
Piiip..
Piip..
Piip..
Suara monitor pemantau detak jantung, menggema di ruangan VVIP yang dijaga oleh tiga dokter dan 5 perawat. Seorang wanita tua terkulai lemas tak berdaya, dengan banyak kabel di tubuhnya.
"Eergghhh.... " erangnya lemah.
"Nenek?" ucap Lukas dengan memegang kedua tangan wanita itu dengan gundah.
"Cu...... " sahutnya ingin memanggil 'cucu' namun napasnya tidak sampai bisa meneruskan kalimat yang diinginkannya.
"Iya, Nek. Aku di sini. Nenek, jangan bikin orang kuatir," tutur Lukas lembut. Suatu pemandangan yang tak pernah tampak jika bukan di hadapan neneknya.
"Ni.... Kah..... "
Deg!
Neneknya sudah menagih janji Lukas yang memaksanya untuk daftar kemoterapi, yaitu, sebuah pernikahan.
__ADS_1
Pertukaran kehendak itu terjadi begitu saja, ketika nenek Lukas didiagnosis menderita kanker payudara stadium akhir. Merasa sudah tua dan sudah bisa mati kapan saja, neneknya tak keberatan dan menjalani hidup seperti biasa. Namun, Lukas menolaknya. Ia masih ingin melihat neneknya panjang umur dan hidup lebih lama.
Karena sama-sama keras kepala, Lukas dan neneknya akhirnya saling bertransaksi. Neneknya akan kemo dan Lukas harus menikah. Mereka akan melakukan hal yang tidak mereka sukai. Lukas terpaksa menyetujuinya karena dokter mendesak agar kemo dilakukan secepatnya. Merasa di ujung tanduk, Lukas tak punya pilihan.
Baru saja hendak mengatur pernikahan palsu, rupanya, pengantin bayaran yang baru saja mendapatkan uang muka malah kabur. Lukas baru diberitahu oleh Roy pagi tadi. Lukas terpaksa menikah dengan pengantin palsu karena sebuah kelainan yang dideritanya, dan tak ada yang tahu kecuali Lukas dsn dokternya. Ia kini sibuk mencari cara agar dapat keluar dari situasi yang rumit ini.
"Sudah, Nek. Sudah mau dilangsungkan akadnya," ujar Lukas berbohong.
"Bo.... Hong.... " tuduh neneknya tak percaya. Lukas gigit jari setelah ketahuan mengarang cerita. Ia teringat akan foto Emma yang ada di galeri ponselnya. Lukas memikirkan ide gila itu begitu saja.
"Ini, Nek. Calon pengantinku. Cantik ya?" tuturnya dengan senyuman merekah.
Neneknya yang mendengar penuturan Lukas, kemudian duduk, dan melepas kabel-kabel yang melilit badannya. Ia ingin melihat calon cucu mantu-nya dengan jelas.
Lukas terperangah tak percaya. Siapa yang sedang menipu siapa? Bukankah saat ini, neneknya yang sedang menipu dirinya?
"Nenek? Apa-apaan?" protes Lukss setelah mengetahui tipuan neneknya.
"Dasar, Berandal! Kalo nggak gini, pasti kau nggak segera nikah, Kan? Nenek tau akal bulusmu! Makanya harus diberi pelajaran! Ha... Ha... Ha... " ucap neneknya di atas angin.
Lukas menggeretakkan giginya. Kemudian tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hahh.... Kena deh gue, sial... " gumamnya dengan tawa yang hambar.
"Besok, ajak nenek untuk menemuinya," titahnya.
"Ya, baiklah, Nek," sahut Lukas patuh. Ia lalu pamit dengan alasan pergi untuk menemui Emma dan membuat janji dengannya. Neneknya tersenyum dan mengizinkannya pulang.
Dokter Tian, yang sedari tadi stand-by di luar ruangan, tampak masuk ke kamar dengan gelagat gusar.
"Nyonya.... "
"Aakhh... Dokter... Suntikkan obatnya, Dok!!! Aaakkkkh! "
PIRIPIPIRPIRPIRPIP
Monitor jantung bergerak naik turun dengan drastis, membunyikan suara yang memilukan hati tim medis. Nyonya besar hanya berpura-pura baik-baik saja di depan cucunya, agar ia tak khawatir. Padahal, kondisi nyonya besar memang sangat kritis. Rasa-rasanya, ia tak akan melewati akhir bulan dengan tenang.
Setelah tindakan medis yang mendadak terjadi, kondisi nyonya besar membaik. Wanita tua itu kini dapat tidur dengan tenang, meski dengan badan bengkak dan penuh bekas suntikan. Di dalam mimpinya, nyonya besar bertemu anak dan menantunya sedang melambai-lambai ke arahnya, untuk mengajak jalan-jalan, ke suatu tempat indah dengan banyak taman bunga. Nyonya besar tidur dengan senyuman. Senyuman yang sangat cantik dan terasa tak pernah melawan rasa sakit.
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...