Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 91 Perseteruan Dua Wanita


__ADS_3

GREP!


Tarikan tangan Lukas mengejutkan Emma. Ia yang masih bersungut-sungut menyahuti Lucy, kali ini terlihat lebih tenang, seperti ular yang telah ditenangkan oleh pawang.


......................


Emma mendengar sebuah teriakan yang memanggilnya, namun, ia tidak begitu memperdulikan, karena masih terfokus pada perkataan hasutan dari Lucy.


"PEMBOHONG!" ejek Lucy sambil menunjuk batang hidung Emma.


"BERANINYA KAU!" teriak Emma tidak mau kalah. Ia bahkan telah mengangkat tangannya untuk mendaratkan sebuah tamparan ke wajah Lucy, jika Lukas tidak menghentikannya dengan cepat.


"Emma??!!" teriak Lukas ketika mengetahui bahwa salah seorang gadis yang sedang memicu kerumunan itu adalah istrinya. Dengan cepat, Lukas berjalan ke arahnya, dan menarik tangan Emma seketika.


"Sudah cukup! Berhenti!" teriak Lukas dengan suara lantang, mencoba untuk menyadarkan Emma yang dikuasai amarah.


"Sssh....." bisik Lukas lembut sambil memeluk istrinya. Emma menghentikan perdebatannya dengan Lucy, dan mencoba untuk kembali tenang.


"Maaf," ucapnya pada Lukas, karena telah menciptakan kegaduhan dan membuatnya malu.


Lukas mengangguk paham, dan mencoba mengerti mengapa istrinya itu sangat sensitif. "Jangan membuat harga dirimu hancur karena dikuasai amarah, mengerti? Istriku adalah wanita yang baik," ucap Lukas dengan lembut, sambil membelai wajah Emma.


Kerumunan orang yang sedari tadi berkumpul, mulai mengungkapkan kekecewaan mereka karena kehilangan tontonan. Lucy, di sisi lain, tampak menghilang di antara tamu-tamu yang telah membubarkan diri.


Lukas dan Emma tampak mencari sosoknya, namun nihil, padahal, Lukas baru saja ingin mengkonfrontasi Lucy perihal perlakuannya selama ini. "Tsk!" Lukas berdecak, namun, tidak ingin memanaskan kembali situasi yang telah terkendali. Ia kemudian mengajak Emma untuk pulang ke mansion dan beristirahat. Mereka sangat membutuhkan rehat dari hari-hari yang melelahkan dan menyedihkan ini.


"Selamat tinggal, Nek," pamit Lukas, kemudian memeluk Emma sambil berjalan perlahan, meninggalkan area pemakaman.


......................

__ADS_1


Emma dan Lukas tertidur di dalam mobil yang disopiri oleh Roy. Tidak sampai satu jam, mereka telah berada kembali di mansion yang tampak sunyi, diiringi oleh rasa kehilangan yang mendalam. Mansion mewah dan megah milik keluarga Kim yang dahulu dipenuhi keceriaan dan kehangatan kini terasa hampa dan kosong tanpa kehadiran sang Nyonya Besar.


"Silakan," ucap Roy sambil membukakan pintu mobil, kepada dua majikannya.


Emma dan Lukas turun perlahan, menuju ke dalam mansion dengan langkah terpaksa. Beberapa keping kenangan menyeruak dan menghentikan ayunan kaki Lukas yang mencoba berjalan kembali ke kediaman.


..."Lukas.. Ini adalah rumahmu. Sekarang, kau aman,"...


Lukas masih mengingat kali pertama ia menginjakkan kaki di mansion keluarga Kim, setelah mengalami kepahitan hidup di gang lokalisasi dengan berbagai macam siksaan fisik dan mental di setiap hari yang ia jalani bersama sang ibunda. Jika saja neneknya tidak datang tepat waktu, niscaya, Lukas tidak akan bisa di sini hari ini. Anak-anak p3lacur yang tidak memiliki ibu, akan dipaksa menggantikan ibunya dalam melayani tamu. Itu adalah hukum prostitusi.


"Sayang...," panggil Emma perlahan.


Lukas menghela napas berat, kemudian, melangkah dengan tegar, memasuki pintu utama, untuk kemudian beristirahat sejenak di kamar mereka.


Emma mengiringi langkah kaki suaminya dengan ritme yang sama, menyimbolkan pendampingan yang ia tawarkan sejak dipinang menjadi istrinya. Emma tidak akan meninggalkan Lukas dalam kesendirian. Mereka memiliki satu sama lain untuk melewati momen berat ini.


Lukas mengangguk, ia paham, namun, hatinya masuh sulit untuk menerima kenyataan.


Saat ini, Lukas dan Emma duduk di ruang tamu yang hening, dihadapkan pada foto-foto kenangan bersama Nyonya Besar yang terpampang di dinding. Kenangan-kenangan itu memenuhi ruangan dengan kebahagiaan dan kehangatan yang pernah mereka rasakan bersama mendiang. Sedih dan kekosongan melanda mereka seiring dengan kehilangan yang begitu besar.


"Mansion ini adalah tempat di mana kenangan dan semangat ketika nenek hidup," ucap Lukas dengan suara serak. "Kita akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin. Bantu aku ya, Sayang," lanjutnya.


Emma tersenyum dan mengangguk dengan perlahan. Ia menggenggam tangan Lukas dengan erat dan hangat. Meskipun kehilangan Nyonya Besar begitu menyakitkan, mereka tahu bahwa dia akan tetap hadir dalam setiap kenangan.


Mansion Lukas masih penuh dengan memori dan cerita-cerita indah bersama Nyonya Besar. Lukas dan Emma berjanji untuk terus merayakan kehidupan dan menjalani setiap hari dengan rasa syukur. Meskipun sedih, mereka akan mengisi mansion dengan cinta, kebahagiaan, dan dedikasi yang sama seperti yang diajarkan oleh nenek mereka.


......................


...[Hains Construction Tower]...

__ADS_1


"Kian! Selidiki pernikahan Lukas dan Emma. Apakah mereka pernah mengadakan konferensi pers?" tanya Lucy, begitu dia tiba di kantornya.


Permainan ejekan yang dimulainya telah berakhir dengan hasil imbang, 1-1. Lucy tidak menyangka bahwa Nyonya K-Group seperti singa kecil yang siap mencabik-cabiknya. Ia membayangkan bahwa Emma akan menuruti setiap perkataannya, namun ia keliru. Ternyata, Emma lebih sering menantangnya dan mengajak bertengkar.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, mereka belum pernah merilis siaran pers resmi terkait pernikahan mereka, Nona Presdir," sahut Kian setelah berselancar di internet dan memenuhi permintaan bosnya. Tidak ditemukan data yang berkaitan dengan pernikAhan Bos K-Group maupun Emma di sana.


Lucy menatap Kian dengan ekspresi tajam, mencoba memikirkan suatu muslihat lain yang bisa dilakukan.


"Apa kau yakin dengan informasi ini, Kian?" tanyanya dengan suara yang penuh antusiasme. "Coba cari lagi! Aku ingin hal ini menjadi jelas. Kalau mereka belum mengungkapkan pernikahan ini ke publik, maka, aku masih memiliki kesempatan," ucap Lucy dengan mata berbinar.


Kian menggelengkan kepala dengan tegas, setelah mendiagnosis seluruh situs internet dengan aplikasi khusus yang diciptakan oleh tim IT mereka dalam menangani isu-isu buruk yang menyangkut perusahaan.


"Saya telah melakukan pencarian menyeluruh, Nona Presdir. Tidak ada catatan mengenai konferensi pers pernikahan mereka. Mungkin mereka lebih memilih menjaga privasi, atau, pernikahan itu dilakukan di luar negri," sahut Kian tanpa keraguan.


"Bagus!" Lucy menemukan celah lain untuk semakin dekat dengan Lukas.


......................


Jam kantor telah lama berakhir, namun, Lucy masih tampak duduk di ruang kerjanya tanpa kenal lelah. Jarinya sibuk menari di atas kibor, dan matanya dengan cermat memindai seluruh artikel yang ditulis tentang K-Group selama hampir satu tahun ini.


Dari situ, Lucy dapat menyimpulkan bahwa, kehidupan pribadi Bos K-Group memang minim eksposur dan terkesan misterius. Hal ini menjadi titik penting dalam menjalankan aksi licik lanjutan yang sedang dipikirkan olehnya.


"Aku sudah bilang kan? Kau akan bertekuk lutut padaku, Lukas. Dan, inilah saatnya," gumam Lucy sambil membelai halus bingkai foto yang disimpannya di laci meja kerja. Dengan keyakinan tinggi, Lucy dapat memprediksi bahwa rencana yang sedang dibuatnya itu akan memicu kejutan dan kontroversi yang besar jika dirilis pada keesokan harinya.


...****************...


...Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2