
Emma pulang dengan tatapan kosong. Ia merasa sangat bodoh dan gagal menjalankan misinya hari ini. "Padahal, aku ingin segera memberitahu Lukas tentang hasilnya," gumam Emma sambil melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk. Mobil yang disopiri Pak Hendro baru saja sampai di mansion, ketika matahari sudah terbenam sepenuhnya. Perjalanan Emma menyusuri kemacetan Jakarta hari ini cukup melelahkan. Emma juga mengalami banyak kejadian yang membuatnya kehilangan fokus, sampai-sampai melupakan janji temu dengan pihak klinik dokter Freddy.
"Sayang, lagi ngelamunin apa?" tanya Lukas tiba-tiba, dari arah pintu utama. Emma yang berjalan sambil tertunduk lesu, tidak menyadari sambutan suaminya. "Luke!" pekiknya gembira. Ia segera menghambur ke arah suaminya dan memeluknya dengan erat. "Aku kangen," ucap Emma perlahan, sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke kemeja Lukas. Ia menangkap penuh aroma tubuh pria matang itu dengan sempurna. Lukas menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Sayang, berhentilah! Ada nenek! Atau kita abaikan saja dia dan pergi ke kamar?" goda Lukas mencoba menyadarkan Emma yang tidak memperhatikan sekitar.
"Ya, teruskan saja. Nenek tidak lihat kok," ucap Nyonya besar dari balik punggung Lukas.
"Ne--nenek! Kapan datang? Kok tidak mengabari dulu," ujar Emma sambil melepaskan pelukannya dari Lukas, kemudian berganti memeluk nyonya besar. "Nenek, aku kangen," ucap Emma mendekap tubuh tua sang nyonya. "Cucuku, nenek juga kangen," sahut nyonya besar membalas pelukannya. Ia merasa senang dan bangga melihat keakraban cucu-cucunya selayaknya pasangan suami-istri yang dimabuk cinta.
"Sayang, kamu gak jadi lembur?" tanya Emma setengah berbisik pada Lukas. "Nggak jadi, Sayang, nenek kan lagi di sini, aku percepat kerjaanku tadi. Kamu nggak senang?" goda Lukas sambil menempelkan bibirnya ke pipi Emma. "Senang dong! Kamu, ah!" jawab Emma sambil mengecup pipi Lukas secara cepat.
"Ayo, kita makan dulu," ajak nyonya besar yang sudah tidak sabar ingin melepaskan rasa lapar. Hidangan nusantara telah tersaji di meja makan dan siap untuk disantap.
"Silakan, Nyonya, Tuan," seru Rosa dan Cici hampir bersamaan. Mereka pun menikmati makan malam dengan bersama dalam suasana yang hangat.
......................
"Jadi, Nek, ceritakan apa keperluan nenek datang kesini," tanya Lukas setelah menyelesaikan hidangannya. Nyonya Besar memandang Lukas dengan tajam, ia bahkan menggebrak meja saking kesalnya.
"B*jingan cilik ini! Nenek datang malah ditanyakan keperluan. Kamu pikir nenek ini klien, apa?" hardik Nyonya Besar pura-pura marah, membuat suasana menjadi tegang. Emma yang tidak mengerti konteks bercanda antara mereka, merasa khawatir. Ia segera meraih tangan nenek mertuanya dengan lembut, berusaha untuk mengendalikan situasi.
"Sabar, Nek. Lukas memang tidak peka. Sayang! Kamu tidak boleh begitu pada nenek. Tidak sopan!" hardik Emma membela sang nenek. Ia berusaha mengalihkan perhatian supaya nyonya besar tidak marah pada sang suami.
Nyonya Besar yang menyadari kekhawatiran Emma, sontak tertawa sampai meneteskan air mata. "Dengar itu, anak nakal! Istrimu saja tahu tabiatmu! Dasar!" gurau neneknya, dengan nada bicara yang kembali normal, menunjukkan bahwa maksudnya hanya bercanda.
__ADS_1
"Emma, jangan membela nenek. Dia sangat jahat padaku!" pinta Lukas setengah berteriak. Sikapnya kembali memperuncing ketegangan di antara mereka.
"Diam kau b*jingan!" sergah neneknya, membalas Lukas dengan kata-kata kasar.
Emma merasa kesal mendengar pertengkaran mereka. Ia juga meminta agar neneknya tidak bicara kasar. "Nenek... Tolong jangan bicara kasar," pinta Emma dengan tegas, berusaha untuk menjaga keharmonisan di antara mereka.
Nyonya Besar terdiam dan tidak berkutik. Ia merasa malu pada Emma. Lukas tersenyum tipis, menyadari bahwa Emma telah berhasil menenangkan neneknya. "Dengarkan Emma, Nek. Jangan bicara kasar," ulangnya dengan nada mengejek.
Kali ini, pertarungan mulut antara Lukas dan neneknya berakhir tanpa pemenang, dan suasana tegang di antara mereka kembali mereda. "Baiklah, kau punya pawang sekarang," lanjut neneknya mengalah. Ia tidak ingin lagi beradu-mulut dengan cucunya.
Emma menghela napas dalam-dalam, seakan baru saja terlepas dari situasi yang menegangkan. Ia dengan cepat mengubah topik pembicaraan.
"Nenek, bagaimana keadaan nenek? Kemo-nya berjalan lancar?" tanya Emma setelah nenek dan suaminya tidak lagi bertengkar.
"Iya, nenek kemarin dari Amerika. Kalian tidak tahu kan? Kalian tidak peduli pada nenek!" tukas Nyonya Besar merajuk.
"Jadi, tujuan nenek kemari adalah... ini!" ucap Nyonya Besar sambil melemparkan koran dari dalam tasnya. "Ini istrinya siapa? Kenapa ada foto orang lain di sana?" hardik neneknya dengan amarah yang kembali muncul.
Lukas dan Emma terkejut melihat foto skandal Emma dan Ryan yang tercetak di tabloid gosip Amerika. Bagaimana bisa? Berita di Indonesia saja tidak sampai ke media cetak dan seakan-akan lenyap begitu saja.
"Ne...nenek, dari mana nenek tahu bahwa itu aku?" tanya Emma terheran, karena wajahnya tidak terlihat di foto tersebut.
"Ini anting siapa? Itu anting yang nenek beri. Cuma ada satu di dunia, karena nenek yang membuatnya sendiri," tutur neneknya sambil menunjukkan titik merah di telinga wanita tersebut dengan penuh perhatian.
"Oh! Astaga!" Emma tidak menyangka bahwa neneknya begitu jeli. Hanya Lukas dan Ryan yang tahu bahwa itu adalah foto Emma. "Maafkan aku, Nek..." ucap Emma malu karena tertangkap basah.
__ADS_1
"Nenek, Emma hanya korban. Aku sudah mengurus paparazi yang tidak bertanggung jawab itu," sergah Lukas, tidak ingin neneknya memandang Emma dengan tatapan buruk.
Melihat respon dari cucunya, hati Nyonya Besar merasa lega. Mereka saling melindungi satu sama lain dan tidak saling menyalahkan. Ini menunjukkan betapa besar cinta mereka. "Baiklah, nenek maafkan. Dengan satu syarat..." ucap Nenek, namun sebelum ia melanjutkan perkataannya, Rosa menyela pembicaraan mereka.
"Tuan, Nyonya, maaf... Ada tamu mendadak di depan," ucapnya.
Emma dan Lukas saling pandang, begitu juga dengan Nyonya Besar. "Tamu kamu, Sayang?" tanya Emma. Lukas menggeleng, ia tidak merasa mengundang siapapun malam ini. Nyonya Besar meminta mereka untuk mengecek tamu tersebut terlebih dahulu sebelum ia melanjutkan pembicaraan. Lebih baik pembicaraan antara mereka dilanjutkan setelah situasi lebih tenang.
Lukas dan Emma segera menuju ke arah tamu yang tidak diundang tersebut. Mereka tiba di ruang tamu dan melihat dokter Freddy telah hadir di sana.
"Loh, dokter? Kok capek-capek kesini. Maaf, saya tadi lupa mau mampir ke klinik. Tadi saya kecopetan," sapa Emma setengah terkejut, melihat kehadiran dokter Freddy di kediaman mereka.
"Selamat malam, Pak, Bu. Maaf saya kesini mendadak," ujar sang dokter dengan sikap formal. Lukas melirik ke arah Emma setelah mendengar bahwa Emma tadi kecopetan. Namun, ia akan menanyakan itu nanti, setelah mereka selesai berbicara dengan dokter Freddy.
"Silakan duduk, Dok. Apa yang bisa kami bantu?" tanya Lukas berbasa-basi. Dokter Freddy terlihat ingin menjawab pertanyaan Lukas dengan cepat, namun suaranya tercekat. Ia kemudian menelan ludah untuk menormalkan pita suaranya. Dalam keheningan yang tidak terlalu lama, dokter Freddy akhirnya bersuara.
"Pak Lukas, kandungan teh herbal yang Bapak minum sangat mematikan, karena mengandung akar beracun Macadonia. Mohon maaf, kami tidak dapat meneruskan pengobatan," tuturnya perlahan, tidak ingin mengejutkan Lukas dan Emma dengan kabar buruk tersebut.
DEG!
Jantung Lukas dan Emma seakan berhenti berdetak. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1
...****************...