Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 83 Keputusan Emma


__ADS_3

Kemarahan Emma bukan tanpa alasan. Lucy tiba-tiba datang, dan duduk manis, saat Emma sudah memesan segelas cappuccino panas dan segelas air mineral.


"Bercerailah dari Lukas. Aku akan menjadi penggantimu," ucapnya secara mendadak, bahkan, tanpa perkenalan diri yang benar.


"Apa kau bilang?" Emma merasa salah mendengar. Bahkan, ia tidak mengenal wanita yang sedang ada di hadapannya saat ini.


"Aku Lucy. Tadi aku meneleponmu. Ini yang mau kubicarakan," tukasnya tanpa perasaan maupun rasa sungkan.


"Berani-beraninya kau mengatakan itu? Bercerai? Kurang ajar!" tegas Emma dengan nada marah, merespons saran perceraian yang tidak pantas dari seorang wanita yang baru saja dikenalnya.


"Bercerai bukanlah hal yang sulit, kan? Kau tidak akan menyesalinya..." sahut Lucy dengan suara dingin, sambil mengelap wajahnya dan menatap Emma dengan pandangan sinis.


Pembicaraan mereka semakin tegang dan penuh amarah. Emma merasa bimbang dengan keteguhan hatinya, apakah, ia benar-benar harus bercerai dari Lukas?


Lucy lantas memperdengarkan rekaman dari informan rahasianya secara lengkap, tentang masa lalu Nyonya Han yang coba disembunyikan dari Sang Cucu tercinta.


Tubuh Emma bergetar hebat. Ia tidak menyangka, bahwa ada rahasia seperti ini di keluarganya.


"Bagaimana aku tahu ini tipuan atau tidak?" Emma menyelidik. Tidak ingin termakan hasutan dari Lucy yang bahkan belum ia konfirmasi identitasnya.


"Perdengarkan saja rekaman ini di dekat Nyonya Han. Dan, nantikan penghentian detak jantungnya yang secara tiba-tiba," tukas Lucy mencoba memenangkan perdebatan.


Emma tidak menyangka bahwa Lucy mengetahui perihal nenek Lukas yang sekarat. Saat ini, Emma harus mengorek informasi lebih dalam, sebelum menampar wajah Lucy yang tampak mengejeknya itu.

__ADS_1


"Apa lagi yang kau ketahui?" tanya Emma menyelidik. Lucy tertawa dengan nada tinggi, dan hampir terjatuh dari kursi tempatnya duduk.


"Dan aku tahu bahwa kau hanyalah pengantin kontrak. Bukan begitu?" tanya Lucy menyerang Emma secara tepat sasaran.


Emma terdiam. Ia tidak menyangka bahwa Lucy seakan memiliki mata-mata dalam kehidupannya. Bagaimana ia bisa tahu hal sedetil itu? Siapakah yang membocorkannya?


......................


Kebocoran informasi ini, didapatkan Lucy secara tak sengaja dari Jaka, ketika ia memelas untuk mendapatkan kelonggaran dana talang yang dipakainya untuk mengembalikan uang milik Lukas Kim. Jaka meminta dana talangan pada Black Venom yang dijalankan oleh Madam Liz. Mafia perempuan itu baru saja membuka perusahaan pembiayaan baru di Indonesia dan dijalankan oleh salah satu kenalan Lucy. Dari sana, ia mendengar kabar menarik tentang Lukas Kim. Jaka memiliki hutang pada pria itu dan malah berani menggelapkan asetnya. Ia tidak punya pilihan selain menggunakan dana talangan yang besar, agar tidak menjadi sasaran empuk Lukas yang sudah naik pitam.


Sebagai penjamin pinjaman, Black Venom, organisasi rentenir yang dijalankan oleh Madam Liz secara remote, menawarkan dana talangan kepada debitur. Syarat utamanya adalah mereka harus datang bersama dengan pasangan. Namun, yang tidak diketahui oleh para debitur adalah adanya klusul yang ditulis secara ruwet dan menggantung, yang mengizinkan Black Venom untuk mengambil paksa pasangan mereka jika debitur tidak dapat melunasi pinjaman dalam jangka waktu yang ditentukan.


Pasangan itulah yang nantinya akan dipasok sebagai wanita penghibur di rumah bordil milik Lucy, di Pulau Perawan. Sindikat gelap ini sudah lama terjadi, sejak Lucy tinggal di Kanada. Namun, pelaksanaan operasi ini, baru dijalankan selama satu tahun ini dan meraup keuntungan yang luar biasa, sebelum Lukas semakin mengembangkan ekspansi wilayah pinjamannya.


Black Venom dan K-Finance bersaing dalam diam untuk merebut hati debitur. Tentu saja K-Finance lebih transparan, berbunga rendah, namun, jangka waktu pelunasannya dekat. Para debitur lebih memilih meminjam ke Black Venom yang memiliki jangka waktu pembayaran sampai 3 tahun, seperti pinjaman bank konvensional.


......................


Emma duduk termenung dalam diam, mencoba mencerna situasi. Ia teringat janji yang dibuatnya pada dokter Lina tentang memberikan kenangan manis di saat terakhir Nyonya Han.


Lucy yang mendapati Emma sedang bimbang, semakin melancarkan hasutannya.


"Aku sudah mempersiapkan skenario perceraian yang mudah. Apa kau mau mendengarkan? Tentu saja, akan kuberi kompensasi yang istimewa!" pekiknya dengan penuh harapan.

__ADS_1


Emma menatapnya dengan pandangan membunuh. Bagaimana bisa wanita ini berani menggoreskan takdir kehidupannya? Namun, Emma memilih untuk tidak tersulut emosi. Ia akan mencoba tabah, dan menelaah informasi ini secara perlahan.


Tatapan Emma berhenti pada cincin yang ada pada jari manisnya. Untuk sesaat, ia mengingat kembali pembicaraannya dengan sang suami, setahun lalu.


..."Bagus! Besok kita tanda tangan kontrak. Hanya setahun, lalu aku akan menceraikanmu. Bayaranmu 500 juta, bagaimana?"...


Bayang-bayang itu menghantui pikirannya. Emma telah bersiap untuk kecupan mesra perayaan hari jadi pernikahan mereka yang pertama, namun, siapa sangka? Hari jadi itu memang ditakdirkan untuk menjadi yang terakhir dalam cerita cintanya.


Mungkin, memang inilah akhir kontrak pernikahan yang sudah ia permainkan sejak awal. Dan, tokoh utama dari cerita ini, memang sudah harus menjalani kehidupan masing-masing, sesuai takdir awal.


"Apakah kau bisa menjamin, bahwa, rahasia ini tidak akan bocor sampai ke telinga Lukas? Aku tidak ingin ia membenci nenek yang sangat dicintainya, di akhir kehidupan Nyonya Han," ucap Emma sendu. Kali ini, ia sudah membulatkan tekad untuk melakukan permintaan Lucy, meski hatinya berat.


"Ya. Tentu saja. Aku akan menyerahkan rekaman ini padamu, dan tentu saja, uang. Memang apa lagi?" tukas Lucy tegas, meski dengan penekanan kata-kata yang menghujam perasaan Emma.


"Baiklah, aku akan pergi. Sebagai gantiny, kau harus merahasiakan hal ini, seumur hidupmu! Atau, aku akan menuntut balas dan menghancurkanmu, seperti yang kau lakukan padaku saat ini," ancam Emma dengan tatapan tajam. Ia mencoba sebaik mungkin menahan air mata yang hendak tumpah. Emma tidak ingin terlihat takut dan lemah, karena, ini adalah senjata terakhirnya dalam memenangkan pertarungan pada sore hari ini.


"Tentu saja. Lucy tidak akan ingkar janji," tegas Lucy dengan tatapan lurus. Meski jahat dan kejam, namun, Lucy adalah wanita dengan integritas tinggi. Ia selalu menepati janjinya.


"Baiklah. Beri aku waktu. Kau akan mengetahui jika aku telah pergi dari kehidupan Lukas," tutur Emma dengan suara pelan. Saat ini, ia telah membawa serta pulpen rekaman yang telah diberikan oleh Lucy. Emma pergi, untuk mengemasi barang-barangnya, dan berpamitan secara rahasia, pada suami tercinta.


"Maafkan aku, Sayang. Kau akan menemukan cinta baru, tapi, kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisi nenek dengan apapun juga. Aku sayang kalian," gumam Emma sambil memandangi foto mereka bertiga pada ponselnya, ketika sedang berkendara bersama ke Sukabumi, tempo hari.


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...



__ADS_2