Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 76 Pelarian Berakhir


__ADS_3

Anthony dan Jaka merasa terjebak dan tak berdaya ketika Lukas mencegat mereka dengan sebuah pistol teracung. "Mundur!" perintah Lukas tanpa ampun.


Dengan langkah kaki yang berat akibat rendaman air, ketiganya melangkah, menemui tujuan masing-masing. Lukas bergerak maju dengan senjata yang siap menembak mereka, Anthony dan Jaka, bergerak mundur, merasa terancam dengan kehadiran Lukas yang menghadang di depan.


"Anthony....," panggil Jaka dengan kaki yang gemetar. Anthony tidak menjawab, wajahnya tampak tegang, pikirannya merekam situasi yang di luar kendalinya ini dan mencoba mencari jalan keluar.


"Wah, lihatlah tikus-tikus ini," Lukas menyeringai, sambil terus bergerak maju, di tengah kepungan banjir yang sudah setinggi lututnya.


Kedua narapidana itu mengangkat tangannya dengan gemetar sambil terus berjalan mundur. Mereka tak ingin memicu reaksi lebih buruk dari Lukas. Salah-salah, pelarian mereka berubah menjadi skenario pemakaman, karena Lukas dapat menarik pelatuk pistol itu secara mendadak.


"Tangkap mereka!" perintah Lukas, ketika dua penjaga tampak sudah berdiri di belakang para narapidana.


Tiba-tiba, terdengar suara GREP!


Para penjaga berhasil membekuk kembali Anthony dan Jaka, dan dengan kasar bersiap untuk membawa mereka kembali ke dalam sel tahanan.


Anthony masih mencoba berontak, namun tidak dengan Jaka. Ia merasa, usahanya telah mencapai batas akhirnya. Kekecewaan dan harapan yang musnah, telah memenuhi pikirannya. Jaka limbung, sudah kehabisan tenaga.


"Lepaskan kami!" teriak Anthony pada Lukas, setelah membaca sikap Jaka yang sudah padam semangatnya. Ia masih mendambakan kebebasan dan keluar dari sel tahanan secepatnya, namun, tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Anthony gemetar dalam kebingungan, api dalam hatinya membara, ingin melanjutkan skenario pelariannya, namun, situasi dan kondisi yang ada sangatlah tidak mengizinkan. Air banjir telah merendam kaki hingga ke atas lutut, sehingga membuat ia kesulitan berjalan. Bagaimana mungkin Anthony dapat melarikan diri dalam kondisi seperti ini? Apalagi, Lukas juga sedang mengancam mereka dengan senjata. Jika meneruskan pelarian, artinya, sama dengan memilih untuk bunuh diri di tempat antah-berantah tanpa dapat mengabarkan kematian kepada para kerabat dan sahabat.


"Sudah bosan hidup?" tanya Lukas seakan dapat membaca pikiran Anthony yang sedang berkecamuk. Alih-alih menjawab permintaan Anthony, Lukas malah menyunggingkan senyuman sinis dan melemparkan pertanyaan retoris pada mereka berdua. Lukas sangat kesal karena harus berbasah-basahan seperti ini.


Lukas yang awalnya mengkhawatirkan nasib para narapidana, menjadi berbalik semakin membenci perbuatan mereka. Lukas membaca ada peringatan badai di televisi, sehingga ia berniat untuk mengecek keadaan para tahanan dan dapat mengevakuasi mereka jika keadaan benar-benar darurat.


Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan peringatan badai malam ini. Lukas yang hendak pulang ke mansion, dan ingin segera bergumul dengan Emma, mengurungkan niatnya. Ia berencana untuk mengecek penjara bawah tanah terlebih dahulu, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kantor pusat K-Group dan beristirahat di kediamannya.


Penjara bawah tanah yang dimiliki Lukas memang sudah cukup tua, dan tembok-temboknya tampak rapuh termakan usia. Beberapa kali, terjadi kebocoran akibat saluran drainase kota yang buruk. Air hujan sering tergenang, sehingga mengikis permukaan batuan yang ada di sekitar penjara. Penjara bawah tanah itu tentu saja berdinding dan beratap batuan alami, sehingga, jika air tergenang dalam waktu yang lama, praktis, akan mengikisnya seiring waktu. Lukas tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pemeliharaan karena kondisi penyakitnya yang memburuk, sebelum akhirnya menjadi lebih baik dalam pengobatan Yuki beberapa waktu ini.


Namun, betapa terkejutnya ia, ketika sampai di penjara dan mendapati kedua tahanannya telah melarikan diri. Lukas dengan segera memblokir jalan keluar yang ada di area luar gedung K-Group, dan akhirnya berhasil membekuk mereka, sebelum skenario pelarian para narapidana itu membuahkan hasil.

__ADS_1


Sungguh sial bagi Anthony dan Jaka, padahal rute pelarian mereka tinggal beberapa langkah lagi. Namun, Lukas berhasil mendahului mereka. Ia bahkan menutup katup drainase sehingga mereka tidak dapat berkutik dan kabur dari area gorong-gorong.


"Tuan, tolong lepaskan kami," pinta Jaka dengan suara yang lebih memelas, ketimbang Anthony. Namun, Lukas tetap tak menghiraukannya. Ia tetap mendorong tubuh Jaka dan Anthony agar bergerak maju, mengikuti arus air yang semakin deras.


Dengan langkah gemetar, mereka bergerak sesuai dengan perintah Lukas. Meskipun harus mempercepat langkah agar dapat sampai di pintu besi utama dan menutup katup saluran, supaya air tidak menggenangi area dalam penjara.


GLUDUK.. GLUDUK...


Tiba-tiba, terowongan bergetar. Terjadi keributan di luar sana. Namun, mereka tidak mengetahui apa itu, karena, jika sudah berada dalam gorong-gorong, seluruh sinyal seluler tidak dapat menjangkau mereka. Kabar apapun, pesan, bahkan panggilan telepon, tidak dapat terdeteksi. Lukas benar-benar tidak mengetahui, bahwa, telah terjadi kebocoran tanggul di sekitar aliran sungai Ciliwung.


"Lebih cepat!" perintah Lukas pada para narapidana dan penjaga, kali ini sambil berlari. Air menggenggang semakin tinggi, saat ini, telah mencapai area paha mereka. Meskipun berat, namun, kelima pria itu harus segera menggegas langkah, dan menuju ke pos penjagaan penjara, sehingga dapat terbebas dari rendaman air dan berhasil menyelamatkan diri mereka.


"Cepat!!!"


Lukas masih terus memerintah, namun suaranya tenggelam dalam deru air yang semakin membesar. Langkah mereka semakin berat, karena air terus naik dengan cepat, memenuhi terowongan yang sempit dan mengepung mereka dengan kekuatan yang mengerikan.


"Hosh... Hosh..."


"Tu--an.. Saya sudah tidak kuat," desis Jaka memohon pertolongan Lukas. Pria itu langsung mencengkram kerah baju Jaka, dan menariknya dengan kekuatan yang tersisa. Kali ini, air sudah sampai di pangkal paha, menjadikan ayunan langkah mereka semakin sulit.


"Hosh... Hosh...,"


Suara mereka masih saling bersahutan dengan kekhawatiran yang semakin mencekam. Kegelapan terowongan menjadikan suasana semakin mengerikan. Kelima pria itu berusaha mempercepat langkah mereka agar sampai ke pintu katup air.


"Sedikit lagi!" teriak Lukas, kali ini, pintu air itu sudah mulai tampak di hadapan mereka.


Namun, tiba-tiba saja...


GLUDUK.. GLUDUK...

__ADS_1


Terowongan bergetar kembali. Kali ini, dengan guncangan yang lebih hebat.


"Cepat!" Lukas tetap menggegas langkah. Diiringi langkah kaki pria lain yang sedang bersamanya.


Di tengah kekacauan yang terjadi, Anthony dan Jaka tampak saling pandang. Dengan anggukan dari Anthony, Jaka mencoba untuk lepas dari cengkeraman penjaga yang ada di belakangnya.


"Hiyah!!" Bukannya berlari menuju ke pintu air pos penjagaan, Jaka malah berbalik arah, setelah menyikut rusuk penjaga yang sedang mengunci tangannya. "Auch!" Penjaga itu melepaskan cengkeramannya, dan terjatuh. Jaka berhasil lolos, dan mulai berlari ke arah yang berlawanan.


"Hiyah!" Anthony melakukan hal yang sama, dan kini, keduanya menjauh dari para penjaga dan tentu saja, Lukas.


DOR!


Spontan, Lukas melepaskan tembakannya, mencoba mencegah para tahanan itu untuk membahayakan diri mereka dan berhenti untuk membuatnya semakin kesal.


"Aaaarrgghhh!!" Jaka memekik kesakitan. Timah panas telah berhasil menembus betisnya. Beruntung, Anthony berhasil lolos dari serangan. Bukannya menolong Jaka, ia semakin menggegas langkah dan menjauhi mereka semua.


"Maaf!!" teriaknya tanpa memelankan laju kakinya.


"Thony!!!!" teriak Jaka merasa dikhianati. Ia tidak bisa melanjutkan pelariannya.


Lukas dan kedua penjaga berusaha membekuk kembali mereka berdua, namun nahas, serangan banjir yang mendadak, membuyarkan semua rencana mereka.


BYUUURRRRRRRR........


Dalam hitungan detik, Kelima pria itu hanyut terbawa arus air yang mendadak muncul dari saluran drainase kota. Tanggul yang awalnya hanya bocor, kini telah jebol. Curah hujan yang tinggi, mengamuk di penjuru kota. Saat ini, Lukas, dua penjaga, Anthony dan Jaka, terseret derasnya air yang hendak berlari menuju ke muara akhirnya.


...****************...


...Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2