Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 84 Bercerai?


__ADS_3

Kota Jakarta yang terendam banjir selama beberapa hari, secara ajaib, surut total mulai hari ini. Sebuah ledakan di pusat genangan, mengagetkan warga, namun, sedetik kemudian, mereka sadar bahwa ledakan itu dimaksudkan untuk menyurutkan air yang sedang meluap.


"Horee! Horee! Banjir surut! Banjir surut!"


Suara pekikan kegembiraan menggema di penjuru kota. Mereka benar-benar tidak mengira, bahwa, bencana yang biasanya harus berbulan-bulan dilalui dengan nelangsa. Rendaman banjir benar-benar memberatkan para warga. Pekerjaan mereka terbengkalai, kesehatan mulai menurun, dan, rumah-rumah menjadi rusak. Bantuan pemerintah yang terkadang telat datang, atau bahkan dikorupsi pejabat lokal, makin menyengsarakan nasib para korban. Hal inilah yang menjadi titik fokus Lukas dan timnya dalam membantu memulihkan kondisi mereka.


"Bos, rencana kita sukses. Askara, pamit undur diri," lapor Askara, kepala tim untui misi kali ini melalui sambungan telepon kepada bosnya, Lukas.


"Yah, kerja bagus! Aku sudah melihatnya di berita. Mereka heboh sekali. Kenapa namaku sampai disebut-sebut? Itu sungguh tidak perlu," ucap Lukas sambil melirik ke arah televisi yang sedang menyala di ruang tunggu rumah sakit. Lukas sedang ingin meminum soda, jadi ia keluar sebentar untuk membelinya di mesin penjual otomatis. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sebentar lagi, Emma akan datang, dan, mereka berencana untuk makan bersama.


"Istirahatlah, dan, kabari aku jika ada hal lain yang mendesak," ujar Lukas sambil mematikan ponselnya. Askara menyahut dengan patuh, meski suaranya tampak sedikit parau karena kehabisan tenaga. Sepertinya, ia akan beristirahat untuk waktu yang lama, seperti beruang. Sebelum menerima misi lanjutan.


Setelah menyelesaikan pembelian soda, Lukas tampak menatap lama kearah pintu utama. Jam dinding telah menunjukkan waktu yang tepat, pukul 8 malam. Mengapa istrinya masih belum tampak? Lukas merasa heran. Ia kemudian menelepon Emma, karena sudah tidak tahan dengan rindu yang sedari tadi membelenggu.


"Sayang, kamu dimana?" tanyanya melalui sambungan telepon.


Emma tampak terisak, namun, Lukas tidak yakin apakah istrinya itu sedang menangis atau tidak. "Kamu kenapa? Kok terisak begitu? Sayang? Cepatlah kesini, ayo kita makan bersama," pinta Lukas tak sabar.


"I... Iya, Sayang. Aku segera ke sana," ucap Emma pelan. Ia sebetulnya sudah berada di pelataran rumah sakit. Namun, langkah kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Emma telah memutuskan untuk bercerai dari Lukas. Dan ini adalah makan malam terakhir mereka, sebelum Emma pergi tanpa pamit pada keesokan harinya.


"Sayang....," panggil Emma dengan seutas senyuman. Lukas langsung turun ke lantai dasar, untuk menjemputnya.


Mereka saling berpelukan, sebelum akhirnya, mencari makan di restoran yang tak jauh dari rumah sakit tersebut. Beberapa kali, Emma memandangi wajah Lukas dengan tatapan sendu, yang tidak bisa dideskripsikan. Entah bagaimana, Lukas merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku Emma malam ini.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok melihatku seperti itu? Apa kamu terpesona sama suamimu yang tampan ini?" tanya Lukas merasa tinggi hati.

__ADS_1


Emma mencubit pelan perut suaminya itu dengan manja. Ia merasa senang, dapat bercanda dengan Lukas seperti ini, sebelum menghilang dari kehidupannya, esok hari.


"Setelah makan, ada yang mau aku bicarakan," ucap Emma misterius, tatkala mereka telah sampai di meja, dan bersiap memesan hidangan.


"Ya, tentu saja. Kamu sudah lihat berita hari ini? Aku terkenal banget lho... Rencananya, besok aku akan mengumumkan pernikahan kita. Itu adalah kado anniversary dariku," kata Lukas dengan mata berbinar.


"Eh? Tidak.. Tidak perlu, Sayang. Sudah, biarkan seperti ini aja," tolak Emma. Padahal, ia sendiri yang sering mendesak Lukas untuk mengumumkan pernikahan mereka, namun, Lukas baru sempat memikirkannya sekarang. Seperti saran dari Ryan, lelaki seperti Lukas, kepemilikannya harus ditandai. Jika tidak ingin direbut oleh orang lain.


Lukas semakin curiga dengan perubahan sikap istrinya. Namun, ia akan menanyai lebih jauh ketika mereka telah selesai makan. Lukas tidak, ingin merusak selera makan mereka.


......................


Keesokan harinya, Emma berhasil melancarkan rencananya, kabur dari mansion Lukas, setelah mengelabui penjaga dan para pelayan. Semalam, Emma mengurungkan niat untuk membahas soal perceraian dan rencananya untuk melepaskan diri dari Lukas. Emma baru menyadari sifat Lukas yang dominan dan obsesif, tidak mungkin Emma akan dibiarkan kabur dari jangkauannya.


Emma mengikuti alur pelarian ke Kalimantan, lewat jalur laut. Di sana, konon, banyak transmigran yang membuka lahan, dan mencari penghidupan baru. Emma berencana untuk tinggal dan menetap di sana, sehingga bisa melupakan suami dan kehidupan lamanya di Jakarta. Perjuangan Emma ini, didedikasikan untuk cinta pada Lukas dan sang nenek yang sudah sangat baik merawatnya sebagai bagian dari keluarga Kim.


Di tepi dermaga yang sibuk, Emma tampak berdiri dengan tegang. Matanya fokus menatap kapal-kapal yang berjajar, berharap, menemukan petunjuk yang dapat membawanya untuk sampai ke Pulau Kalimantan. Derasnya deburan ombak dan riuhnya aktivitas di sekitarnya, membuat hati Emma berdebar. Ia tidak, pernah melakukan perjalanan laut sebelumnya. Dalam suasana yang mencekam, Emma hanya berharap, bahwa, ia tidak akan dijahati atau ditipu orang. Penampilan lusuh dan tidak menampakkan jenis kelamin wanita, sepertinya cukup menyelamatkan dirinya. Emma menjadi leluasa bergerak, tanpa takut diikuti oleh orang asing yang berniat jahat padanya.


Teeeettt.....


Sebuah kapal besar baru saja tiba. Suasana dermaga benar-benar penuh hingar bingar. Kali inj, banyak calon penumpang yang berkerumun. Samar-samar, Emma mendengar nama "Kalimantan" diucapkan. Mungkin, kapal besar itu akan bisa membawanya ke Kalimantan.


"Pak, kapal itu mau ke Kalimantan?" tanya Emma pada seorang awak kapal yang kebetulan melintas di depannya.


"Iya, Non. Mau naik? Itu, penjual tiketnya di sana," jawab bapak tersebut ramah.

__ADS_1


Setelah berterimakasih, Emma mengikuti antrean loket yang cukup penuh. Rupanya, banyak orang yang akan pergi ke sana. Emma merasa sedikit lega dan juga gembira.Ternyata, melarikan diri tidak sesulit yang ia kira.


"Terima kasih," ucap Emma ketika telah menerima tiket perjalanannya untuk naik ke Kapal Garantoa. Kapal itulah yang akan mengantarkannya ke kehidupan baru, yang jauh dari suaminya.


Dalam waktu ini, suasana dermaga dipenuhi dengan riuh rendah suara, dengan kapal-kapal yang bersandar dan memuat barang-barang dari berbagai tujuan. Bau asin dari air laut menyegarkan udara, sementara burung-burung camar terbang di langit, menciptakan gambaran dari kehidupan pesisir yang sibuk.


Emma menunggu dengan sabar, hatinya berdebar-debar karena kapal yang akan membawanya ke Kalimantan akan segera berlabuh. Dengan tiket yang sudah ditangan, Emma merasa telah memiliki tujuan dari kegelisahannya ketika memutuskan untuk memulai perceraian.


Perpisahan ini adalah awal kehidupan barunya. Meski sedih dan merana, namun, Emma akan tabah. Ia percaya, Lukas akan menemukan kebahagiaan sejatinya dengan atau tanpa dirinya.


"Kalimantan! Kalimantan!"


Seorang awak berteriak, memanggil calon penumpang, agar segera bersiap. Emma merasa gugup, namun, ia segera mendekat ke arah dermaga 3.


Kakinya dengan cepat melangkah, Emma juga sudah, bisa melihat di kejauhan sebuah siluet besar yang semakin mendekat ke arah mereka. Klakson kapal berdentum, mesin-mesinnya juga terdengar berdengung, awak kapal juga terlihat menarik tali-tali yang hendak digunakan untuk mengamankan berhentinya kapal.


Kapal besar itu akhirnya menepi dengan perlahan di dermaga, hiruk-pikuk aktivitas mempersiapkan keberangkatan pun segera dimulai. Awak kapal sibuk mengamankan tali-tali, memeriksa muatan, dan mengatur rute perjalanan. Para penumpang seperti Emma diajak untuk segera berkumpul di dek. Emma mulai melangkah menuju ke jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dengan kapal besar itu, dibantu oleh salah satu awak kapal. Namun, belum sampai kakinya melangkah naik, seseorang telah menariknya untuk turun dengan segera.


"MAU KEMANA KAMU???!!"


...****************...


...Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2