ia akhirnya berhasil menemukan kedamaian dan pengampunan yang selama ini ia cari. Kehadiran Lukas, Emma, dan Nyonya Liem, memberinya kekuatan yang luar biasa. Mereka berempat saling memeluk dengan erat, merasakan kehangatan dan cinta yang memenuhi hati mereka.


"Hhhh.... Hhhh..."


Tiba-tiba saja, napas Nyonya Han semakin melemah.


BRUK!


Tanpa sempat mendapatkan pertolongan darurat, Nyonya Han menutup mata dengan damai, secara tiba-tiba. Meninggalkan Lukas, Emma dan Nyonya Liem dalam keadaan yang sangat terkejut dan penuh kepanikan.


"Ne.. Nenek??!!!"


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...



__ADS_2